Hanna Sania dan Nurhayati dari RBC Sampaikan Pesan pada Aksi "Unjuk Rasa, Unjuk Karya" di TIM Melalui Puisi

Rabu, 29 Jul 2026 12:19
Hanna Sania dan Nurhayati dari Rumah Baca Ceria (RBC) membacakan puisi pada peringatan Hari Puisi Indonesia yang menjadi bagian dari rangkaian aksi Unjuk Rasa, Unjuk Karya di TIM. Hanna Sania - RBC

NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Hanna Sania dan Nurhayati dari Rumah Baca Ceria (RBC) tampil pada peringatan Hari Puisi Indonesia yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan "Unjuk Rasa, Unjuk Karya" yang digelar Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPSTIM), Minggu (26/7), di Selasar Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Keduanya mengisi panggung sastra melalui penampilan puisi sebagai bentuk penyampaian sikap terhadap kondisi ruang seni di TIM.

Acara berlangsung sejak siang hingga malam dengan agenda pameran seni, apel budaya, musik, tari, puisi, serta penyampaian manifesto FPSTIM. Berbagai komunitas seni ikut berpartisipasi untuk menyuarakan harapan agar Taman Ismail Marzuki tetap menjadi ruang berkesenian yang terbuka bagi para pelaku seni.

Hanna Sania dan Nurhayati tampil setelah penampilan Megawati dari Komunitas Seni dan Sastra Bekasi. Penampilan keduanya mendapat sambutan dari peserta yang memenuhi area Selasar Teater Kecil.

Pada kesempatan tersebut, Hanna Sania dan Nurhayati lmembawakan puisi berjudul "Kembalikan Panggung Kami". Puisi itu berisi kritik terhadap perubahan tata kelola ruang seni yang dinilai mengurangi peran seniman dalam proses pengambilan keputusan.

KEMBALIKAN PANGGUNG KAMI


Dengar kami

Ini bukan puisi pengantar tidur

Ini tuduhan

Ini ingata,n yang menolak dibungkam


Taman Ismail Marzuki

bukan lahir dari tender

tidak dibangun dari laba

Tetapi lahir dari kegelisahan

yang menolak tunduk

pada kekuasaan dan pasar


Hari ini apa yang terjadi

Panggung dipoles

jiwanya diusir

Seni dijadikan ornamen

budaya dijadikan alasan

sementara keputusan

dibuat tanpa seniman


Lampu menyala

tapi bukan untuk kebenaran

Lampu menyala

untuk menutupi perampasan


Kami melihat jelas

panggung diubah jadi mesin

ruang diubah jadi komoditas

dan seniman diminta antre

seperti penyewa

di rumahnya sendiri


Ini bukan revitalisasi

Ini penggusuran yang rapi


Ketika harga sewa

lebih penting dari proses

ketika proposal

lebih dipercaya dari gagasan

di situlah seni dibunuh

secara sopan dan administratif



Kami tidak butuh panggung megah

jika kebebasan harus ditinggalkan di pintu masuk

Kami tidak butuh gedung baru

jika keberanian

tidak diberi ruang hidup


Taman Ismail Marzuki

jangan bicara kebudayaan

jika keputusanmu

tak melibatkan mereka

yang hidup dari seni!

Jangan bicara masa depan

jika sejarahmu

kau injak sendiri


Ingat ini baik-baik

tanpa seniman

bangunan ini hanyalah beton berAC

Tanpa kebebasan

pertunjukan hanyalah kebisingan kosong


Maka kami berdiri hari ini

bukan sebagai tamu

bukan sebagai penyewa

tapi sebagai pemilik ingatan

yang kau coba hapus


Kembalikan panggung

Kembalikan ruang

Kembalikan keputusan

ke tangan budaya

bukan neraca


Karena seni tidak bisa dibeli

budaya tidak bisa disewa

dan panggung ini

tidak akan pernah tenang

selama jiwanya

dirampas


Cibitung, 31 Januari 2026 - Hanna Sania.

Melalui puisinya, Hanna Sania menyoroti persoalan akses ruang berkesenian, biaya pemanfaatan gedung, serta posisi seniman di Taman Ismail Marzuki. Ia juga menyampaikan harapan agar ruang seni tetap memberi tempat bagi proses berkarya dan keterlibatan pelaku seni.

Rangkaian kegiatan berlanjut dengan penampilan tari, musik akustik, puisi dari sejumlah penyair, orasi budaya, hingga penyampaian Manifesto Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki. Acara ditutup dengan penandatanganan petisi oleh seniman, komunitas, dan peserta yang hadir sebagai bentuk dukungan terhadap ruang berkesenian di Taman Ismail Marzuki.

Peringatan Hari Puisi Indonesia tahun ini menjadi ajang bagi para penyair, pegiat literasi, musisi, dan komunitas seni untuk menyampaikan karya serta pandangan mengenai keberadaan ruang seni di Taman Ismail Marzuki. Penampilan Hanna Sania dan Nurhayati menjadi salah satu bagian dari rangkaian acara yang menempatkan puisi sebagai media penyampaian sikap melalui karya sastra.

Berita Terkini