Menara Satu Abad Rekam Jejak Sejarah dan Transformasi Arsitektur Jam Gadang Bukittinggi

Selasa, 9 Jun 2026 06:36
Menara Jam Gadang merupakan monumen penunjuk waktu setinggi 26 meter di Kota Bukittinggi yang didirikan pada tanggal 20 Juni 1926. Bangunan bersejarah ini dirancang oleh arsitek lokal bernama Yazid Rajo Mangkuto. Istimewa

NARASINETWORK.COM - BUKITTINGGI, Menara Jam Gadang berlokasi di pusat Kota Bukittinggi, Sumatra Barat. Bangunan ini memiliki tinggi 26 meter dengan ukuran pangkalan 13 x 4 meter. Berdasarkan catatan sejarah, struktur tersebut resmi dibangun pada 20 Juni 1926.

"Satu abad berdiri megah di jantung Sumatra Barat, Jam Gadang membuktikan bahwa struktur yang kuat lahir dari sejarah yang hebat."

 Menara penunjuk waktu tersebut awalnya merupakan hadiah dari Ratu Wilhelmina dari Belanda untuk Sekretaris Kota Fort de Kock bernama HR Rookmaaker. Rancangan fisik bangunan dikerjakan oleh seorang arsitek lokal bernama Yazid Rajo Mangkuto, dengan pengawasan dari dinas pekerjaan umum pemerintahan kolonial.

Pembangunan fisik menara ini menghabiskan total anggaran sebesar tiga ribu Gulden, sebuah nominal finansial yang sangat besar pada masa itu. Peletakan batu pertama proyek dikerjakan oleh putra terkecil dari HR Rookmaaker yang saat itu baru menginjak usia empat tahun. Pengerjaan utama konstruksi diserahkan sepenuhnya kepada para pekerja lokal di bawah pimpinan sang arsitek. Kehadiran menara ini sejak awal diplot sebagai penanda pusat administrasi kota sekaligus marka tanah utama bagi para pendatang.
Masyarakat tradisional sempat memercayai cerita rakyat mengenai pemakaian jutaan putih telur yang dicampur kapur dan pasir sebagai bahan semen perekat dinding. Anggapan tersebut muncul karena permukaan dinding luar bangunan tampak halus tanpa guratan semen modern kelabu. Padahal, pengujian teknik sipil membuktikan bangunan ini menggunakan konstruksi beton bertulang yang kuat. Material utama proyek dipasok dari pabrik semen komersial pertama di kawasan Indarung Padang yang sudah beroperasi aktif sejak seribu sembilan ratus sepuluh.
Komponen penggerak utama jam mekanik didatangkan secara khusus dari pabrik manufaktur bernama Vortmann Relinghausen di Kota Recklinghausen, Jerman. Mesin tipe mekanik ini tergolong sangat langka karena hanya diproduksi sebanyak dua unit di dunia oleh pabrik tersebut. Satu unit terpasang di Kota Bukittinggi, sementara unit kembarannya dipasang pada menara jam Big Ben di Kota London, Inggris. Sistem kerja mesin memanfaatkan gaya gravitasi dari bandul pemberat khusus yang harus diputar naik secara manual oleh petugas kebersihan secara berkala agar jarum jam tidak berhenti berputar.
Tampilan eksterior bagian puncak menara telah mengalami tiga kali perombakan desain mengikuti pergantian kekuasaan politik di Sumatra Barat. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, bagian atap berbentuk kubah bulat bergaya Eropa dengan patung ayam jantan sebagai penunjuk arah mata angin di atasnya. Bentuk tersebut diubah total menyerupai arsitektur pagoda kuil Shinto saat tentara Kekaisaran Jepang menduduki wilayah ini. Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, barulah bagian atap diganti menjadi bentuk gonjong Rumah Gadang yang bertahan utuh sampai sekarang.
Keunikan lain yang menjadi daya tarik para wisatawan terlihat pada penulisan angka empat Romawi di empat sisi piringan jam. Simbol angka empat sengaja ditulis menggunakan empat garis lurus sejajar, bukan menggunakan kombinasi huruf standar. Pilihan desain tersebut diterapkan demi menjaga keseimbangan visual dengan angka delapan Romawi di sisi seberangnya agar mudah dibaca dari jarak jauh. Lokasi di sekitar menara kini ditata menjadi taman terbuka hijau yang menjadi pusat aktivitas rekreasi, swafoto, serta tempat berkumpulnya para pelancong domestik maupun mancanegara.


Berita Terkini