Tujuh Buku Diluncurkan dalam Rangka HPN 2026 Dorong Penguatan Literasi dan Budaya Lokal

Senin, 9 Feb 2026 09:49
Dalam rangka Hari Pers Nasional 2026, tujuh buku diluncurkan di Ballroom Hotel Aston Kota Serang pada 8 Februari 2026. Dua di antaranya mengangkat kekayaan lokal Banten. Istimewa

NARASINETWORK.COM - Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2026 tidak hanya menjadi ajang refleksi mengenai perjalanan perkembangan pers Indonesia sepanjang masa, tetapi juga dijadikan momentum untuk memperkuat tradisi literasi di kalangan insan pers seluruh negeri. Momentum tersebut ditandai dengan peluncuran serangkaian karya tulis berupa tujuh buku yang diselenggarakan di Ballroom Hotel Aston, Kota Serang, Provinsi Banten, pada hari Minggu (8/2/2026).

Kegiatan peluncuran buku tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari rangkaian acara resmi peringatan HPN 2026, yang dirancang untuk menjadi simbol komitmen kolektif insan pers dalam menjaga pola berpikir serta kualitas karya jurnalistik di tengah derasnya arus informasi yang berkembang cepat dan bersifat instan di era digital saat ini.

Salah satu poin yang menjadi sorotan dalam peluncuran buku-buku tersebut adalah fokus pada kekayaan budaya lokal, di mana dua dari tujuh judul yang diperkenalkan mengangkat tema kehidupan masyarakat adat dan kuliner tradisional dari Provinsi Banten. Karya-karya ini menegaskan bahwa institusi pers memiliki peran penting tidak hanya dalam menyampaikan informasi, tetapi juga dalam menjaga kelangsungan identitas budaya daerah sekaligus merekam denyut nadi sosial masyarakat Indonesia.

Secara rinci, judul-judul buku yang diluncurkan dalam rangkaian HPN 2026 meliputi: (1) Langkah Sunyi Menuju Puncak, (2) Belajar Mencintai dari Kearifan Baduy, (3) Wajah Pers Indonesia Kini dan Esok, (4) Melawat ke Talawi, Tapak Langkah Wartawan Adinegoro, (5) Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2025, (6) Jojorong, Kuliner Tradisional Khas Banten, dan (7) Panggil Saya Tommy.

Di antara ketujuh buku tersebut, Langkah Sunyi Menuju Puncak khususnya merupakan karya biografi yang mengangkat perjalanan hidup serta kontribusi Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Akhmad Munir.

Dalam pidato sambutannya pada acara peluncuran, Akhmad Munir menilai bahwa peluncuran buku-buku tersebut mencerminkan keberagaman wajah pers Indonesia, yang mencakup berbagai aspek mulai dari penguatan nilai profesionalisme jurnalistik, dokumentasi sejarah perjuangan dunia pers, hingga upaya dalam memperkuat serta melestarikan kearifan lokal yang menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya bangsa.

Menurutnya, di tengah berbagai tantangan yang muncul akibat disrupsi digital dan kemunculan perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang pesat, kualitas tulisan serta analisis menjadi fondasi dalam membangun dan memelihara kepercayaan publik terhadap institusi media massa.

“Kepercayaan publik lahir dari karya yang ditulis dengan landasan pengetahuan yang kuat, rasa empati terhadap masyarakat, serta tanggung jawab terhadap fakta dan kebenaran. Buku-buku yang diluncurkan hari ini adalah bukti bahwa wartawan Indonesia khususnya yang tergabung dalam PWI terus berpikir ke depan, tidak hanya fokus pada kebutuhan informasi saat ini tetapi juga mempersiapkan pondasi yang kokoh untuk perkembangan pers di masa mendatang,” ujar Akhmad Munir yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa upaya penguatan literasi menjadi kunci dalam menjaga marwah serta integritas profesi jurnalistik di tengah derasnya banjir informasi instan yang seringkali kurang memperhatikan aspek akurasi dan makna.

“Perkembangan teknologi memang tidak dapat dihentikan dan harus kita terima sebagai bagian dari dinamika zaman. Namun demikian, nurani jurnalistik, integritas profesi, serta kualitas tulisan yang menjadi ciri wartawan profesional tidak boleh pernah ditinggalkan atau dikorbankan semata-mata untuk mengejar kecepatan penyampaian informasi.

Literasi adalah benteng yang akan menjaga eksistensi dan kredibilitas pers Indonesia di tengah lautan informasi yang kompleks,” tegasnya.

Peluncuran ketujuh buku tersebut, tambah Akhmad Munir, sekaligus berfungsi sebagai pengingat bahwa pekerjaan jurnalistik tidak hanya sekadar berpacu pada kecepatan dalam menyampaikan berita, tetapi juga menuntut adanya ketajaman analisis terhadap setiap isu yang diangkat, makna yang ingin disampaikan kepada pembaca, serta tanggung jawab moral terhadap perkembangan sejarah dan masa depan bangsa Indonesia.

Acara peluncuran buku tersebut dihadiri oleh berbagai unsur, antara lain perwakilan dari Dewan Pers, pengurus PWI sejumlah daerah, akademisi bidang komunikasi dan jurnalistik, sastrawan, budayawan, serta perwakilan pemerintah daerah Provinsi Banten yang menyampaikan apresiasi terhadap upaya tersebut sebagai bentuk kontribusi pers dalam pengembangan sektor budaya dan pendidikan di daerah.

 

 

 


Berita Terkini