NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Fenomena berkurangnya penggunaan media sosial mulai terlihat pada sebagian generasi Z dan Baby Boomers di Indonesia. Kondisi ini dipicu oleh kejenuhan akibat arus informasi yang terus mengalir, kecemasan saat menggunakan platform digital, serta meningkatnya polarisasi opini di ruang maya. Tren tersebut muncul seiring tingginya penggunaan internet nasional dan berkembangnya kebiasaan mengambil jeda dari media sosial melalui digital detox.
Laporan Digital 2025 dari We Are Social Indonesia menunjukkan tingkat penggunaan internet di Indonesia masih tinggi. Meski demikian, sebagian pengguna mulai membatasi aktivitas di media sosial sebagai upaya mengurangi paparan informasi yang berlebihan dan menjaga kenyamanan saat beraktivitas di ruang digital.
Pada kelompok Gen Z, penggunaan media sosial kerap dikaitkan dengan Fear of Missing Out (FOMO), tekanan untuk mengikuti standar visual, serta dorongan untuk selalu aktif secara daring. Sejumlah riset menyebut kondisi tersebut mendorong sebagian anak muda mencoba digital detox dengan mengurangi penggunaan media sosial.
Salah satu kebiasaan yang mulai dikenal adalah penggunaan dump phone atau telepon seluler fitur yang hanya digunakan untuk komunikasi dasar. Selain itu, sebagian pengguna memilih menerapkan pola zero post, yaitu tetap mempertahankan akun media sosial tanpa mengunggah konten pribadi sehingga masih dapat mengikuti informasi tanpa terlibat aktif di ruang publik.
Sementara itu, Baby Boomers menghadapi tantangan yang berbeda. Kelompok ini lebih sering terpapar hoaks dan perdebatan berkepanjangan di grup percakapan maupun Facebook. Rasa lelah akibat arus informasi tersebut membuat sebagian pengguna memilih mengurangi waktu layar atau membatasi penggunaan media sosial.
Kajian mengenai perilaku digital masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa digital detox umumnya dilakukan secara sementara. Banyak pengguna hanya menghapus aplikasi media sosial selama beberapa hari atau beberapa minggu, kemudian memasangnya kembali ketika diperlukan.
Waktu yang sebelumnya digunakan untuk mengakses media sosial kemudian dialihkan ke aktivitas lain, seperti membaca buku cetak, berkebun, berolahraga, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau mengikuti kegiatan di luar ruang.
Di sisi lain, meningkatnya pembahasan mengenai perlindungan anak di ruang digital turut mendorong masyarakat lebih bijak mengatur penggunaan gawai, termasuk membatasi waktu mengakses media sosial di lingkungan keluarga.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tingginya akses internet tidak selalu diikuti dengan meningkatnya intensitas penggunaan media sosial. Bagi sebagian masyarakat, mengurangi aktivitas di platform digital menjadi pilihan untuk memperoleh waktu istirahat dari arus informasi yang terus berkembang.
