MTQ Nasional ke-31 di Semarang Bahas Keilmuan Al-Qur’an dan Transformasi Dakwah di Era AI

Rabu, 2 Sep 2026 05:07
Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag Muchlis Muhammad Hanafi saat menyampaikan keterangan tentang seminar internasional MTQ Nasional ke-31 di Jakarta, Selasa (1/9/2026). Istimewa

NARASINETWORK.COMJAKARTA, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-31 akan digelar di Semarang, Jawa Tengah, pada 11–20 September 2026 dengan melibatkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Selain perlombaan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Kementerian Agama menyiapkan seminar internasional tentang keilmuan Al-Qur’an dan perkembangan teknologi digital serta kecerdasan buatan (AI) yang dijadwalkan berlangsung pada 13 September 2026 di Universitas Negeri Semarang. Kegiatan ini digelar untuk memperluas ruang kajian Al-Qur’an sekaligus membahas pemanfaatan teknologi bagi dakwah digital.

Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama Muchlis Muhammad Hanafi mengatakan seminar tersebut menjadi salah satu kegiatan pendamping MTQ Nasional ke-31. Menurut dia, penyelenggaraan MTQ tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kegiatan keilmuan Al-Qur’an.

“Ini merupakan salah satu side event karena kita ingin MTQ bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi juga menjadi ekosistem keilmuan Al-Qur’an,” ujar Muchlis saat Press Briefing Isu-Isu Aktual Bimas Islam di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Menurut Muchlis, MTQ selama ini memiliki sejumlah cabang yang berkaitan dengan keilmuan Al-Qur’an. Selain seni membaca Al-Qur’an, terdapat Fahmil Qur’an dan Syarhil Qur’an yang menguji pemahaman serta kemampuan peserta menyampaikan pesan-pesan Al-Qur’an. Ada pula cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an dan seni kaligrafi.

Rangkaian tersebut, kata Muchlis, menjadikan MTQ sebagai salah satu ruang untuk mengembangkan kemampuan peserta pada berbagai bidang yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Kegiatan ini juga dapat menjadi ruang pengaderan calon ulama.

“Kalau tadi Pak Dirjen menjelaskan, ini sebenarnya bagian dari pengaderan ulama. Kita ingin membangun ekosistem keilmuan Al-Qur’an, bukan hanya dari aspek keilmuannya, tetapi juga seni membaca, seni menulis melalui kaligrafi, pemahaman, dan aspek-aspek lainnya,” jelasnya.

Seminar internasional yang menjadi bagian dari rangkaian MTQ Nasional tersebut mengangkat tema “Menebar Cahaya Al-Qur’an di Era Kecerdasan Buatan: Transformasi Dakwah Digital dari Jawa Tengah untuk Indonesia Emas 2045.”

Muchlis menjelaskan, tema seminar menghubungkan nilai dan keilmuan Al-Qur’an dengan perubahan teknologi digital serta perkembangan AI. Pembahasan akan diarahkan pada penggunaan teknologi secara tepat untuk mendukung kegiatan dakwah.

Sejumlah pembicara dari Indonesia dan luar negeri dijadwalkan hadir. Seminar rencananya dibuka Menteri Agama Nasaruddin Umar, dengan keynote speech dari akademisi Universitas Al-Azhar, Mesir. Pembicara lainnya berasal dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University, Singapura, akademisi nasional, serta akademisi dari Jawa Tengah.

“Menebar Cahaya Al-Qur’an dipilih karena sejalan dengan tema MTQ Nasional. Tema itu kemudian dikaitkan dengan era kecerdasan buatan. Dalam seminar nanti akan didiskusikan bagaimana transformasi dakwah digital dapat berkontribusi bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045,” katanya.

Kementerian Agama berharap seminar tersebut dapat memperluas kajian mengenai pengembangan nilai dan keilmuan Al-Qur’an di tengah perubahan teknologi digital. Forum ini juga diharapkan membuka ruang diskusi mengenai tantangan dakwah pada era AI.

“MTQ diharapkan tidak hanya melahirkan para juara, tetapi juga memperkuat tradisi keilmuan Al-Qur’an yang mampu menjawab perkembangan dan tantangan zaman,” pungkas Muchlis.

Berita Terkini