NARASINETWORK.COM - Saya merupakan salah satu dari 41 peserta yang mengikuti Kemah Budaya yang digelar oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dalam rangka menyambut Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2026.
Acara berlangsung selama dua hari, yakni tanggal 16 hingga 17 Januari 2026, dengan mengambil lokasi di kawasan adat Baduy, Kabupaten Lebak. Mengusung tema “Belajar Mencintai dari Baduy”, kegiatan ini memberikan kesempatan untuk mendekati kehidupan masyarakat Baduy secara langsung.
Sebagai perwakilan dari narasinetwork.com sebuah media lokal yang masih berkembang dan tempat saya telah bergabung selama satu tahun, saya melihat momen ini sebagai kesempatan berharga untuk mendokumentasikan kearifan lokal yang telah bertahan dari masa ke masa.
Salah satu upaya yang saya lakukan adalah mengabadikan momen sakral alam dan kehidupan masyarakat Baduy dalam sketsa, yang menjadi bagian awal dari Reportase Sketsa. Liputan ini dilengkapi dengan sketsa yang saya buat sendiri.
Di tengah kemajuan teknologi yang pesat, saya memilih untuk tetap menghasilkan karya dengan orisinalitas menggunakan kertas A4, pensil arang, dan pensil 8B untuk melukiskan situasi yang saya saksikan secara langsung.
"Karuhun tidak pernah pergi jauh – mereka hidup dalam setiap aturan yang kita jalankan dan setiap langkah yang kita tempuh di atas tanah ini."
Sejak zaman dahulu, masyarakat telah mengembangkan sistem nilai dan aturan hidup yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karuhun menjadi sumber inspirasi dan dasar bagi pembentukan kaidah-kaidah yang mengatur hubungan antarmanusia, hubungan manusia dengan alam, serta hubungan manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi. Aturan-aturan ini tidak dibuat secara sewenang-wenang, melainkan hasil pengamatan dan pengalaman panjang tentang cara hidup yang baik dan benar.
Di berbagai daerah di Indonesia, kita dapat melihat contoh nyata tentang bagaimana karuhun hidup dalam aturan yang dijalankan masyarakat. Misalnya, di kawasan adat yang menjaga tradisi leluhur, aturan tentang pengelolaan sumber daya alam, tata cara bersosialisasi, dan upacara keagamaan masih dijalankan dengan ketat. Setiap aturan tersebut membawa jejak pemikiran dan harapan karuhun untuk menjaga kelangsungan hidup masyarakat dan keutuhan alam sekitar.
Aturan-aturan yang berasal dari karuhun tidak hanya berupa larangan atau perintah yang kaku. Lebih dari itu, mereka mengandung makna tentang cara hidup yang seimbang dan penuh rasa hormat. Ketika kita menjalankan aturan-aturan tersebut, kita secara tidak langsung berkomunikasi dengan karuhun, menerima nasihat mereka dan melanjutkan warisan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Tanah menjadi media yang menghubungkan kita dengan karuhun. Setiap langkah yang kita tempuh di atas tanah ini adalah langkah yang sama dengan yang pernah mereka tempuh. Tanah menyimpan cerita tentang perjuangan, kegembiraan, dan pengalaman mereka dalam menjaga dan merawat bumi yang menjadi tempat tinggal bersama.
Masyarakat yang hidup erat dengan tanah, seperti petani atau masyarakat adat, sangat memahami hubungan ini. Mereka tahu bahwa tanah bukan hanya tempat untuk mencari nafkah, melainkan juga tempat di mana karuhun telah bekerja dan berjuang sebelum mereka. Setiap kali mereka membajak tanah, menanam benih, atau memanen hasil, mereka merasakan kehadiran karuhun yang telah mengajarkan cara-cara untuk hidup berdampingan dengan alam.
Tanah juga menjadi saksi bisu tentang aturan-aturan yang telah dijalankan oleh karuhun. Misalnya, larangan untuk merusak hutan, menjaga kebersihan sungai, atau tidak mengambil sumber daya alam lebih dari yang diperlukan, semua ini telah tertanam dalam cara masyarakat berinteraksi dengan tanah. Ketika kita menginjakkan kaki di atas tanah yang sama, kita menerima tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan mereka dalam menjaga kelangsungan hidup bumi ini.
Meskipun zaman terus berkembang dan kehidupan menjadi semakin kompleks, kehadiran karuhun tidak pernah menghilang. Bahkan di tengah kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup, nilai-nilai dan aturan yang berasal dari karuhun tetap relevan dan berguna. Kita dapat melihatnya dalam berbagai aspek kehidupan modern.
Dalam pengelolaan lingkungan hidup, misalnya, prinsip-prinsip yang diajarkan oleh karuhun tentang menjaga keseimbangan alam semakin diperlukan. Masyarakat modern mulai menyadari bahwa kerusakan alam yang terjadi saat ini adalah akibat dari melupakan nasihat leluhur tentang pentingnya hidup berdampingan dengan alam. Ketika kita mulai menerapkan praktik-praktik ramah lingkungan, seperti penggunaan sumber daya secara bijak atau pengelolaan sampah dengan baik, kita sebenarnya sedang menjalankan aturan yang telah diajarkan oleh karuhun.
Dalam hubungan antarmanusia juga demikian. Nilai-nilai seperti rasa hormat kepada orang tua, kerja sama antar sesama, dan kejujuran masih menjadi dasar bagi kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai ini tidak datang dari zaman sekarang, melainkan merupakan warisan dari karuhun yang telah mengerti bahwa kehidupan bersama hanya dapat berjalan dengan baik jika didasari oleh rasa saling menghargai dan tanggung jawab.
Bahkan dalam pembuatan keputusan yang berkaitan dengan perkembangan masyarakat, pandangan karuhun dapat menjadi acuan berharga. Mereka telah mengalami berbagai perubahan zaman dan memiliki pengalaman tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik bagi kelangsungan hidup masyarakat. Ketika kita mengacu pada pemikiran mereka, kita dapat menghindari kesalahan yang mungkin terjadi dan menemukan jalan yang lebih tepat untuk masa depan.
Karuhun memang tidak pernah pergi jauh. Mereka hidup dalam setiap aturan yang kita jalankan, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Mereka juga ada dalam setiap langkah yang kita tempuh di atas tanah ini, yang telah menyaksikan perjalanan hidup mereka dan kini menyaksikan perjalanan hidup kita. Warisan yang mereka tinggalkan berupa nilai-nilai, aturan, dan cara hidup yang seimbang menjadi panduan berharga bagi kita dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Masyarakat Baduy, khususnya kelompok Baduy Dalam, menjalani kehidupan dengan menjadikan alam sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari diri mereka, bukan sebagai objek yang akan dikuasai. Semua aktivitas mereka diatur oleh prinsip pikukuh atau aturan adat yang tegas, yang melarang segala bentuk tindakan yang dapat merusak lingkungan sekitar.
Alam dianggap sebagai makhluk yang memiliki kehidupan sendiri dan sumber bagi kelangsungan hidup, bukan sekadar barang yang dapat diperjualbelikan atau dimanfaatkan sesuka hati.
Berbagai aspek penyatuan alam dengan kehidupan masyarakat Baduy tercermin dalam beberapa prinsip utama :
- Filosofi Lojor Henteu Benang Dipotong, Pendek Henteu Benang Disambung
Prinsip ini berarti "panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung". Ajaran ini mengajarkan penerimaan terhadap alam sebagaimana adanya, tanpa mencoba mengubah bentuknya atau mengejar kemewahan yang tidak diperlukan.
- Larangan Perusakan Gunung Teu Meunang Dilebur, Lebak Teu Meunang Dirusak
Istilah ini menyatakan bahwa gunung tidak boleh dihancurkan dan lembah tidak boleh dirusak. Masyarakat Baduy memahami bahwa alam harus dijaga agar tidak tercemar, karena setiap kerusakan akan memberikan dampak buruk bagi manusia itu sendiri.
- Zona Konservasi Leuweung Titipan
Wilayah hutan Baduy dibagi menjadi beberapa zona, termasuk leuweung kolot atau hutan tua yang disakralkan. Kawasan ini tidak boleh diolah atau diambil hasilnya sama sekali.
- Pertanian Tanpa Bahan Kimia
Masyarakat Baduy bercocok tanam padi huma atau ladang kering tanpa menggunakan pupuk sintetis maupun pestisida. Alat pertanian yang digunakan hanya terbuat dari kayu atau bambu, dan tidak diperkenankan menggunakan hewan seperti kerbau atau sapi untuk membajak agar struktur tanah tidak rusak.
- Larangan Modernisasi
Untuk menjaga keaslian lingkungan, mereka tidak menggunakan teknologi modern, alat elektronik, sabun atau deterjen, kendaraan bermotor, dan bahkan tidak mengenakan alas kaki seperti sandal atau sepatu.
- Leuit atau Lumbung Padi
Sebagai bentuk penyimpanan pangan yang berkelanjutan, hasil panen disimpan di leuit, sebuah bangunan kecil yang dirancang untuk menjaga padi tetap awet secara alami.
Kehidupan sehari-hari mereka berjalan selaras dengan alam; mereka berjalan kaki melewati sungai, hutan, dan perbukitan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Kesederhanaan dalam hidup membuat mereka terhindar dari dampak polusi dan berhasil menjaga keseimbangan di antara semua komponen ekosistem.
Karuhun urang Baduy adalah sebutan bagi leluhur masyarakat Baduy, yang ajarannya diwujudkan dalam Pikukuh Karuhun, pedoman hidup yang ketat yang mengatur segala aspek kehidupan mereka untuk menjaga hubungan erat dengan alam.
Pedoman ini mencakup larangan merusak lingkungan, penggunaan teknologi modern, serta ajaran untuk menjaga tradisi leluhur, semua dilakukan untuk menjaga kelangsungan budaya dan alam. Sistem ini dipimpin oleh para Pu'un atau pemimpin adat.
Makna dan Peran Karuhun
- Leluhur dan Pedoman Hidup
Ajaran dari karuhun yang dikenal sebagai Pikukuh Karuhun menjadi hukum adat dan nilai-nilai spiritual bagi seluruh masyarakat Baduy.
- Ketaatan pada Alam
Dalam Pikukuh Karuhun tertuang perintah untuk menjaga gunung, hutan, dan segala bentuk alam sekitar. Masyarakat Baduy percaya bahwa alam memiliki batasan kesabaran dan akan memberikan balasan terhadap setiap perbuatan manusia.
- Religiusitas
Ketaatan terhadap ajaran leluhur ini berasal dari keyakinan yang kuat, bahkan dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Batara Tunggal.
Penerapan Pikukuh Karuhun
- Larangan yang Tegas
Di wilayah Baduy Dalam, dilarang keras menggunakan teknologi modern seperti telepon seluler atau listrik, membangun rumah bertingkat atau permanen, serta mengenakan alas kaki.
- Kearifan dalam Pengelolaan Sumber Daya
Masyarakat menggunakan metode pertanian alami, tidak memakai bahan kimia, dan hanya mengambil sumber daya alam secukupnya untuk kebutuhan hidup.
- Struktur Adat yang Teratur
Kehidupan masyarakat diatur oleh sistem kepemimpinan adat yang dipimpin oleh para Pu'un di tiga wilayah tangtu, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik yang merupakan keturunan langsung dari leluhur.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan dari arus modernisasi yang semakin kuat, masyarakat Baduy terutama kelompok Baduy Dalam, tetap berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjaga tradisi leluhur.
Ajaran dalam Pikukuh Karuhun menjadi dasar jati diri yang tidak dapat mereka tinggalkan.