NARASINETWORK.COM - Dhe Sundayana Perbangsa telah terjun ke dunia layanan rig sumur minyak dan gas sejak tahun 2014, dengan proyek pertama di kawasan laut Kepulauan Seribu yang menjadi tonggak awal dalam perjalanan karirnya yang penuh tantangan. Sebagian besar pekerja di industri migas berstatus kontrak, di mana fleksibilitas dan kemampuan menjadi kunci untuk bersaing, serta harus memiliki minimal tiga sertifikat kompetensi resmi. Area kerja mencakup lokasi darat dan laut lepas, masing-masing dengan karakteristik dan tantangan sendiri.
Dalam pekerjaannya, ia sering menghadapi risiko seperti paparan minyak mentah yang panas dan ancaman gas yang tidak terlihat dengan mata, hanya dapat dikenali melalui penciuman. Gas menjadi bahaya terbesar yang harus diwaspadai setiap hari selama jam kerja yang mencapai 12 jam. Para pekerja selalu menggunakan alat deteksi gas sebagai perlengkapan wajib dan terus memantau arah angin untuk menghindari bahaya yang dapat membahayakan nyawa seluruh tim.
Saat ini ia bekerja di ladang tambang minyak lepas pantai dekat Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Di lokasi tersebut, ia dan rekan kerja harus menghadapi kondisi cuaca ekstrem seperti angin kencang dan badai yang sering muncul pada akhir dan awal tahun, terutama bagi mereka yang menjalankan shift malam hari. Jika bekerja di ladang dalam hutan, tantangannya akan berbeda dengan fokus pada aksesibilitas dan kondisi alam sekitar.
"Industri migas menyimpan banyak cerita perjuangan di balik setiap sumur yang dioperasikan. Pekerjaan ini membutuhkan komitmen tinggi dan kesediaan untuk menghadapi tantangan, namun setiap pengalaman yang saya lewati baik suka maupun duka, bukan hanya menjadi tanggung jawab bagi keluarga, tetapi juga sumber inspirasi yang menghidupkan karya sastra saya. Jangan ragu untuk mengembangkan minat dan bakat lain di luar pekerjaan utama, karena dari sana kita bisa melihat setiap perjuangan yang kita jalani."
(Dhe Sundayana Perbangsa – Pekerja Rig Servis Sumur Minyak & Gas, Penulis & Penyair)
Membuka segmen Wawancara tokoh di Januari 2026, Narasinetwork.com berkesempatan untuk berbincang dengan Kang Sundayana, demikian ia biasa dipanggil, berikut wawancara petikan wawancara kami :
NN : Sampurasun Kang Sundayana, sejak kapan kang Sundayana mulai terjun ke dunia layanan rig sumur minyak dan gas, dan bagaimana pengalaman pertama di bidang ini?
J : Rampes ...
Saya mulai bekerja di bidang rig servis sumur minyak dan gas sejak tahun 2014. Proyek pertama saya berlangsung di kawasan laut wilayah Kepulauan Seribu, yang menjadi tonggak awal dalam perjalanan karir saya yang penuh tantangan. Pengalaman pertama di lokasi terpencil tersebut memberikan pemahaman awal tentang pekerjaan yang akan saya jalankan selanjutnya.
NN : Bagaimana sistem kerja di industri migas umumnya berjalan, terutama terkait status pekerja dan persyaratan yang harus dipenuhi?
J : Pada umumnya, pekerja rig servis migas bukan merupakan karyawan tetap, melainkan pekerja dengan status kontrak (freelance) yang dapat berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Sistem kerja ini menjadi ciri khas di industri migas, di mana fleksibilitas dan kemampuan menjadi faktor utama untuk tetap bersaing.
Setiap pekerja migas harus memiliki kompetensi dan sertifikasi resmi; minimal tiga sertifikat kompetensi menjadi syarat utama untuk dapat bekerja di bidang ini.
Area kerja migas mencakup lokasi darat (onshore) dan laut lepas (offshore), masing-masing dengan karakteristik dan tantangan tersendiri.
NN : Apa saja risiko utama yang dihadapi dalam pekerjaan rig servis sumur minyak dan gas, dan bagaimana cara Kang Sundayana menghadapinya?
J : Mandi minyak mentah saat mengerjakan sumur minyak adalah hal yang kerap terjadi dan menjadi bagian dari risiko pekerjaan. Meskipun minyak yang menyembur dari dalam lubang sumur memiliki suhu yang cukup tinggi, hal tersebut sudah dianggap biasa bagi kami yang bekerja di lapangan. Namun, di samping risiko dari minyak, para pekerja juga harus selalu waspada terhadap bahaya gas yang tidak terlihat dengan mata, hanya dapat dikenali melalui penciuman. Gas inilah yang menjadi ancaman paling berbahaya dalam pekerjaan kami.
Selama bekerja selama 12 jam setiap hari, kami harus tetap waspada dan fokus penuh perhatian. Arah angin selalu menjadi hal yang kami pantau secara cermat, karena gas dapat mencapai area kerja dan tercium dalam waktu tiga menit saja, yang dapat membahayakan nyawa seluruh tim. Alat deteksi gas selalu dipasang di bagian dada pakaian kerja kami, menjadi perlengkapan wajib yang tidak pernah ditinggalkan.
NN : Bagaimana Kang Sundayana melihat suka dan duka yang ada dalam pekerjaan ini, dan apakah hal tersebut memiliki hubungan dengan aktivitas di dunia sastra?
J : Menurut saya, suka dan duka dalam pekerjaan ini merupakan anugerah dari perjuangan hidup untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, lebih-lebih sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kehidupan keluarga. Bagi saya, suka duka tersebut memiliki keindahan dan sisi puitis yang patut dihargai. Setiap tantangan yang dihadapi dan keberhasilan yang diraih menjadi bagian dari cerita hidup yang kaya makna. Pengalaman tersebut kemudian menjadi sumber inspirasi bagi karya sastra saya, baik dalam bentuk puisi maupun tulisan lainnya.
NN : Saat ini Kang Sundayana bekerja di ladang tambang minyak lepas pantai dekat Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Apa saja tantangan yang dihadapi di lokasi tersebut, dan bagaimana menjaga semangat kerja?
J : Di tengah laut lepas, angin selalu bertiup kencang baik siang maupun malam. Apalagi pada bulan akhir tahun hingga dua sampai tiga bulan awal tahun seperti sekarang, badai angin dan hujan sering muncul secara tiba-tiba. Angin dan hujan tersebut sangat menusuk hingga ke tulang, terutama bagi pekerja yang menjalankan shift di malam hari. Meskipun demikian, kami harus tetap menjaga semangat dan menghadapinya dengan sikap yang positif.
Risiko yang dihadapi akan berbeda jika bekerja di ladang minyak yang berada di dalam hutan—banyak hal yang perlu diperhatikan mulai dari aksesibilitas hingga kondisi alam sekitar. Namun prinsip menjaga semangat dan kerja sama tim tetap menjadi dasar kami dalam menghadapi setiap tantangan.
NN : Bagaimana Kang Sundayana dan rekan kerja mengatasi rasa kejenuhan yang sering muncul saat bekerja di lokasi terpencil, terutama tanpa akses Wi-Fi?
J : Pada minggu ketiga bekerja di laut lepas, kejenuhan biasanya mulai muncul, terutama jika tempat atau perusahaan pemilik ladang tidak menyediakan fasilitas Wi-Fi. Hal tersebut dapat menyebabkan rasa stres yang cukup besar bagi pekerja yang sering terpisah dari keluarga dan lingkungan biasa. Namun, di antara kami selalu ada orang yang memiliki cara unik dan lucu untuk menciptakan suasana yang menghibur, seperti berbagi cerita atau mengadakan kegiatan kecil bersama yang dapat menyegarkan pikiran.
Mengenai fasilitas konsumsi, bukan maksud saya untuk memamerkan, tetapi kualitasnya sebanding dengan restoran bintang lima. Saya ingin sekali lagi menegaskan bahwa hal ini bukan untuk menunjukkan kelebihan atau keunggulan apapun. Meskipun demikian, fasilitas tersebut tidak dapat menghilangkan rasa kejenuhan yang kami rasakan, karena yang paling dibutuhkan adalah kesempatan untuk tetap terhubung dengan orang tersayang.
NN : Perusahaan mana yang Kang Sundayana kerjakan saat ini, dan bagaimana dukungan yang diberikan untuk membantu menjalankan tugas?
J : Saat ini saya bekerja dengan kontrak di PT. LEKOM MARAS, yang termasuk dalam grup PT. Prabu Energi Internasional dengan kantor pusat di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Dukungan dari perusahaan menjadi salah satu faktor yang membantu saya menjalankan tugas dengan baik setiap hari. Mulai dari perlengkapan kerja yang memadai hingga fasilitas yang disediakan, semua menjadi dukungan penting bagi kami yang bekerja di lapangan.
NN : Selain bekerja di bidang migas, Kang Sundayana juga aktif sebagai penulis dan penyair. Bagaimana keterlibatan di dunia sastra, dan apa saja karya yang telah dihasilkan?
J : Saya adalah seorang penulis dan penyair yang aktif di dunia sastra serta sering terlibat dalam berbagai komunitas sastra. Sebagai pria asal Karawang, Jawa Barat yang kini berdomisili di Bekasi, saya memiliki kehadiran yang cukup aktif di media sosial, khususnya Facebook, di mana saya sering berbagi karya dan pemikiran dengan khalayak luas.
Keterlibatan saya dalam dunia sastra meliputi partisipasi dalam komunitas seperti Jagat Sastra Milenia (JSM). Karyaku telah diterbitkan dalam berbagai publikasi, termasuk jurnal sastra seperti SASTRAMEDIA.COM serta buku antologi puisi Modus Yang Tulus : Setangkai Puisi.
NN : Apa yang Kang Sundayana lakukan untuk berkontribusi dalam pengembangan dunia sastra, terutama bagi generasi muda?
J : Selain mengembangkan karya sendiri, saya juga sering berbagi ilmu dan pengalaman dengan anggota komunitas sastra muda. Saya juga terlibat dalam kegiatan literasi yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan tulis di kalangan masyarakat. Menurut saya, berbagi pengetahuan dan pengalaman adalah cara yang baik untuk mengembangkan dunia sastra Indonesia dan memberikan wadah bagi para pembaca maupun penulis muda untuk mengembangkan bakat mereka.
NN : Apa pesan Kang Sundayana untuk masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih banyak tentang industri migas, serta bagi mereka yang berminat untuk terjun ke bidang ini?
J : Industri migas memiliki peran penting bagi pembangunan negara dan menyimpan banyak cerita perjuangan di balik setiap sumur yang dioperasikan. Bagi mereka yang berminat untuk terjun ke bidang ini, saya ingin menyampaikan bahwa pekerjaan ini membutuhkan komitmen tinggi, kemampuan yang teruji, serta kesediaan untuk menghadapi berbagai tantangan. Penting untuk memiliki sertifikasi resmi dan selalu menjaga keselamatan diri serta rekan kerja.
Selain itu, jangan ragu untuk mengembangkan minat dan bakat lainnya di luar pekerjaan utama, seperti yang saya lakukan di dunia sastra. Hal tersebut dapat menjadi sumber inspirasi dan membantu kita melihat keindahan dalam setiap perjuangan yang kita jalani.
Jakarta, 4 Januari 2026
NARASINETWORK.COM x Wawancara Tokoh : Antara Risiko dan Karya "Cerita Perjuangan Dhe Sundayana Perbangsa di Dunia Migas"