Respon WALHI Terkait Fenomena Macan Tutul Turun Gunung: Alarm Kerusakan Habitat di Jawa Barat

Kamis, 5 Feb 2026 16:12
Penampakan macan tutul yang berkeliaran di kampung maruyung Pacet Kabupaten Bandung Istimewa

NARASINETWORK.COM - KAB. BANDUNG 

-Fenomena turunnya macan tutul dari kawasan hutan ke wilayah yang lebih rendah dinilai bukan peristiwa biasa. Kejadian ini justru menjadi alarm keras atas kondisi lingkungan hidup di Jawa Barat yang kian mengkhawatirkan.

Warga Maruyung Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung digegerkan oleh munculnya macan tutul yang masuk ketempat padat penduduk pada Kamis (5/2/2026). Akibatnya, beberapa warga harus mengalami luka-luka akibat gigitan dan terkamannya

Direktur Eksekutif WALHI Jawa Barat, Wahyudin, menegaskan bahwa kemunculan satwa liar di luar habitat alaminya harus menjadi pusat perhatian semua pihak, terutama pemerintah dan para pengelola kawasan hutan. Menurutnya, fenomena tersebut merupakan sinyal kuat terjadinya penurunan kualitas lingkungan yang serius.

Wahyudin menjelaskan, macan tutul turun gunung bukan semata-mata karena faktor naluri alami. Ruang hidup satwa dilindungi ini semakin terdesak akibat rusaknya habitat, meningkatnya gangguan aktivitas manusia, hingga berkurangnya ketersediaan pakan di kawasan hutan.

“Ini menandakan habitatnya terganggu dan tidak lagi aman,” ujarnya.

Jika melihat kondisi lanskap kawasan, Wahyudin menilai lingkungan saat ini tidak berada dalam kondisi baik. Ia menyoroti maraknya alih fungsi lahan hutan menjadi kawasan pertanian, serta lemahnya tata kelola kawasan hutan. Selain itu, peran Perum Perhutani dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Jabar dinilai belum optimal dalam menjaga fungsi ekologis kawasan.

“Fakta di lapangan menunjukkan banyak lahan kritis justru berada di wilayah Perhutani dengan luasan yang cukup besar,” kata Wahyudin. Salah satu contohnya berada di lanskap Gunung Wayang, khususnya wilayah Gambung–Sidanengsih. Kawasan ini merupakan daerah tangkapan air penting yang bermuara ke Sungai Citarum, sehingga kerusakan di wilayah hulu berpotensi menimbulkan dampak ekologis yang luas hingga ke hilir.

Kondisi serupa juga ditemukan di kawasan Gunung Rakutak. Wahyudin menyebut kawasan lindung dan hutan produksi di wilayah tersebut mengalami degradasi cukup serius. Padahal, Gunung Rakutak merupakan salah satu benteng ekologis penting di Jawa Barat sekaligus habitat berbagai satwa liar, termasuk macan tutul.

“Nah, ini jelas bisa berdampak langsung terhadap habitat satwa. Apalagi ada kecurigaan kuat bahwa macan tutul yang turun gunung berasal dari wilayah Rakutak yang berbatasan langsung dengan Garut,” ungkapnya.

Menurut Wahyudin, tanpa perbaikan tata kelola dan pemulihan kawasan hutan secara serius, konflik antara manusia dan satwa liar berpotensi terus berulang. Ia mengingatkan, jika intervensi manusia di kawasan gunung terus terjadi, maka bukan tidak mungkin satwa lain akan melakukan hal serupa.

“Seperti monyet-monyet, sekarang sudah banyak yang turun ke perkampungan. Itu harus sangat dicurigai dan disikapi bagaimana solusinya secara bersama,” tuturnya.

Wahyudin juga menyoroti masih tingginya aktivitas manusia yang menyebabkan penurunan fungsi dan kualitas lingkungan di kawasan Rakutak, terutama di wilayah yang berada di bawah pengelolaan Perhutani. Selain itu, ia menduga gangguan habitat tidak hanya berasal dari Rakutak.

“Saya juga menduga selain dari Rakutak, tekanan habitat bisa berasal dari kawasan Kamojang, karena ada beberapa aktivitas pembukaan dan ekspansi geotermal,” ucapnya.

WALHI Jawa Barat pun mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan kawasan hutan, penghentian alih fungsi lahan yang merusak, serta langkah pemulihan ekosistem secara konkret. Fenomena macan tutul turun gunung, kata Wahyudin, harus dibaca sebagai peringatan serius bahwa kerusakan lingkungan telah berada pada titik yang tidak bisa lagi diabaikan.

**

Berita Terkini