NARASINETWORK.COM - TEGAL, Riani, yang dikenal dengan nama Riani Pemulung, adalah seorang ibu tunggal asal Kota Tegal, Jawa Tengah, yang bekerja sebagai pemulung barang bekas sekaligus pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Gubuk Baca Hati Nurani di kawasan pesisir dekat Pelabuhan Tegal.
Sejak tahun 2005, ia menjalani pekerjaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan empat anaknya. Di tengah kondisi ekonomi yang terbatas, Riani menyisihkan waktu dan penghasilannya untuk mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung secara gratis kepada anak-anak sekitar yang membutuhkan pendampingan belajar.
Melalui rumah baca yang ia dirikan, Riani menghadirkan ruang pendidikan sederhana bagi anak-anak pesisir agar memiliki kesempatan mengenal buku dan mengembangkan kemampuan literasi.
“Saya menjalani pekerjaan sebagai pemulung karena itu adalah cara saya mencari nafkah. Tetapi sebagai seorang ibu, saya juga ingin melihat anak-anak tumbuh dengan pendidikan yang baik. Saya percaya kemampuan membaca dan belajar dapat membantu mereka membuka lebih banyak kesempatan di masa depan.”
— Riani Pemulung.
Perjalanan hidup Riani dimulai dari kondisi keluarga yang tidak mudah. Setelah berpisah dengan suaminya, ia harus mencari penghasilan sendiri untuk membesarkan anak-anaknya. Pilihan menjadi pemulung bukanlah pekerjaan yang mudah, tetapi Riani menjalaninya sebagai cara untuk bertahan hidup tanpa harus meminta-minta.
Setiap hari ia berkeliling mencari barang bekas seperti plastik, kardus, dan besi yang masih memiliki nilai jual. Hasil dari pekerjaan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga serta membiayai pendidikan anak-anaknya. Penghasilan yang diperoleh sering kali hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Pada masa awal bekerja sebagai pemulung, Riani pernah membawa anaknya yang masih kecil saat mencari barang bekas karena tidak ada orang yang dapat menjaga. Situasi tersebut tidak membuatnya berhenti berusaha. Ia terus bekerja sambil memastikan anak-anaknya tetap mendapatkan pendidikan.
Keinginannya mendirikan taman bacaan muncul ketika melihat kondisi anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Banyak anak pesisir memiliki keterbatasan akses terhadap buku dan kegiatan belajar tambahan. Riani kemudian memanfaatkan halaman rumahnya sebagai tempat belajar sederhana yang diberi nama Gubuk Baca Hati Nurani.
Koleksi buku pertama di gubuk baca tersebut berasal dari buku-buku bekas yang ia temukan saat memulung. Buku yang masih layak pakai ia kumpulkan, dibersihkan, kemudian disimpan agar dapat dibaca oleh anak-anak. Seiring waktu, rumah baca itu mulai mendapat dukungan berupa sumbangan buku dari berbagai pihak.
Kegiatan di Gubuk Baca Hati Nurani tidak hanya berfokus pada membaca buku. Riani mengajarkan anak-anak kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung. Ia juga mengajak mereka menggambar, mengenal puisi, serta berlatih tampil di depan orang lain melalui kegiatan seni.
Bagi Riani, kemampuan membaca menjadi bekal penting bagi anak-anak agar lebih percaya diri mengikuti pendidikan formal. Ia berusaha menciptakan suasana belajar yang nyaman sehingga anak-anak tidak merasa terbebani ketika mengikuti kegiatan di rumah bacanya.
Ketika pandemi Covid-19 terjadi, kehidupan Riani semakin berat. Harga barang bekas mengalami penurunan dan aktivitas memulung menjadi lebih sulit. Pendapatannya berkurang, tetapi ia tetap berusaha membantu anak-anak sekitar yang mengalami kendala mengikuti pembelajaran jarak jauh.
Pada masa tersebut, Riani membagi waktunya antara mencari barang bekas dan mendampingi anak-anak belajar. Ia membantu mereka memahami materi sekolah serta menyediakan tempat untuk mengerjakan tugas. Kegiatan itu dilakukan tanpa memungut biaya.
Selain sebagai pengelola rumah baca, Riani juga dikenal sebagai penulis puisi. Ia menggunakan tulisan sebagai sarana menyampaikan pengalaman hidup masyarakat kecil, persoalan sosial, dan cerita tentang anak-anak yang tumbuh di lingkungan pesisir.
Salah satu karyanya yang dikenal masyarakat adalah puisi berjudul Makan Gratis di Jalanan. Melalui karya tersebut, Riani menggambarkan percakapan sederhana tentang kehidupan keluarga kurang mampu dan pandangan anak terhadap kondisi sosial di sekitarnya.
Aktivitas sastranya membawa Riani bertemu dengan berbagai komunitas seni dan literasi. Ia beberapa kali diundang untuk membacakan puisi serta berbagi pengalaman mengenai perjalanan hidup dan kegiatan literasi yang ia jalankan.
Kiprah Riani juga mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Komunitas lokal, mahasiswa, pegiat literasi, serta masyarakat memberikan dukungan berupa buku, perlengkapan sekolah, dan bantuan lain untuk anak-anak yang belajar di Gubuk Baca Hati Nurani.
Salah satu bentuk dukungan datang dari komunitas yang membantu memperkenalkan kegiatan rumah baca tersebut kepada masyarakat luas. Bantuan yang diterima kemudian digunakan untuk menunjang aktivitas belajar anak-anak di sekitar tempat tinggal Riani.
Selain kegiatan pendidikan, Gubuk Baca Hati Nurani juga menjadi tempat berbagai aktivitas kreatif. Anak-anak diajak mengenal lingkungan, membuat karya seni, serta mengikuti kegiatan yang melatih keterampilan mereka.
Kisah Riani menunjukkan bahwa kegiatan literasi tidak selalu harus dimulai dari tempat yang besar atau fasilitas lengkap. Dengan ruang sederhana di halaman rumah, ia mampu menyediakan kesempatan belajar bagi anak-anak yang membutuhkan.
Kehidupan Riani tetap berjalan dengan dua peran yang ia jalani setiap hari, yaitu sebagai pemulung untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan sebagai penggerak rumah baca bagi anak-anak pesisir. Ia terus melakukan kegiatan tersebut sesuai kemampuan yang dimiliki.
Perjalanan Riani Pemulung menjadi contoh bahwa pendidikan dapat tumbuh melalui kepedulian seseorang terhadap lingkungan sekitar.