Wawancara Tokoh : Nurhayati Zuraeda Lengger Wonosobo Sebagai Identitas Budaya yang Harus Dijaga

Senin, 16 Feb 2026 22:27
Kesenian tradisional adalah bagian penting dari identitas Indonesia. Tari Lengger Wonosobo berasal dari Dusun Giyanti, penarinya perempuan tanpa topeng, diiringi alat musik tradisional, dan dipentaskan dalam acara masyarakat. Areska

NARASINETWORK.COM - Kesenian tradisional adalah bagian penting dari identitas bangsa Indonesia. Arus modernisasi berkembang cepat, dan budaya populer kerap menjadi fokus utama. Upaya pelestarian kesenian tradisional menjadi tugas yang perlu diperhatikan. Tari Lengger Wonosobo berasal dari Dusun Giyanti, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Lengger dari Wonosobo berbeda dengan versi Banyumas. Penari Lengger Wonosobo adalah perempuan dan tidak menggunakan topeng. Pertunjukan dilakukan secara berpasangan atau berkelompok, diiringi alat musik tradisional seperti calung, kendang, saron, dan gong. Tarian ini dipentaskan dalam acara masyarakat seperti bersih desa, upacara tolak bala, dan ritual pemotongan rambut gimbal di kawasan Dieng.

Kesenian tradisional menghadapi tantangan dalam era modern. Nurhayati Zuraeda adalah satu dari sekian pelestari seni yang di usia 50 tahun lebih tetap aktif menjaga tradisi tari ini. Dedikasinya menunjukkan bahwa warisan budaya dapat tetap lestari jika ada orang yang berkomitmen menjaganya.

Narasinetwork.com berkesempatan berbincang dengan sosok buk Nur, demikian saya memanggilnya di sela-sela kesibukannya sebagai juru masak utama pada suatu catering terkemuka. Berikut wawancara kami hadir untuk para pembaca setia Narasinetwork.com

NN : Ibu Nurhayati, sebagai pegiat seni yang aktif melestarikan Lengger Wonosobo, bagaimana Ibu melihat peran tarian ini dalam menjaga identitas budaya lokal di tengah gempuran modernisasi?

Nurhayati Zuraeda (NZ) : Lengger Wonosobo bukan sekadar tarian, tetapi juga cerminan identitas dan nilai-nilai masyarakat Wonosobo. Di tengah arus modernisasi, penting bagi kita untuk terus menjaga dan mengembangkan Lengger Wonosobo sebagai warisan budaya yang tak ternilai harganya.

NN : Apa saja tantangan yang dihadapi dalam upaya melestarikan Lengger Wonosobo, khususnya dalam menarik minat generasi muda?

NZ : Tantangan terbesarnya adalah kurangnya pengetahuan dan apresiasi generasi muda terhadap Lengger Wonosobo. Banyak dari mereka yang lebih tertarik pada budaya populer dan tren global. Selain itu, minimnya dukungan finansial dan promosi juga menjadi kendala.

NN : Ibu Nurhayati, banyak yang bilang bahwa kesenian tradisional semakin terpinggirkan di era digital ini. Bagaimana pendapat Ibu mengenai hal ini, khususnya terkait dengan Lengger Wonosobo?

NZ : Saya akui, arus digitalisasi memang membawa tantangan tersendiri bagi kesenian tradisional. Namun, saya percaya bahwa teknologi juga bisa menjadi alat untuk melestarikan dan mempromosikan Lengger Wonosobo. Kita bisa memanfaatkan media sosial, platform video, dan aplikasi lainnya untuk menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk generasi muda yang lebih akrab dengan dunia digital.

NN : Sebagai seorang pelestari seni, apa yang menjadi motivasi utama Ibu untuk terus berjuang menjaga keberadaan Lengger Wonosobo, meskipun menghadapi berbagai tantangan?

NZ : Motivasi utama saya adalah rasa cinta terhadap budaya sendiri dan keinginan untuk mewariskan nilai-nilai luhur Lengger Wonosobo kepada generasi penerus. Saya percaya bahwa Lengger Wonosobo bukan hanya sekadar tarian, tetapi juga identitas dan jati diri masyarakat Wonosobo yang harus kita jaga bersama.

NN :  Apa pesan yang ingin Ibu sampaikan kepada masyarakat, khususnya generasi muda Wonosobo, tentang pentingnya merawat Lengger Wonosobo?

NZ : Mari bersama-sama merawat dan melestarikan Lengger Wonosobo sebagai warisan budaya yang membanggakan. Dengan dukungan dan partisipasi aktif dari seluruh masyarakat, Lengger Wonosobo akan terus hidup dan berkembang, menjadi identitas yang mempersatukan kita sebagai warga Wonosobo.

NN : Sebagai seorang yang berdedikasi pada seni dan budaya Wonosobo, apa harapan Ibu untuk masa depan Lengger Wonosobo?

NZ : Saya berharap Lengger Wonosobo semakin dikenal dan diapresiasi, tidak hanya di Indonesia tetapi juga universal, global. Bahwa semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk mempelajari dan melestarikan Lengger Wonosobo, sehingga warisan budaya ini tetap hidup dan lestari dari generasi ke generasi.

Jakarta, 16 Februari 2026

**

Nurhayati Zuraeda adalah seorang pegiat seni yang aktif dalam berbagai bidang, termasuk menulis, melukis, membaca cerpen dan puisi, serta pengurus dari rumah baca RBC, Bekasi. Ia menamatkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) KUBANK Semarang pada tahun 1990, yang kini telah berkembang menjadi Universitas Stikubank Semarang (UNISBANK).

Wawancara Tokoh NARASINETWORK.COM (Erna W. Wiyono) x Wawancara Tokoh : Nurhayati Zuraeda Lengger Wonosobo Sebagai Identitas Budaya yang Harus Dijaga



Berita Terkini