Menu Makanan Bergizi Gratis Banyak Disorot, Orang Tua Murid Upload Buah-Buahan Busuk

Jumat, 27 Feb 2026 03:28
    Bagikan  
Menu Makanan Bergizi Gratis Banyak Disorot, Orang Tua Murid Upload Buah-Buahan Busuk
Ilustrasi

Program MBG kembali menuai polemik disejumlah daerah, porsi yang tak sesuai bermunculan di media sosial

NARASINETWORK.COM - KAB. BANDUNG 

-Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dengan alokasi biaya maksimal Rp10.000 per porsi sebagaimana ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional menuai sorotan dari para orang tua murid di berbagai daerah.


Keluhan utama mengemuka pada dua hal, yakni porsi yang dinilai minim dan kualitas menu yang dianggap belum sebanding dengan kebutuhan gizi anak usia sekolah.


Orang Tua Murid: “Rp10 Ribu, Tapi Kok Porsinya Sangat Minim?”


Sejumlah orang tua mengaku heran karena menu yang diterima anak-anak mereka dinilai tidak mencukupi kebutuhan energi harian. Beberapa di antaranya menyebut lauk yang terlalu kecil, sayur yang terbatas, serta minimnya variasi protein hewani.


“Anak saya pulang masih lapar. Katanya nasinya sedikit dan lauknya kecil,” ujar salah satu wali murid sekolah dasar di Jawa Barat, Jumat (27/2/2026). 


Secara umum, orang tua berharap program MBG benar-benar dirancang untuk menunjang tumbuh kembang anak, terutama bagi keluarga yang menggantungkan asupan harian anaknya pada program sekolah.


Buah Dilaporkan Tidak Layak Konsumsi


Selain persoalan porsi, sejumlah orang tua penerima manfaat juga mengunggah kondisi menu buah yang dinilai tidak layak konsumsi. Dalam beberapa dokumentasi yang beredar di grup wali murid dan media sosial, terlihat buah yang tampak memar, terlalu matang, hingga berwarna kecokelatan.


Para orang tua menyayangkan hal tersebut karena buah seharusnya menjadi sumber vitamin penting dalam menu MBG. Mereka menilai kualitas bahan pangan, khususnya buah-buahan, harus mendapatkan pengawasan ketat mulai dari proses pengadaan hingga distribusi ke sekolah.


“Kalau memang anggarannya terbatas, minimal kualitasnya dijaga. Jangan sampai anak-anak justru menerima buah yang sudah tidak segar,” ungkap seorang wali murid lainnya.


Hingga saat ini, keluhan tersebut masih bersifat laporan dari penerima manfaat dan belum ada keterangan resmi terkait evaluasi menyeluruh atas kualitas buah yang dibagikan.


Dengan batas anggaran Rp10.000 per porsi, sejumlah pihak menilai tantangan terbesar ada pada fluktuasi harga bahan pokok. Harga beras, telur, ayam, hingga sayuran di beberapa daerah terus bergerak mengikuti kondisi pasar.


Jika dikalkulasikan secara sederhana, satu porsi makan bergizi ideal setidaknya mencakup:

Karbohidrat (nasi atau sumber lain)

Protein hewani (ayam, telur, ikan)

Protein nabati (tahu/tempe)

Sayur

Buah

Dalam kondisi harga normal sekalipun, komposisi tersebut dinilai sulit dipenuhi secara optimal dengan plafon Rp10.000, apalagi jika mempertimbangkan biaya distribusi, pengolahan, dan operasional dapur.


Sorotan pada Mitra SPPG dan Pengelola


Orang tua murid juga mendesak mitra SPPG (yayasan) serta pengelola dan pengurus SPPG agar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG.


Mereka meminta adanya:

1. Transparansi penggunaan anggaran

2. Standar porsi yang jelas dan terukur

3. Pengawasan rutin terhadap kualitas bahan dan pengolahan

4. Pelibatan komite sekolah atau perwakilan orang tua

Sejumlah wali murid bahkan menyebut kekhawatiran bahwa program ini berpotensi menjadi celah penyimpangan jika tidak diawasi ketat.


Pentingnya Transparansi dan Akuntabilitas

Program pemberian makanan bergizi sejatinya memiliki tujuan mulia: menekan angka stunting, meningkatkan konsentrasi belajar, serta memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap mendapatkan asupan layak.


Namun tanpa pengawasan ketat dan transparansi anggaran, program yang baik berisiko kehilangan kepercayaan publik.


Evaluasi menyeluruh dinilai menjadi langkah krusial agar MBG tidak hanya menjadi program administratif, tetapi benar-benar berdampak nyata bagi generasi muda Indonesia.

Kepercayaan publik terhadap program sosial sangat bergantung pada keterbukaan dan konsistensi pelaksanaannya.

**

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Masa Kejayaan dan Penurunan Popularitas Telenovela di Televisi Nasional
Indonesia Emas 2045 Kesehatan Jadi Modal Utama Generasi Muda
Narasinetwork.com Dukung Penyebaran Informasi IMLF 2026 dan Peringatan 100 Tahun Jam Gadang
IMLF 2026 Menghubungkan Bangsa Lewat Literasi di Tengah Peringatan Satu Abad Jam Gadang
IMLF 2026 KAI Perkuat Citra Sumbar sebagai Destinasi Budaya dan Pariwisata Dunia
BAPENDA BEDAS RUN 5K 2026 Siap Digelar, Lunas Pajaknya, Happy Larinya!
Pancasila Pemersatu Bangsa, PLN Icon Plus Teguhkan Semangat Melayani hingga Timur Indonesia 
IMLF-4 Umumkan Tiga Calon Terbaik Lomba Ungkapan Kata Klasik Minangkabau
Premier League Rilis Lini Masa Musim Baru Pascapiala Dunia 2026
Komunitas Salihara Gelar Pameran ke-18 Goenawan Mohamad Teks, Gambar, Kitab
Sederet Teror Pocong yang Bikin Heboh Warga Masyarakat Indonesia, Apa Maksudnya?
Cetak Rekor Tiga Kali Beruntun Persib Bandung Raih Gelar Juara Hattrick Liga Nasional
Persib Juara Liga Ribuan Pendukung Padati Kawasan Tugu Kujang Bogor Hingga Jalur Penghubung
Mengatur Posisi dan Jenis Bantal Mencegah Cedera Tulang Belakang Saat Tidur
Pengalaman Magang Human Resources Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya di Perusahaan Nasional
Pemerintah Siapkan Stimulus Fiskal dan Pajak Impor Guna Redam Pelemahan Kurs Rupiah
Satupena dan Polda Sumbar Bersama Jaga Alam Lewat Penanaman Pohon IMLF-4
Hutan Tarik dan Kepemimpinan Adipati Pertama Tuban "Ronggolawe"
Pelayanan RSUD Majalaya Tuai Apresiasi dari Keluarga hingga Pasien, Begini Katanya
Monumen Makam Mayor Jenderal Johan Jacob Perie di Batavia