NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta menjalankan pemeliharaan fisik secara berkala terhadap Monumen Makam Mayor Jenderal Johan Jacob Perie di Museum Taman Prasasti, Jalan Tanah Abang I Nomor 1, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat. Upaya pelestarian ini difokuskan pada tugu berbahan perunggu peninggalan abad ke-19 guna mengantisipasi kerusakan akibat paparan cuaca luar ruangan. Struktur tersebut berdiri di area terbuka yang dahulu merupakan kawasan Pemakaman Kebon Jahe Kober.
Prosedur pembersihan teknis dilakukan oleh petugas konservasi menggunakan sikat khusus berbulu halus untuk mengangkat partikel debu, jamur, serta kotoran mikro. Penggunaan alat tersebut dipilih agar tidak menimbulkan goresan pada permukaan logam tua. Tim perawat cagar budaya juga menghindari pemakaian cairan kimia asam keras untuk mencegah kerusakan pada struktur asli nisan kolonial tersebut.
Pihak pengelola memilih untuk mempertahankan lapisan patina, yaitu lapisan alami berwarna hijau hasil proses oksidasi tembaga yang menyelimuti seluruh badan objek. Lapisan ini berfungsi sebagai pelindung interior perunggu dari laju pengeroposan akibat faktor kelembapan udara. Sebagai langkah perlindungan tambahan, aplikasi pelapis lilin khusus diterapkan guna menahan rembesan air hujan.
Berdasarkan catatan arsip militer Hindia Belanda, Mayor Jenderal Johan Jacob Perie merupakan perwira tinggi yang memegang peran dalam sistem pertahanan kolonial di Nusantara. Tokoh militer tersebut tercatat sebagai Komandan Pertama Divisi Militer Besar atau 1 Groote Militaire Afdeeling di Pulau Jawa. Jabatan ini membuatnya bertanggung jawab atas mobilisasi pasukan serta keamanan teritorial wilayah pusat pemerintahan.
Sepanjang masa dinasnya, Perie memimpin resimen kavaleri Hussar ke-7 yang terlibat dalam operasi pengawalan pergerakan militer. Pasukan komandonya dikerahkan selama periode perang di Jawa pada rentang tahun 1826 sampai 1830. Rekam jejak kepemimpinan lapangan tersebut membuat namanya tercatat dalam lembar sejarah militer kolonial.
Atas keterlibatan dalam operasi militer tersebut, Pemerintah Kerajaan Belanda menganugerahi penghargaan ksatria kelas empat Militaire Willems-Orde. Tanda kehormatan itu diberikan sebagai bentuk pengakuan resmi dari pihak kerajaan. Selain itu, sang perwira menerima penghargaan Order of the Lion Belanda sebelum akhirnya wafat dan dikuburkan di Batavia.
Secara arsitektur, monumen makam perwira militer Belanda ini dirancang menyerupai bangunan katedral mini dengan langgam gotik Eropa. Struktur logam hijau pekat ini bertumpu pada pondasi batu alam bersegi delapan yang kokoh di atas tanah. Penataan fisik serta penelusuran latar belakang sejarah terus dijalankan oleh unit pelaksana teknis daerah untuk menjaga otentisitas aset cagar budaya tersebut.