Dewi Sri Dari Kisah Padi, Tradisi Agraris, hingga Ragam Seni Nusantara

Kamis, 23 Jul 2026 15:24
Dewi Sri merupakan simbol budaya Nusantara yang menggambarkan hubungan antara manusia, padi, dan kehidupan agraris. Kisahnya berkembang melalui tradisi, tari, musik, dan berbagai karya seni. Nana Wiyono

NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Siapa Dewi Sri dalam kebudayaan Nusantara, apa kaitannya dengan padi dan kehidupan masyarakat agraris, di mana kisahnya berkembang di berbagai wilayah Indonesia, kapan penghormatan terhadap padi mulai muncul melalui tradisi masyarakat, mengapa sosok ini terus diwariskan, dan bagaimana cerita tersebut hadir melalui tari, musik, serta karya seni? Pertanyaan-pertanyaan itu memperlihatkan bahwa Dewi Sri bukan sekadar tokoh dalam cerita rakyat, melainkan bagian dari perjalanan budaya yang menghubungkan pangan, pengetahuan pertanian, dan ekspresi seni masyarakat Nusantara.

"Dewi Sri bukan sekadar tokoh mitologi, melainkan simbol perjalanan panjang masyarakat Nusantara dalam menghargai pangan dan kehidupan."

Sebelum beras menjadi makanan utama, masyarakat di kepulauan Indonesia telah memanfaatkan berbagai sumber pangan seperti singkong, ubi jalar, talas, jewawut, serta tanaman umbi lainnya. Padi bukan tanaman asli Nusantara. Tanaman ini diperkirakan berasal dari kawasan Asia dan masuk melalui jalur perdagangan sekitar 1.500 SM. Kehadiran padi kemudian mengalami proses panjang hingga menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Jejak keberadaan padi terlihat melalui sejumlah temuan sejarah. Relief pertanian sawah dan gangguan hama tikus pada Candi Borobudur dari abad ke-9 Masehi menunjukkan adanya aktivitas pertanian pada masa tersebut. Bukti lain ditemukan pada situs bata Candi Batujaya di Karawang yang memuat jejak sekam padi dari abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi. Temuan di kawasan Goa Maros, Sulawesi Selatan, juga memperlihatkan penggunaan tanaman pangan sejak masa lampau.

Setelah kemerdekaan Indonesia, posisi beras semakin kuat sebagai makanan pokok masyarakat. Program pembangunan pertanian melalui Rencana Pembangunan Lima Tahun pada periode 1969–1974 mendorong peningkatan produksi padi. Kebijakan tersebut turut membentuk kebiasaan konsumsi nasi di berbagai daerah.

Padi kemudian tidak hanya dipahami sebagai hasil pertanian, tetapi juga hadir sebagai bagian dari kebudayaan. Masyarakat Nusantara menyimpan cerita tentang hubungan manusia dengan tanaman pangan melalui berbagai legenda dan upacara adat. Salah satu tokoh yang paling dikenal adalah Dewi Sri.

Dalam tradisi Jawa, Dewi Sri dikenal sebagai Dewi Padi yang berkaitan dengan kesuburan dan hasil pertanian. Masyarakat Sunda mengenal tokoh serupa melalui kisah Nyi Pohaci Sanghyang Asri, sedangkan masyarakat Bugis memiliki cerita Sangiang Serri. Perbedaan nama menunjukkan bahwa penghormatan terhadap padi memiliki tempat di berbagai wilayah dengan ciri budaya masing-masing.

Kisah Dewi Sri berkembang melalui seni pertunjukan. Tari tradisional sering menggambarkan kegiatan pertanian seperti menanam, merawat tanaman, dan memanen. Gerakan tari tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi cara masyarakat menyampaikan cerita tentang kehidupan petani dan hubungan mereka dengan lingkungan sekitar.

Beberapa daerah memiliki pertunjukan yang berkaitan dengan masa panen atau acara syukuran pertanian. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat menyampaikan rasa penghargaan terhadap hasil bumi sekaligus menjaga tradisi yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Musik tradisional juga menjadi bagian dari penyampaian cerita mengenai padi. Berbagai alat musik daerah seperti gamelan dan angklung digunakan dalam pertunjukan adat yang berkaitan dengan kehidupan agraris. Bunyi musik tersebut mengiringi kegiatan budaya yang membawa pesan tentang pertanian dan kehidupan masyarakat.

Hubungan antara padi dan seni memperlihatkan bahwa kegiatan bercocok tanam turut memengaruhi perkembangan budaya Nusantara. Sawah tidak hanya menjadi ruang produksi pangan, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi berbagai karya seni yang berkembang di masyarakat.

Selain melalui seni, pengetahuan pertanian masyarakat terdahulu tercermin melalui Pranata Mangsa di Jawa. Sistem perhitungan musim ini membantu petani menentukan waktu bercocok tanam berdasarkan perubahan cuaca dan kondisi alam. Pengetahuan tersebut menunjukkan kemampuan masyarakat membaca lingkungan untuk mendukung kegiatan pertanian.

Penghormatan terhadap tokoh yang berkaitan dengan hasil pertanian juga ditemukan di beberapa negara Asia. Thailand mengenal Phosop, Jepang memiliki Inari, sedangkan beberapa wilayah Asia Tenggara memiliki cerita tentang tokoh pelindung tanaman dan kemakmuran.

Perubahan zaman membuat cara bertani mengalami perkembangan. Namun, kisah Dewi Sri tetap hadir melalui karya seni masa kini. Seniman mengangkat tema padi melalui tari, musik, seni rupa, busana, dan kerajinan sebagai bentuk pengenalan budaya kepada masyarakat.

Festival Payung Indonesia XIII tahun 2026 dengan tema “Catra Padi” menjadi salah satu ruang yang mengangkat perjalanan padi melalui karya kreatif. Kegiatan tersebut melibatkan artisan, seniman, dan komunitas kreatif untuk menerjemahkan tema padi ke berbagai bentuk ekspresi seni.

Dewi Sri menunjukkan bahwa pangan dan budaya memiliki hubungan yang panjang. Padi tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan makan, tetapi juga menyimpan cerita tentang pengetahuan masyarakat, tradisi, dan perkembangan seni. Melalui berbagai karya budaya, kisah tentang padi tetap dapat dikenal oleh generasi berikutnya.

Bagi masyarakat Nusantara, padi merupakan bagian dari perjalanan sejarah yang melibatkan pertanian, cerita rakyat, serta seni tradisi. Dewi Sri menjadi salah satu simbol yang mengingatkan bahwa makanan pokok juga memiliki nilai budaya yang tumbuh bersama kehidupan masyarakat.

Berita Terkini