Mbah Senari Pahlawan Budaya yang Jaga Kelestarian Lontar Yusuf di Banyuwangi

Selasa, 17 Mar 2026 21:14
Mbah Senari adalah sosok penting bagi masyarakat Osing yang menjaga tradisi Mocoan Lontar Yusuf. Sosok ini berperan sebagai penyalin kitab, guru tradisi, dan penjaga ritual, serta telah menyalin lebih dari 200 teks. Istimewa

NARASINETWORK.COM - BANYUWANGI, Mbah Senari merupakan sosok penting bagi masyarakat Osing. Tokoh ini menjaga tradisi pembacaan syair tentang Nabi Yusuf dengan tembang khas yang dikenal sebagai Mocoan Lontar Yusuf agar tidak hilang seiring berjalannya waktu.

Mocoan Lontar Yusuf memiliki pelihara yang menjalankan tiga peran utama dalam dunia budaya. Penyalin kitab menjadi salah satu peran utamanya. Mbah Senari termasuk dalam kelompok kecil orang yang memiliki keahlian menulis ulang bait-bait teks ke atas daun lontar menggunakan aksara Pegon.

Ia aktif memberikan ilmu kepada generasi muda di Desa Kemiren, sehingga regenerasi pembaca Lontar dapat terjaga dengan baik. Pengawasan terhadap ritual juga menjadi bagian penting, ia memastikan pelaksanaan acara sesuai dengan aturan yang berlaku, terutama dalam acara sakral seperti syukuran atau hajatan masyarakat.

Lontar Yusuf yang dilestarikan adalah naskah puisi naratif yang kaya isi. Naskah tersebut terdiri dari 12 Pupuh, 593 bait, dan 4.366 larik. Teks ditulis dalam aksara Pegon dan mengisahkan perjalanan hidup Nabi Yusuf AS.

Struktur cerita dalam naskah tidak dibaca dengan cara biasa, melainkan ditembangkan sesuai aturan metrum tradisional. Pupuh yang digunakan meliputi Kasmaran, Durma, Pangkur, dan Sinom.

Alur cerita merangkum perjalanan spiritual dan fisik Nabi Yusuf, mulai dari mimpi masa kecil ketika ia melihat 11 bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Nabi Yusuf kemudian mengalami pengalaman yang menantang, dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, hingga mengalami tuduhan palsu dan dipenjara di Mesir. Kemudian, kemampuan untuk menafsirkan mimpi membawanya menjadi pejabat penting di Mesir, serta menyaksikan penyatuan kembali dengan keluarga yang penuh kasih.

Bagi masyarakat Osing, bait-bait dalam teks bukan hanya cerita, melainkan media untuk penyampaian ajaran dan doa. Isinya menekankan nilai kesabaran, akhlak yang baik, serta keyakinan pada rancangan Tuhan.

Mbah Senari telah menyalin lebih dari 200 naskah selama hidupnya. Hal ini memastikan naskah fisik tetap tersedia untuk dibaca dalam berbagai ritual adat di Banyuwangi.

Mbah Senari meninggal dunia pada hari Selasa lalu (10/3/2026) Kabar duka ini disampaikan oleh berbagai pihak, termasuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi serta komunitas budaya setempat. Ia menghembuskan napas terakhir pada sore hari di kediamannya di Desa Adat Kemiren, Banyuwangi.

Kepergiannya dianggap sebagai kehilangan besar bagi dunia seni budaya Indonesia. Mbah Senari merupakan satu-satunya penyalin naskah Lontar Yusuf yang tersisa di Desa Kemiren. Tokoh ini adalah maestro yang fokus pada pelestarian sastra kuno Suku Osing sejak tahun 1969.

Mbah Senari telah menyalin lebih dari 200 teks menggunakan aksara Pegon agar tradisi dapat dipelajari oleh generasi 


Berita Terkini