IMLF 2026 Menghubungkan Bangsa Lewat Literasi di Tengah Peringatan Satu Abad Jam Gadang

Kamis, 4 Jun 2026 01:37
International Minangkabau Literacy Festival ke-4 digelar berbarengan peringatan 100 tahun Jam Gadang dengan partisipasi 37 negara. Istimewa

NARASINETWORK.COM - PADANG, Seabad silam, seorang pekerja bangunan menatap bangunan menara yang baru rampung didirikan di pusat Kota Bukittinggi. Ia barangkali tidak menyangka bahwa alat penunjuk waktu yang dipasangnya akan terus bergerak berpuluh-puluh tahun kemudian, saat dirinya telah lama tiada dan menjadi bagian dari sejarah.

Anak-anak yang belum lahir pada masa itu kini telah tumbuh, menua, dan meninggal dunia. Generasi silih berganti, namun jarum Jam Gadang tetap berputar mengikuti putaran waktu. Dari pemandangan tersebut, Denny JA memahami satu hal bahwa pertarungan sesungguhnya yang dihadapi manusia bukanlah terhadap sesamanya, melainkan terhadap waktu itu sendiri.

Seluruh bentuk peradaban pada hakikatnya merupakan upaya agar ingatan dan jejak keberadaan tidak hilang begitu saja. Piramida didirikan sebagai bukti eksistensi yang melampaui kematian. Naskah dan kitab ditulis agar gagasan penulisnya tetap ada meski masa hidupnya telah berakhir. Monumen dibangun agar kenangan tidak musnah seiring menurunnya kekuatan fisik manusia.

Jam Gadang berdiri dengan makna senada. Bangunan ini bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan pengingat bahwa setiap generasi memiliki peluang untuk meninggalkan jejak yang berumur lebih panjang daripada masa hidupnya sendiri.

International Minangkabau Literacy Festival atau IMLF lahir dari keyakinan sederhana bahwa kemampuan memahami dan mencipta tulisan merupakan jembatan penghubung antarperadaban. Gagasan ini dikembangkan berkat ketekunan Sastri Bakry serta jaringan pegiat literasi Sumatera Barat yang tergabung dalam wadah SatuPena Sumbar.

Dari tahun ke tahun, acara ini berkembang melampaui harapan awal. Denny JA menyampaikan bahwa Denny JA Foundation turut memberikan dukungan atas dasar keyakinan bahwa bangsa yang ingin maju harus membangun lingkungan yang memungkinkan lahirnya berbagai pemikiran sehat.

IMLF bukan sekadar pertemuan antarpenulis. Acara ini menjadi ruang temu tempat budaya, sastra, pendidikan, industri kreatif, dan hubungan antarbangsa bertemu dalam satu wadah. Dimulai dengan partisipasi dari 12 negara pada penyelenggaraan awal, jumlah tersebut meningkat menjadi 37 negara pada tahun ini. Hal itu membuktikan bahwa Minangkabau memiliki daya tarik intelektual yang menjangkau wilayah jauh di luar batas geografisnya.

Penyelenggaraan tahun ini memiliki keistimewaan tersendiri karena berbarengan dengan peringatan satu abad berdirinya Jam Gadang. Menara ini dibangun pada tahun 1926 dan sejak saat itu menjadi penanda identitas Kota Bukittinggi, sekaligus salah satu lambang masyarakat Minangkabau yang paling dikenal luas.

Jam Gadang bukan hanya bangunan fisik. Ia menjadi saksi sejarah yang diam, menyaksikan kekuasaan asing datang dan pergi, perjuangan mencapai kemerdekaan, pergantian generasi, serta perubahan zaman yang terus berjalan.

Wilayah Minangkabau sendiri memiliki rekam sejarah panjang. Dari tanah ini lahir tokoh seperti Mohammad Hatta, Hamka, Sutan Syahrir, Rohana Kudus, dan banyak nama lain. Secara fisik mereka telah tiada, namun pemikiran yang diwariskan masih memengaruhi cara pandang jutaan manusia hingga saat ini. Tokoh-tokoh tersebut membuktikan bahwa kebesaran suatu daerah tidak ditentukan oleh luas wilayahnya, melainkan oleh nilai warisan pemikiran yang dihasilkannya.

Usia seratus tahun adalah masa yang panjang. Tidak banyak hasil karya manusia yang mampu bertahan selama itu dan tetap memiliki tempat di ingatan masyarakat. Oleh sebab itu, perayaan satu abad Jam Gadang bukan sekadar kegiatan mengenang masa lalu. Momen ini menjadi waktu yang tepat untuk merenungkan pertanyaan mengenai warisan apa yang akan dipersiapkan untuk seratus tahun mendatang.

Dalam semangat tersebut, berbagai kegiatan baru disusun. Salah satunya adalah Fun Run Jam Gadang, yang mengajak masyarakat merayakan kondisi tubuh sehat sekaligus mengenang sejarah.

Denny JA juga mengusulkan gerakan penanaman pohon, yang pada awalnya ditetapkan sebanyak 100 batang. Namun, antusiasme dan dukungan luas dari berbagai pihak, termasuk Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Barat, membuat sasaran jumlah itu bertambah hingga menjadi 1.000 batang.

Menurut Denny JA, gerakan ini mengandung makna tersendiri. Beberapa tahun terakhir, Sumatera Barat kerap mengalami kejadian alam yang merusak lingkungan. Kondisi tersebut menjadi pesan tersendiri mengenai hubungan manusia dengan alam. Menanam pohon tidak sekadar tindakan pemulihan ekosistem, melainkan upaya pemulihan suasana hati masyarakat yang terkena dampak musibah.

Merenungkan perjalanan festival yang telah berlangsung selama empat kali penyelenggaraan ini, Denny JA mencatat terdapat tiga hal yang menjadi inspirasi.

Pertama berkaitan dengan tema besar yang diusung, yaitu From Literacy to Legacy. Banyak orang mewariskan kekayaan materi. Sebagian mewariskan jabatan atau kedudukan. Namun, hanya sedikit yang berupaya mewariskan pemikiran. Padahal, sejarah mencatat bahwa hal yang paling lama bertahan bukanlah kekuasaan, melainkan gagasan. Jam Gadang yang berusia seratus tahun mengingatkan bahwa waktu akan menghapus banyak nama, namun belum tentu menghapus nilai yang telah ditanamkan.

Buku yang ditulis hari ini mungkin dibaca oleh generasi yang belum lahir. Tulisan yang disusun saat ini bisa mengubah jalan hidup seseorang dalam puluhan tahun mendatang. Kemampuan memahami dan menghasilkan tulisan, pada akhirnya, menjadi cara manusia memperpanjang keberadaannya melalui gagasan yang diteruskan.

Kedua, kenyataan bahwa hubungan antarbangsa dapat terjalin bukan semata-mata karena kepentingan, melainkan karena budaya. Di tengah suasana zaman yang kerap diisi persaingan ekonomi dan ketegangan hubungan negara, IMLF menghadirkan gambaran berbeda. Peserta dari 37 negara hadir membawa bahasa, tradisi, dan pengalaman hidup beragam. Namun, mereka menemukan satu kesamaan bahwa harapan manusia pada dasarnya tidak jauh berbeda. Semua pihak ingin dihargai, ingin hidup damai, dan ingin meninggalkan sesuatu yang berarti bagi orang lain.

Festival ini membuktikan bahwa sastra dan budaya sering kali mampu membangun hubungan di mana upaya politik belum tentu berhasil. Saat dunia terpecah karena perbedaan jati diri, kegiatan literasi mengingatkan bahwa nilai kemanusiaan berada di atas segala perbedaan tersebut.

Tentu saja, kegiatan ini bukan solusi tunggal. Ia tidak serta-merta menghapus perselisihan atau mengurangi ketimpangan. Namun, kegiatan ini menyediakan ruang berharga di mana perbedaan tidak harus berakhir sebagai pertikaian, melainkan menjadi bahan perbincangan yang saling memperkaya.

Ketiga, pelajaran bahwa ketulusan niat memiliki daya tarik kuat. Hampir seluruh sasaran kegiatan dalam festival ini terlampaui. Penanaman 100 pohon berkembang menjadi 1.000 pohon. Pembacaan karya sastra yang ditetapkan untuk 100 pengarang dunia, diikuti oleh hampir 200 pengarang. Peluncuran 100 judul buku ternyata melampaui jumlah tersebut. Antologi tulisan yang direncanakan dari 100 penyair, berkembang menjadi hampir 150 nama penyair. Pertunjukan busana adat perempuan Minang yang direncanakan untuk 100 peserta, diikuti sekitar 1.700 orang.

Peristiwa ini menurut Denny JA menunjukkan pola sosial yang sering kali terlupakan. Ketika sebuah gagasan lahir dari ketulusan, ia akan menarik dukungan yang tidak bisa dipaksakan oleh kekuasaan. Warisan terbesar tidak dibangun atas dasar perintah, melainkan lahir dari dorongan semangat yang mengajak banyak orang bergerak bersama.

Salah satu pengalaman berkesan bagi Denny JA adalah menyaksikan bagaimana sebuah gagasan sederhana dapat tumbuh menjadi gerakan luas. Saat puisi esai mulai dikembangkan, banyak yang menilai itu sekadar percobaan yang tidak akan bertahan lama. Namun, bertahun-tahun kemudian, bentuk tulisan itu dikembangkan di berbagai daerah, diajarkan di lembaga pendidikan, dijadikan bahan perlombaan, hingga menjadi sarana penyampaian pandangan sosial.

Dari pengalaman itu, Denny JA memahami bahwa warisan terbesar tidak selalu lahir dari proyek berskala besar. Ia kerap kali lahir dari gagasan yang dikerjakan secara konsisten.

Oleh sebab itu, Denny JA memiliki pandangan senada dengan semangat IMLF. Festival ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bentuk penanaman nilai bagi peradaban mendatang. Sebuah upaya nyata untuk memastikan bahwa generasi penerus masih memiliki ruang untuk membaca, berpikir, berdialog, dan memiliki cita-cita.

Apa yang disaksikan Denny JA di Bukittinggi sejatinya telah lama menjadi bahasan para pengkaji budaya. Dua pandangan dari tokoh berikut membantu memahami mengapa acara seperti IMLF bukan sekadar perayaan, melainkan penggerak peradaban.

Dalam buku berjudul The Rise of the Creative Class yang ditulis Richard Florida pada tahun 2002, dijelaskan bahwa kemajuan suatu kota atau bangsa tidak lagi hanya ditentukan oleh kekayaan alam atau jumlah modal uang, melainkan oleh kemampuan menyediakan ruang bagi orang-orang untuk berkreasi. Wilayah yang berhasil menarik penulis, seniman, ilmuwan, dan penemu umumnya mengalami pertumbuhan ekonomi serta peningkatan kualitas hidup yang lebih baik.

Festival budaya memegang peran penting karena membangun lingkungan tempat satu gagasan bertemu dengan gagasan lain. Dalam konteks IMLF, Bukittinggi bukan sekadar lokasi penyelenggaraan, melainkan menjadi ruang kreatif yang mempertemukan berbagai bangsa melalui sastra dan budaya. Acara yang diadakan berulang setiap tahun membentuk ingatan bersama, ciri khas kota, serta jaringan hubungan sosial yang terus berkembang. Warisan budaya akhirnya menjadi kekayaan ekonomi sekaligus kekayaan nilai peradaban.

Sementara itu, dalam buku The Uses of Heritage karya Laurajane Smith yang terbit tahun 2006, dikemukakan pandangan yang menyanggah anggapan bahwa warisan budaya hanya sebatas bangunan tua atau benda kuno. Menurut pandangan tersebut, warisan sejatinya merupakan proses sosial yang terus hidup melalui kegiatan, kisah, dan keterlibatan masyarakat.

Sebuah festival budaya menjadi penting karena memungkinkan masyarakat membentuk makna bersama mengenai jati diri mereka, serta apa yang ingin diteruskan kepada generasi mendatang. Dalam pandangan ini, Jam Gadang bukan sekadar bangunan berusia seratus tahun. Ia menjadi lambang yang terus diberi makna baru oleh masyarakat yang merayakannya.

IMLF menjaga keberlangsungan warisan tersebut melalui diskusi, pembacaan karya, penerbitan buku, pertunjukan seni, hingga kegiatan lingkungan. Warisan yang tidak dirayakan akan berhenti menjadi benda sejarah yang diam. Warisan yang dirayakan akan tetap hidup sebagai bagian dari jati diri masyarakat.

Pada akhirnya, perayaan 100 tahun Jam Gadang mengajarkan satu hal sederhana namun berharga menurut pandangan Denny JA. Manusia tidak mampu menghentikan waktu, namun manusia dapat meninggalkan sesuatu yang membuat masa hidupnya memiliki makna.

IMLF mengajak untuk terus menulis, menanam, berdialog, dan berkarya agar keberadaan tidak berhenti saat masa hidup berakhir. Dari kegiatan literasi lahir kesadaran. Dari kesadaran lahir tindakan nyata. Dari tindakan itu lahir warisan. Dan melalui warisan itulah, manusia menemukan cara terbaik untuk menempuh perjalanan melawan waktu.

Saat melihat peserta dari 37 negara berkumpul di Bukittinggi, Denny JA menilai tampak gambaran yang lebih besar daripada sekadar sebuah festival. Di hadapan Jam Gadang yang berusia seabad, manusia dari berbagai bangsa hadir dengan bahasa berbeda, namun membawa keinginan serupa mengenai bagaimana membuat hidup yang singkat ini meninggalkan arti panjang. Di titik itulah, literasi berubah menjadi warisan.

Namun, tantangan terbesar ke depan menurut Denny JA bukanlah merayakan masa lalu, melainkan menjaga konsistensi agar acara ini tidak hanya menjadi seremonial tahunan yang kehilangan daya dorong pemikirannya. Keberadaan seseorang tidak diukur sekadar selama usia hidupnya, melainkan selama gagasan baik yang terus ada setelah ia tiada.

Berita Terkini