Pergeseran Teknologi Bawa Dampak pada Keberlangsungan Radio Konvensional

Sabtu, 13 Jun 2026 01:19
Radio konvensional menghadapi tekanan akibat pergeseran ke teknologi digital dan perubahan kebiasaan pendengar. Banyak stasiun tutup karena pendapatan iklan menurun, biaya operasional tinggi, serta minimnya penerus usaha. Ilustrasi

NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Industri penyiaran radio konvensional kini menghadapi tantangan berat akibat pergeseran teknologi dan perubahan kebiasaan masyarakat. Banyak stasiun yang dulunya menjadi sumber informasi utama terpaksa menghentikan operasional sepenuhnya. Jumlah pendengar yang terus menurun menyebabkan berkurangnya pemasukan dari sektor periklanan, sehingga biaya penyelenggaraan siaran tidak lagi dapat ditutupi.

Data industri menunjukkan sebagian besar pendengar telah beralih ke layanan musik dan konten audio yang dapat diakses secara daring. Alat penerima siaran radio juga semakin jarang dimiliki oleh generasi muda di lingkungan rumah tangga. Keadaan ini diperparah oleh keputusan sejumlah perusahaan dan lembaga pemasaran untuk memindahkan dana promosi ke media sosial serta jaringan berbasis internet.

Di pasar dalam negeri, penutupan sejumlah stasiun yang telah lama dikenal menjadi tanda nyata perubahan ini. Jaringan Radio Sonora memutuskan menghentikan operasional sembilan stasiun daerah, salah satunya yang beroperasi di Bali. Langkah pengurangan kegiatan ini diambil oleh manajemen pusat guna mencegah kerugian yang lebih besar.

Selain jaringan berskala besar, stasiun milik pengelola mandiri di berbagai daerah juga mengalami hal serupa. Radio Wijang Songko di Kediri, Jawa Timur, resmi berhenti mengudara setelah beroperasi selama 58 tahun. Penghentian siaran pada frekuensi 99,00 MHz itu disebabkan oleh keterbatasan dana dan tidak adanya pihak yang dapat melanjutkan pengelolaan usaha tersebut.

Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga melanda industri di berbagai negara. Di Amerika Serikat, jaringan CBS Radio mengakhiri riwayat penyiarannya setelah hampir satu abad melayani pendengar. Perusahaan tersebut tidak lagi mampu mempertahankan peralatan pemancar di tengah persaingan dengan layanan digital yang terus berkembang.

Beban biaya operasional menjadi salah satu alasan lain yang mempercepat keputusan penutupan. Pengelola wajib membayar tarif penggunaan hak siar dan izin penggunaan frekuensi. Selain itu, biaya listrik untuk menara pemancar serta biaya perpanjangan izin yang terus naik turut menambah beban. Ketika pemasukan tidak lagi seimbang dengan pengeluaran, penghentian kegiatan menjadi pilihan yang tidak dapat dihindari.

Biasanya, rangkaian penutupan diawali dengan penyampaian ucapan perpisahan oleh penyiar dan pemutaran lagu penutup. Segera setelah jadwal berakhir, peralatan pemancar dimatikan secara tetap sehingga frekuensi yang sebelumnya digunakan hanya mengeluarkan suara desis. Agar dapat bertahan ke depan, pelaku usaha di bidang ini dituntut melakukan penyesuaian menyeluruh terhadap cara kerja dan sistem penyampaian konten.

Berita Terkini