NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI menguji coba teknologi 5G Broadcast di Media Center TVRI, Jakarta, pada 3 Juli 2026, bersama Rohde & Schwarz dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Uji coba tersebut dilakukan untuk menyiapkan layanan siaran televisi gratis yang dapat diterima melalui ponsel tanpa menggunakan kuota internet. Pengujian ini juga bertujuan mengukur kesiapan teknologi, perangkat penerima, serta dukungan ekosistem penyiaran sebelum diterapkan lebih luas.
Direktur Layanan Ekosistem Digital Komdigi, Geryantika Kurnia, mengatakan teknologi 5G Broadcast menghadirkan cara baru dalam distribusi konten multimedia. Melalui sistem siaran broadcast, masyarakat dapat menonton televisi secara langsung di perangkat bergerak tanpa memerlukan koneksi internet maupun pulsa.
"Layanan 5G Broadcast memungkinkan masyarakat menerima siaran secara gratis tanpa memerlukan data internet maupun membayar pulsa," ujar Geryantika.
Ia menjelaskan, teknologi tersebut berbeda dengan layanan video streaming yang bergantung pada jaringan internet. Sistem broadcast memungkinkan jutaan pengguna menerima siaran yang sama secara bersamaan tanpa menambah beban jaringan seluler.
Menurut Geryantika, kemampuan tersebut bermanfaat saat terjadi bencana, keadaan darurat, maupun penyelenggaraan kegiatan berskala besar yang berpotensi meningkatkan trafik komunikasi.
Direktur Utama LPP TVRI, Fiki Satari, mengatakan pengembangan 5G Broadcast menjadi bagian dari upaya TVRI menyesuaikan layanan penyiaran dengan perkembangan teknologi. Ia menilai inovasi tersebut dapat memperluas akses masyarakat terhadap siaran publik melalui berbagai perangkat.
"Teknologi modern sangat penting untuk membawa TVRI terus berperan dan tetap memberikan pelayanan publik kepada masyarakat Indonesia," kata Fiki.
Fiki menegaskan, 5G Broadcast tidak menggantikan sistem televisi digital DVB-T2 yang saat ini menjadi jaringan penyiaran nasional. Teknologi tersebut disiapkan sebagai pelengkap layanan Free-to-Air (FTA), sementara DVB-T2 tetap digunakan sebagai jaringan utama karena memiliki jangkauan yang luas dan penggunaan spektrum yang efisien.
Direktur Teknik LPP TVRI, Bernardus Satriyo Dharmanto, menyampaikan teknologi ini juga berpotensi memperluas layanan penyiaran di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Menurutnya, karakteristik sistem broadcast memungkinkan distribusi informasi menjangkau wilayah yang belum terlayani secara optimal.
Satriyo menambahkan, sebagian pemancar DVB-T2 milik TVRI telah siap mendukung implementasi 5G Broadcast. Infrastruktur yang masih diperlukan berupa penambahan perangkat Broadcast Service and Control Center (BSCC) dan Exciter.
Melalui uji coba tersebut, TVRI ingin memperoleh masukan mengenai kesiapan teknologi, interoperabilitas perangkat, serta respons masyarakat terhadap model layanan baru. Hasil pengujian diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dan pelaku industri dalam pengembangan penyiaran nasional.
Selain untuk layanan televisi bergerak, 5G Broadcast juga diproyeksikan mendukung sistem peringatan dini bencana, penyebaran informasi kebencanaan, komunikasi darurat, pendidikan jarak jauh, serta distribusi informasi pemerintah. Dengan mekanisme broadcast, informasi dapat diterima secara serentak oleh banyak pengguna tanpa mengalami penurunan kualitas akibat kepadatan trafik.
Teknologi 5G Broadcast sebelumnya telah diuji coba maupun diterapkan di sejumlah negara, antara lain Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, Denmark, dan Malaysia. Pengalaman dari berbagai negara tersebut menunjukkan bahwa teknologi ini dapat melengkapi layanan DVB-T2 sekaligus memperluas akses siaran televisi melalui perangkat bergerak tanpa menggunakan kuota data.