Standar Hidup di Media Sosial Antara Impian dan Tekanan Nyata

Kamis, 19 Feb 2026 17:24
fenomena standar hidup yang ditampilkan di media sosial dan dampaknya bagi generasi muda. Paparan konten yang menampilkan gaya hidup ideal dapat menimbulkan tekanan dan kesulitan membedakan antara kebutuhan dan keinginan Istimewa

NARASINETWORK.COM - Media sosial tidak lagi hanya berfungsi sebagai ruang untuk berbagi momen pribadi. Platform digital kini berperan sebagai wadah yang menampilkan berbagai gaya hidup, sehingga membentuk standar kesuksesan tertentu. Pilihan busana, aktivitas perawatan diri, hingga cara menghabiskan waktu luang, semuanya menyusun ukuran yang dianggap ideal dan diikuti oleh banyak orang.

Fenomena ini sering kali menimbulkan tekanan, terutama bagi generasi muda yang sedang dalam tahap membangun identitas diri. Kondisi ini menjadi tantangan sosial yang perlu diperhatikan di era digital. Paparan konten yang terus berlangsung membuat sebagian orang kesulitan membedakan antara kebutuhan yang sebenarnya dan keinginan yang tidak mendasar.

Munculnya platform video pendek telah melahirkan apa yang disebut sebagai “standar TikTok”. Standar ini biasanya terkait dengan citra barang bernilai tinggi, penampilan fisik yang dianggap ideal, serta gaya hidup tertentu yang tampak sempurna saat ditampilkan di layar. Informasi tersebut dikutip dari Kompas.com.

Gambaran yang ditampilkan sering kali tidak mencerminkan kondisi kehidupan sebagian besar masyarakat. Konten media sosial umumnya telah melalui proses pemilihan, pengeditan, atau hanya menampilkan sebagian kecil dari kenyataan yang sebenarnya terjadi.

Fenomena ini merupakan bentuk pengaruh budaya yang masuk ke dalam kehidupan masyarakat. Penyebaran budaya populer secara bertahap memengaruhi pola pikir dan kebiasaan konsumsi, membuat banyak orang terjebak dan tidak memiliki arah yang jelas.

Kondisi tersebut juga mendorong terbentuknya budaya yang mengutamakan kecepatan, mengejar kepuasan sementara, serta kecenderungan untuk menampilkan hal-hal tertentu di ruang digital.

Di tengah arus pengaruh media sosial yang kuat, pentingnya kemampuan setiap orang untuk menyaring informasi yang diterima menjadi hal utama. Perlindungan agar tidak terpengaruh oleh standar semu adalah dasar nilai diri yang kuat. Saat ini belum ada regulasi khusus terkait konten yang sesuai dengan budaya sosial yang berlaku.

Peran keluarga dinilai sangat penting. Nilai hidup yang sederhana dan kesadaran untuk menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan finansial perlu diberikan sejak awal. Keluarga harus menanamkan prinsip hidup sesuai dengan kemampuan ekonomi, tanpa memaksakan hal di luar batas yang bisa dicapai.

Selain itu, pendidikan karakter yang diberikan orang tua kepada anak juga menjadi faktor utama. Media sosial tidak seharusnya dijadikan patokan untuk menilai nilai seseorang. Anak perlu diajarkan untuk menjadi diri sendiri, tidak menilai orang lain dari barang yang dikenakan, serta tetap memegang nilai-nilai yang baik.

Masyarakat perlu lebih selektif dalam mengonsumsi konten digital. Tidak semua kemewahan yang ditampilkan di media sosial merupakan hasil dari kerja keras yang sebenarnya. Banyak hal di balik layar yang tidak diketahui oleh penonton, sehingga tidak boleh menerima secara langsung apa yang ditampilkan di media sosial.

Berita Terkini