Wawancara Tokoh : Nuyang Jaimee "Sastra Menyuarakan Perlindungan Perempuan dan Anak"

Sabtu, 18 Jul 2026 20:55
    Bagikan  
Wawancara Tokoh : Nuyang Jaimee "Sastra Menyuarakan Perlindungan Perempuan dan Anak"
Nuyang Jaimee

Melalui puisi Suara Perempuan, penyair dan pegiat teater Nuyang Jaimee mengangkat isu kekerasan terhadap perempuan dan anak.

NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Penyair, penulis, dan pegiat teater Nuyang Jaimee membacakan puisi berjudul Suara Perempuan pada sesi pembuka ramah tamah dalam diskusi buku bertema perlindungan perempuan di Jakarta, Juni 2026.

Penampilan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang mengangkat isu kekerasan terhadap perempuan dan anak. Melalui puisinya, Nuyang menyampaikan pesan tentang pentingnya menghentikan kekerasan di lingkungan keluarga serta memberi ruang bagi suara para korban.

Puisi Suara Perempuan menggambarkan kondisi perempuan dan anak yang hidup di tengah ancaman kekerasan. Sejumlah bait menyoroti dampak yang muncul akibat tindakan tersebut, baik terhadap korban maupun kehidupan keluarga.

Pesan yang disampaikan mengajak masyarakat untuk tidak menganggap kekerasan sebagai persoalan yang dapat dibiarkan. 

SUARA PEREMPUAN


Seorang perempuan

menggulung sanggulnya

dadanya koyak

matanya berkabut

kekerasan datang seperti api

rumah berubah jadi ruang eksekusi


Almanak tak pernah selesai

menghitung musim demi musim

kekejaman tak bergeming

setiap lebam adalah riwayat

tubuh perempuan jadi hikayat

jejak penyiksaan, kekuasaan

yang menjadi pengadilan

mengalahkan kuasa Tuhan


Cinta tumbuh menyesakkan

kesetiaan jadi doktrin kepatuhan

setiap maaf adalah pisau yang menunda kematian

hari demi hari mengumpulkan nyawa yang hilang


Anak-anak berhenti tertawa

ibu tak punya jarik untuk mengusap airmata

hentakan kaki datang menginjak harapan

mengubah malam semakin mencekam

setiap hari anak-anak memanen kebencian


keluarga adalah rahim yang melahirkan peradaban

tak ada agama, adat, hukum bahkan kekuasaan yang layak

jika masih ada perempuan dan seorang anak yang tidur

dalam jerit dan ketakutan


Hari ini aku ingin mengembalikan suara

kepada mereka yang dibungkam nestapa

ketika mata perempuan dipenuhi telaga

ketika kanak-kanak dipaksa memeras airmata

sebab luka dan ketakutan bukan warisan

sebab cinta tak melahirkan penindasan

sebab cinta tak seharusnya ditulis

dengan sejarah kelam



Nuyang Jaimee

Jatiasih, 13.06.26/22.09



Narasinetwork.com berkesempatan untuk berbincang dengan Ibu Nuyang Jaimee, berikut wawancara kami sajikan untuk para pembaca setia Narasinetwork.com


"Sastra tidak mengubah dunia sendirian, tetapi mampu menggerakkan cara orang memandang sebuah persoalan."


NN : Dalam puisi Suara Perempuan, Ibu Nuyang tidak hanya menampilkan kisah korban, tetapi juga menyinggung lingkungan yang membiarkan kekerasan terjadi. Apa yang ingin ibu sampaikan?

NJ : Kekerasan tidak berdiri sendiri. Ada sikap diam, rasa takut, atau pembiaran yang membuat peristiwa itu terus berulang. Puisi ini mengajak setiap orang melihat bahwa persoalan tersebut bukan hanya urusan korban, tetapi juga tanggung jawab masyarakat.

NN : Mengapa Ibu Nuyang memilih menyampaikan isu kekerasan melalui karya sastra, bukan tulisan opini atau esai?

NJ : Sastra memberi ruang bagi pembaca untuk merasakan pengalaman tanpa merasa digurui. Melalui puisi, pesan dapat diterima dengan cara yang lebih terbuka sehingga setiap orang dapat memaknainya sesuai pengalaman masing-masing.

NN : Banyak karya Nuyang Jaimee berbicara tentang persoalan kemanusiaan. Apa yang membuat tema itu terus hadir dalam proses berkarya?

NJ : Saya menulis berdasarkan peristiwa yang saya lihat, dengar, dan rasakan. Selama masih ada persoalan yang menyangkut martabat manusia, tema itu akan tetap memiliki tempat dalam karya saya.

NN : Menurut Ibu Nuyang, sejauh mana seorang penyair memiliki tanggung jawab terhadap isu sosial?

NJ : Penyair memiliki kebebasan menentukan tema, tetapi juga memiliki kesempatan menyampaikan suara yang jarang terdengar. Saya memilih menggunakan kesempatan itu untuk membahas persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

NN : Ibu Nuyang aktif di teater, sastra, dan pendidikan seni.

Bagaimana pengalaman tersebut membentuk cara Ibu menulis?

NJ : Ketiganya saling melengkapi. Teater mengajarkan penghayatan tokoh, mengajar memberi kesempatan bertemu banyak karakter, sedangkan menulis menjadi tempat mengolah pengalaman itu menjadi karya.

NN : Apakah ada proses khusus sebelum sebuah puisi dinyatakan selesai?

NJ : Saya biasanya membiarkan naskah tersimpan lebih dahulu. Setelah itu saya membaca kembali, memperbaiki pilihan kata, mengurangi bagian yang tidak diperlukan, lalu memastikan setiap bait memiliki fungsi yang jelas.

NN : Di tengah perkembangan media digital bagaimana Ibu Nuyang melihat peluang sastra menjangkau pembaca yang lebih luas?

NJ : Media digital membuka kesempatan yang besar. Karya sastra kini lebih mudah dibaca oleh berbagai kalangan. Tantangannya adalah menjaga kualitas karya agar tetap memiliki nilai, bukan sekadar mengikuti arus.

NN : Apa harapan Ibu Nuyang terhadap masyarakat setelah mendengar atau membaca Suara Perempuan?

NJ: Saya berharap semakin banyak orang berani menolak kekerasan, memberi dukungan kepada korban, serta membangun lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak.

(*)

Nuyang Jaimee :

Nuyang Jaimee mengawali perjalanan berkesenian melalui dunia teater sekitar tahun 2000-an. Setelah itu, ia aktif menulis cerpen dan puisi. Karya cerpennya telah dimuat di sejumlah media massa Jakarta, daerah, majalah sastra, serta berbagai antologi cerpen di Indonesia dan luar negeri.

Puisi-puisinya juga diterbitkan melalui sejumlah antologi bersama, baik tingkat lokal maupun internasional. Ia bergabung dengan komunitas sastra Wanita Penulis Indonesia (WPI) dan Masyarakat Kesenian Jakarta (MKJ).

Nuyang Jaimee merupakan pendiri sekaligus Direktur Cakra Budaya Indonesia (CBI), serta pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Hingga saat ini, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan seni sebagai pemain teater, pemeran monolog, sutradara, penulis, pembaca puisi, pengajar seni, narasumber, moderator, dan Master of Ceremony.

Selain menulis esai, cerpen, puisi, naskah drama, dan skenario, ia juga mengajar serta melatih seni di sekolah. Di bidang prestasi, Nuyang Jaimee meraih Juara I Lomba Baca Puisi se-Asia Tenggara di Malaysia dalam acara ZKMUA dan Juara II Lomba Cipta Puisi Elaborasi Karya Seni Rupa (Lukisan) yang diselenggarakan Satarupa.

Buku puisi tunggalnya berjudul Pendoa Yang Lupa Nama Tuhannya diterbitkan pada 2023.

(*)

Wawancara Tokoh NARASINETWORK.COM (Erna W. Wiyono) x Wawancara Tokoh : Nuyang Jaimee "Sastra Menyuarakan Perlindungan Perempuan dan Anak"

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Hari Pelanggan Nasional 2026, Adira Finance Cabang Madiun Perkuat Komitmen Berikan Pelayanan Terbaik
Langkah Nyata RSUD Majalaya & IDI Kabupaten Bandung Temukan Potensi Thalassemia Sejak Dini
NARASINETWORK.COM Jadi Media Partner FESPIN XIII 2026, Perkuat Publikasi Diplomasi Budaya Asia
Mentan Amran Realisasikan Bantuan Alsintan bagi Buruh Tani di Karawang
MTQ Nasional ke-31 di Semarang Bahas Keilmuan Al-Qur’an dan Transformasi Dakwah di Era AI
PMI Manufaktur Indonesia Turun Tipis pada Agustus 2026, Kemenperin Dorong Penguatan Industri dan Ekspor
Gencarkan Penertiban Pajak, Bapenda Kabupaten Bandung Gelar Operasi Gabungan 3 Hari
KDS Dukung Raperda Pornografi, Edukasi dan Pendampingan Anak Harus Diperkuat
Kawal Perubahan APBD 2026, Fraksi Demokrat DPRD Kabupaten Bandung Tegaskan Anggaran Harus Bekerja untuk Rakyat
Tri Suhartanto ke Polresta Bandung, Rekam Jejaknya Penuh Lika-liku
Warga Jongor di Bandung, Turun Tangan Perbaiki Langsung Jalan yang Rusak
Penelusuran Rokok Ilegal di Kabupaten Bandung Mulai Diungkap, Satpol PP Gandeng Bea Cukai
Program Pentahelix Dibentuk, Camat Ciparay Dorong Mitigasi Sejak Dini
Pentahelix Dibentuk, Kapolsek Ciparay Siap Dukung dan Kawal Program Pemerintah
Reses Ala Ketua DPRD Kabupaten Bandung Hj. Reni Rahayu Fauzi Bersama Konstituen
Lampu Jalan Mati di Dekat Kantor PLN Baleendah, Keselamatan Pengendara Dipertaruhkan
Asep Ikhsan di Dikpol Demokrat Jabar: "Wakil Rakyat Tidak Cukup Hanya Hadir di Sidang!"
Perkuat Silaturahmi, Jajaran Fraksi Partai Demokrat Kabupaten Bandung Gelar Lomba Rakyat yang Meriah
BBWS CimanCis Beri Santunan dan Bantuan Pendidikan untuk Keluarga Korban Pohon Tumbang di Cirebon
Reses Faisal Radi: Warga Soroti Bukti Nyata Pembangunan di Cangkuang