اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ .قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Takwa bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam kesadaran bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban. Amanah sekecil apa pun, jika dikhianati, akan berubah menjadi fasâd (kerusakan). Dan, amanah sebesar apa pun, jika dijaga dengan takwa, akan menjadi ibadah.
Hari ini kita berada di bulan Ramadan. Bulan yang mulia yang penuh rahmat dan ampunan. Ramadan bukan sekadar bulan puasa. Ramadan adalah madrasah rûhiyyah, sekolah tempat kita melatih ruhani dan meningkatkan spiritualitas. Ia merupakan momentum penting untuk memperbanyak ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan, terutama menjauhi berbagai bentuk kerusakan serta membersihkan jiwa dan amal dari unsur-unsur penyimpangan.
Ramadan adalah kesempatan berharga untuk mengevaluasi kembali amal perbuatan kita, bertaubat, dan kembali kepada Allah dari setiap kekeliruan, kesalahan, dan penyimpangan. Setiap manusia membutuhkan jeda—sebuah “stasiun perhentian”—untuk mengisi ulang bekal kehidupannya. Pada momen itulah kita berhenti sejenak, merenung, bermuhasabah, dan menata kembali arah langkah agar kehidupan ke depan menjadi lebih baik dan lebih lurus. Namun sering kali, momentum-momentum penting itu berlalu tanpa kita manfaatkan. Kesibukan menelan kesadaran, rutinitas mengalahkan refleksi. Di antara seluruh stasiun kehidupan itu, Ramadan adalah yang paling utama—stasiun keimanan dan spiritualitas terbesar dalam setahun, tempat kita membersihkan jiwa, meluruskan niat, dan memperbarui komitmen kepada Allah.
Ma`asyiral muslimin rahimakumullâh.
Allah menyebut bulan Ramadhan secara khusus dalam Al-Qur’an: “Syahru Ramadhān al-ladzī unzila fīhi al-Qur’ān hudan lin-nās wa bayyinātin minal-hudā wal-furqān…” (QS. Al-Baqarah: 185). Ramadan adalah bulan turunnya Al-Qur’an. Bulan petunjuk. Bulan pembeda antara yang benar dan yang batil. Lalu pada ayat berikutnya Allah berfirman: “Wa idzā sa’alaka ‘ibādī ‘annī fa innī qarīb. Ujību da‘wata ad-dā‘i idzā da‘ān…” (QS. Al-Baqarah: 186). Allah dekat. Allah mengabulkan doa. Tetapi ada syaratnya: fal-yastajībū lī wal-yu’minū bī la‘allahum yarsyudūn. Mereka harus merespons, harus beriman secara nyata, agar memperoleh petunjuk. Di sinilah letak persoalannya. Petunjuk itu sudah jelas. Allah dekat. Dalil pun terang. Namun sering kali yang kurang adalah respons kita.
Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ramadan adalah stasiun evaluasi jiwa. Stasiun muhasabah. Di banyak tempat, Al-Qur’an berulang kali mengingatkan tentang bahaya fasâd—kerusakan. “Wallāhu lā yuḥibbul-fasād.” Allah tidak menyukai kerusakan. (QS. Al-Baqarah: 205). “Zhaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aydin-nās.” Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia. (QS. Ar-Rum: 41).
Fasâd bukan hanya kerusakan fisik. Fasad adalah ketika amanah berubah menjadi kepentingan pribadi. Ketika tanggung jawab bergeser menjadi alat keuntungan tidak sah. Ketika jabatan dipandang sebagai hak, bukan sebagai titipan Allah. Yang lebih berbahaya, Al-Qur’an mengingatkan: “Wa idzā qīla lahum lā tufsidū fil-arḍ, qālū innamā naḥnu muṣliḥūn. Alā innahum humul-mufsidūna walākin lā yasy‘urūn.” (QS. Al-Baqarah: 11–12) Ketika dikatakan: jangan berbuat kerusakan, mereka menjawab: kami justru memperbaiki. Padahal mereka itulah para perusak, tetapi mereka tidak menyadarinya. Inilah bahaya terbesar. Bukan sekadar melakukan kesalahan, tetapi tidak merasa bersalah. Ketika hati sudah tidak lagi gelisah saat berbuat salah, itulah awal dari keruntuhan.
Ma‘âsyiral muslimin hafizhakumullâh,
Setiap manusia bisa sakit. Jika sakit, kita pergi ke dokter. Dokter bertanya, apa yang Anda makan? Apa yang Anda lakukan? Bagaimana pola hidup Anda? Lalu dilakukan pemeriksaan dan diagnosis. Begitulah perlakuan terhadap tubuh kita, dan itu kita sadari penuh. Namun kita sering lupa, jiwa juga bisa sakit. Penyakitnya bernama tamak. Penyakitnya bernama pembenaran diri. Penyakitnya bernama kompromi terhadap kebenaran. Sebagai kitab petunjuk, Al-Qur’an memaparkan berbagai diagnosis kejiwaan manusia. Ia menjelaskan letak penyakit, terutama penyakit-penyakit hati, dan memberi terapi ilahiah. Oleh karenanya, di bulan Ramadhan ini mari kita mendekat kepada Al-Qur`an dan berdialog dengannya. Baca dan pahami ayat-ayatnya. Setiap ayat yang kita baca dengan penuh kehusyukan akan memantulkan cahaya yang memberikan kedamaian. Tadabburi dan renungkan maknanya. Setiap kata dan kalimat menyimpan ragam misteri dan solusi atas segala masalah. Dan, amalkan kandungannya, karena ajarannya mengajak kepada kedamaian dan kebahagiaan.
Ramadan datang agar kita belajar jujur kepada Allah. Kejujuran adalah pintu pertama menuju perbaikan. Sebagaimana pasien yang tidak jujur kepada dokter akan menerima diagnosis yang keliru dan pengobatan yang tidak tepat, demikian pula orang yang tidak jujur kepada Allah akan terus berada dalam lingkaran penyimpangan. Ia mungkin tampak baik di hadapan manusia, tetapi di hadapan Allah ia sedang menipu dirinya sendiri.
Ramadan melatih kita untuk membuka ruang kejujuran itu. Ketika kita berpuasa, tidak ada manusia yang mengawasi apakah kita benar-benar menahan diri atau tidak. Namun kita tetap menahan diri. Mengapa? Karena kita sadar bahwa Allah melihat. Inilah murāqabah—kesadaran batin bahwa pengawasan Allah tidak pernah terputus.
Allah berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 119:
﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ ١١٩ ﴾ ( التوبة/9: 119)
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar! (QS. At-Taubah/9:119)
Ayat ini mengaitkan takwa dengan kejujuran. Tidak ada takwa tanpa kejujuran. Tidak ada integritas tanpa ṣidq. Bahkan perintahnya bukan sekadar “jadilah orang jujur”, tetapi “bersamalah dengan orang-orang yang jujur”. Artinya, bangun lingkungan kejujuran. Bangun budaya kejujuran. Bangun sistem yang berdiri di atas kejujuran.
Ramadan adalah latihan besar untuk itu. Puasa mengajarkan kita meninggalkan yang halal—makan, minum, dan segala yang mubah—demi ketaatan kepada Allah. Jika yang halal saja kita tinggalkan karena takut kepada-Nya, maka bagaimana mungkin kita mengambil yang haram? Bagaimana mungkin kita mengkhianati amanah yang Allah titipkan? Kejujuran kepada Allah akan melahirkan kejujuran dalam amal. Kejujuran dalam amal akan melahirkan keberkahan dalam hidup. Dan keberkahan itulah yang menjauhkan kita dari segala bentuk penyimpangan dan fasad. Ramadan adalah momentum untuk kembali kepada kejujuran itu—jujur dalam niat, jujur dalam pekerjaan, jujur dalam memegang amanah, dan jujur dalam mempertanggungjawabkan setiap keputusan di hadapan Allah kelak.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Ramadan adalah kesempatan memulai kembali. Mengoreksi niat. Membersihkan cara. Meluruskan langkah. Jangan sampai Ramadan berlalu tanpa perubahan. Jangan sampai Al-Qur’an kita baca tanpa kita cerminkan dalam amal. Semoga Allah menjadikan Ramadan ini titik balik kehidupan kita. Membersihkan jiwa kita dari segala bentuk al-fasâd. Menjadikan kita hamba-hamba yang amanah, jujur, dan bertakwa.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ اْلآيَةِ وَاْلذْكُرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوْ اللهَ، وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَاتِ وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَتٍ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Source :
Muchlis M Hanafi (Direktur Penerangan Agama Islam)