Kepemimpinan Sastri Bakry Berhasil Wujudkan IMLF-4 Sesuai Target yang Ditetapkan

Selasa, 9 Jun 2026 06:04
Sastri Bakry (Kiri) memimpin penyelenggaraan IMLF-4 di Bukittinggi yang bertepatan dengan peringatan 100 tahun Jam Gadang. Acara menghadirkan delegasi dari 37 negara, menjalin kerja sama dengan universitas, dan menerbitkan sampul peringatan. IMLF 4

NARASINETWORK.COMBUKITTINGGI, Wajahnya tak terlihat letih karena menghadirkan senyum di balik sosok kharismatiknya, energinya seakan tidak pernah habis. Dr. Hj. Sastri Yunizarti Bakry, M.Si., Akt. merupakan seorang pensiunan birokrat pemerintahan pusat, penulis, serta penggerak seni kebudayaan asal Sumatra Barat. Ia lahir di Kota Pariaman pada tanggal 20 Juni 1958. Latar belakang keluarganya berasal dari kalangan militer, dengan ayah bernama Kolonel Purnawirawan Zaidin Bakry dan ibu bernama Fatimah Noer.

Riwayat pendidikan formal ditempuh melalui jalur sekolah umum hingga jenjang perguruan tinggi di Kota Padang. Setelah menyelesaikan sekolah menengah atas di SMA Don Bosco, ia melanjutkan studi sarjana ekonomi jurusan akuntansi di Universitas Andalas. Pada kampus yang sama, program magister sains bidang pembangunan wilayah pedesaan berhasil diselesaikan sebelum akhirnya meraih gelar doktor dan sertifikasi akuntan.
Karier di lingkungan dinas pemerintahan nasional diisi dengan menempati berbagai posisi strategis di Jakarta. Ia pernah menjabat sebagai Inspektur Khusus pada Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia sejak akhir tahun 2012. Jabatan terakhir yang dipangku sebelum masa purnatugas adalah Widyaiswara Ahli Utama di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia kementerian tersebut.
Aktivitas kepenulisan telah dimulainya sejak usia remaja saat duduk di bangku sekolah menengah pertama. Beberapa karya fiksi prosa yang pernah diterbitkan antara lain novel berjudul Kekuatan Cinta serta Sedikit di Atas Cinta. Selain itu, kumpulan karya puisi miliknya yang berjudul Kebenaran Tanpa Rasa Takut telah dialihbahasakan ke beberapa bahasa asing seperti Inggris, Rusia, Tamil, dan Turki.
Di bidang organisasi kemasyarakatan, ia memimpin lembaga kebudayaan lokal maupun lembaga kemitraan antarnegara. Jabatan yang dipegang saat ini meliputi Ketua Umum SatuPena Provinsi Sumatra Barat serta Wakil Presiden Dunia Melayu Dunia Islam. Ia juga mendirikan yayasan Sumbar Talenta Indonesia yang berfokus pada pelatihan kesenian bagi generasi muda di daerah.
Inisiasi kegiatan berskala besar diwujudkan melalui perhelatan International Minangkabau Literacy Festival yang mendatangkan delegasi mancanegara. Kiprah tersebut membuatnya menerima penghargaan Anugerah Srikandi Tun Fatimah dari Malaysia pada tahun 2008. Penghargaan serupa kembali diperoleh dari komunitas sastra regional melalui gelar Srikandi Numera Malaysia pada tahun 2016.
Ketua Pelaksana International Minangkabau Literacy Festival ke-4, Sastri Bakry, memimpin jalannya seluruh rangkaian kegiatan yang diselenggarakan di Kota Bukittinggi. Penyelenggaraan acara berskala internasional ini berlangsung bersamaan dengan peringatan satu abad Jam Gadang sebagai ikon daerah. Kehadirannya berperan menjamin setiap agenda berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Sastri Bakry mengatur hubungan kerja antar berbagai pihak guna memastikan keberhasilan festival. Tim pelaksana menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Bukittinggi, perguruan tinggi, komunitas penulis, tenaga sukarela, serta lembaga pers. Kesepakatan tersebut bertujuan menyamakan langkah dalam pelaksanaan di lapangan dan pengaturan jadwal yang padat.

Melalui hubungan yang terjalin di bidang kebudayaan, ia berhasil mengundang perwakilan dari 37 negara untuk hadir di Sumatera Barat. Kehadiran peserta dari luar negeri menempatkan Bukittinggi sebagai tempat pertemuan antar pemerhati sastra. Kegiatan ini juga menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya setempat kepada masyarakat dunia secara langsung.

Selain mengurus hal teknis pelaksanaan, Sastri Bakry memperluas lingkup acara melalui bidang pendidikan. Hal ini diwujudkan dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara panitia dan Universitas Mohammad Natsir. Kesepakatan tersebut disusun untuk memperkuat hubungan kerja di bidang pendidikan dan literasi budaya setelah acara selesai.

Sebagai bagian dari pencatatan sejarah, ia bersama perwakilan negara sahabat menandatangani sampul peringatan khusus. Produk tersebut diterbitkan sebagai tanda tercatatnya peristiwa festival literasi dan peringatan usia seratus tahun Jam Gadang. Prosesi tersebut disaksikan oleh pejabat daerah dan tamu dari luar negeri yang hadir.

Seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pembacaan karya sastra oleh banyak penyair, diskusi budaya, hingga pameran busana adat, berjalan hingga selesai. Kepemimpinan yang dijalankan dinilai mampu memenuhi jumlah peserta yang ditetapkan sejak perencanaan. Keberhasilan pelaksanaan acara ini memperkuat kedudukan Sumatera Barat sebagai tujuan kunjungan sejarah yang berlandaskan kegiatan masyarakat.

Berita Terkini