NARASINETWORK.COM - Pameran Seni Rupa “Ruang Tafakur” Merayakan Spiritualitas Islam dalam Seni Rupa Islam menghadirkan diantaranya karya yang bertajuk Arafah dari Acep Zamzam Noor, pengunjung bisa melihat karya ini di Bentara Budaya Jakarta hingga (13/3/2026) dari pukul 10.00 - 18:00 WIB.
Alam semesta tidak hanya merupakan ruang dan makhluk yang ada secara fisik. Berbagai tradisi keagamaan dan budaya menganggap alam sebagai kumpulan ayat-ayat yang dapat ditafsirkan melalui bahasa rupa atau kata-kata. Setiap elemen alam, mulai dari gunung hingga sungai, membawa pesan yang dapat dijelajahi dan dimaknai. Karya lukis Arafah tahun 2024 adalah upaya Acep Zamzam Noor untuk mengabadikan dan menginterpretasikan ayat-ayat alam dalam bentuk visual.
Gunung menjadi elemen sentral dalam karya ini, bukan hanya sebagai latar atau objek visual, melainkan sebagai perwujudan konsep keutuhan. Bentuk gunung yang kokoh dan menyatu mencerminkan tiga unsur yang saling berkaitan: iman, akal, dan rasa. Dalam budaya Sunda, ketiga unsur ini dikenal sebagai Tritangtu konsep yang menyatakan bahwa keutuhan manusia dan kehidupannya bergantung pada keseimbangan antara keyakinan, pemikiran, dan kesadaran terhadap lingkungan serta sesama.
Gunung dalam Arafah digambarkan dengan garis-garis tegas dan melengkung, menunjukkan bahwa keutuhan tidak bersifat kaku atau statis. Setiap bagian bentuk gunung menyimbolkan salah satu unsur Tritangtu: bagian atas yang menjulang ke langit mewakili iman sebagai pijakan spiritual; bagian tengah yang luas menggambarkan akal sebagai alat berpikir; bagian bawah yang menyatu dengan tanah mengwakili rasa sebagai penghubung manusia dengan alam dan makhluk hidup lainnya.
Selain gunung, karya ini menyajikan berbagai elemen alam lainnya dengan makna masing-masing. Langit digambarkan dengan warna yang bertransisi dari hangat ke dingin, menunjukkan bahwa makna alam semesta terus berkembang dan dapat diteliti secara berkelanjutan. Awan yang melayang di atas gunung diartikan sebagai gambaran perubahan antara keraguan dan keyakinan dalam kehidupan manusia, sedangkan tanah subur di kaki gunung menunjukkan kesuburan yang berasal dari keterhubungan dengan alam.
Semua elemen dalam lukisan ini saling terkait dan membentuk kesatuan visual yang utuh, sesuai dengan konsep bahwa ayat-ayat alam saling berkaitan dan menguatkan pesan yang disampaikan. Judul Arafah memberikan makna tambahan, mengingatkan pada tempat sakral dalam tradisi Islam yang digunakan untuk berkumpul, beribadah, dan mencari keberkahan sejalan dengan peran alam sebagai tempat untuk merenung dan menghubungkan diri dengan yang Maha Kuasa.
Menggunakan media akrilik di atas kanvas dengan dimensi 70 cm x 60 cm, Acep Zamzam Noor menciptakan visual yang kaya tekstur dan warna. Warna hangat seperti oranye dan merah menunjukkan sifat hangat dari iman dan rasa, sedangkan warna dingin seperti biru dan hijau tua menggambarkan akal dan ketenangan alam. Teknik goresan kuas bervariasii dari goresan lebar hingga sentuhan halus menunjukkan kompleksitas makna yang terkandung dalam ayat-ayat alam.
Bahasa rupa dalam Arafah bersifat simbolis dan mudah diakses oleh penikmat seni. Setiap bentuk dan warna memiliki nilai estetika sekaligus muatan makna yang terkait dengan konsep utama karya: alam adalah sumber inspirasi dan pemahaman tentang kehidupan, serta gambaran keseimbangan yang perlu dijaga oleh manusia.
Karya lukis Arafah menunjukkan bahwa alam sebagai ayat-ayat yang dapat ditafsirkan memiliki nilai penting. Melalui simbolisme gunung sebagai perwujudan Tritangtu budaya Sunda dan elemen alam lainnya, karya ini mengajak penikmat untuk memahami makna yang ada di balik keindahan alam. Sebagai karya seni yang menggabungkan nilai budaya, spiritual, dan estetika, Arafah menghubungkan manusia dengan alam, serta tradisi dengan pemahaman kehidupan masa kini.
Acep Zamzam Noor merupakan keturunan dari Pimpinan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya Jawa Barat, yaitu KH Ruhiat dari ayahnya Kiai Ilyas, Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya pada 28 Februari 1960. Ia menyelesaikan pendidikan seni di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Selain melukis, ia menulis puisi.
Gaya lukisnya ekspresif, dengan sapuan kuas lebar yang membentuk kontur tebal dan kombinasi warna kontras serta terang. Ia aktif mengikuti pameran tunggal dan bersama, baik di dalam maupun luar negeri. Lokasi pameran meliputi Bandung, Yogyakarta, Bali, Jakarta, Surakarta, dan Surabaya. Di luar Indonesia, karyanya telah dipamerkan di Filipina, Singapura, Malaysia, dan Belanda. Pameran terbarunya berjudul "Mangsa Kalisobo" diselenggarakan di Galeri Balai Pemuda Surabaya pada tahun 2026.