NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Gaya hidup sedentari menjadi fenomena yang semakin umum ditemui seiring perubahan pola kerja dan kemajuan teknologi. Perilaku ini merujuk pada aktivitas fisik rendah dengan pengeluaran energi di bawah 1,5 METs, yang biasanya terjadi saat seseorang menghabiskan waktu dengan duduk atau berbaring di luar jam tidur. Kementerian Kesehatan RI mengategorikan kebiasaan tersebut sebagai pola hidup minim gerak yang memicu berbagai gangguan kesehatan jangka panjang.
Ciri utama perilaku ini terlihat dari kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar komputer, televisi, atau ponsel pintar. Penggunaan kendaraan bermotor untuk jarak tempuh dekat serta kurangnya aktivitas berjalan kaki menjadi indikator utama individu yang kurang aktif. Fenomena yang sering disebut sebagai budaya rebahan ini berdampak buruk jika dibiarkan terus-menerus tanpa adanya jeda gerak yang cukup di sela kesibukan harian.
Dampak buruk bagi kesehatan fisik mencakup peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe dua, hingga tekanan darah tinggi. Kurangnya pergerakan tubuh menghambat sirkulasi darah yang memicu gangguan fungsi jantung serta risiko stroke. Selain itu, posisi duduk statis dalam durasi lama berisiko menyebabkan nyeri pada area leher, bahu, serta punggung akibat tekanan berlebih pada tulang belakang yang mengganggu produktivitas.
Sisi kesehatan mental juga terpengaruh karena kurangnya aktivitas fisik berkaitan dengan munculnya gangguan kecemasan dan kelelahan pikiran. Tubuh yang jarang bergerak cenderung mengalami penurunan kualitas tidur dan tingkat kebugaran secara umum. Tanpa adanya dorongan untuk bergerak aktif, sistem metabolisme tubuh akan melambat dan memicu penumpukan lemak jahat yang sulit dihilangkan jika hanya mengandalkan diet tanpa olahraga.
Organisasi Kesehatan Dunia memberikan panduan untuk meminimalkan dampak buruk tersebut dengan melakukan olahraga intensitas sedang selama 150 hingga 300 menit setiap minggu. Langkah praktis lainnya adalah mengambil jeda untuk peregangan otot setiap 20 menit saat bekerja di depan meja kantor. Masyarakat juga disarankan memilih menggunakan tangga daripada lift serta membatasi waktu penggunaan gawai di luar keperluan pekerjaan demi menjaga kebugaran.
Pencegahan penyakit akibat kurang gerak dimulai dari kesadaran untuk mengubah kebiasaan kecil setiap hari. Mengganti moda transportasi dengan jalan kaki atau bersepeda untuk jarak dekat dapat membantu membakar kalori lebih banyak. Konsistensi dalam menjaga pola gerak aktif menjadi kunci utama agar tubuh tetap bugar dan terhindar dari berbagai risiko penyakit kronis yang muncul akibat pola hidup yang terlalu santai.