Rangkaian IMLF-4 Hadirkan Seminar Bahas Pelestarian Bahasa dan Budaya Minangkabau

Sabtu, 6 Jun 2026 23:02
    Bagikan  
Rangkaian IMLF-4 Hadirkan Seminar Bahas Pelestarian Bahasa dan Budaya Minangkabau
IMLF 4

Seminar Kebudayaan dalam rangka IMLF-4 membahas peran bahasa Minangkabau sebagai identitas masyarakat. Gubernur Sumatera Barat menyatakan bahasa ini menghadapi tekanan serius dan berisiko punah dalam dua dekade jika tidak dijaga.

NARASINETWORK.COMBUKITTINGGI, Bahasa Minangkabau memiliki fungsi utama sebagai sarana komunikasi sekaligus pembentuk ciri khas masyarakat setempat. Bahasa ini bukan hanya digunakan untuk berinteraksi, melainkan menjadi penopang identitas yang mencerminkan tata cara hidup, adat istiadat, nilai, dan sejarah yang diwariskan turun-temurun.

Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi, yang dibacakan oleh Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Ahmad Zaki dalam acara pembukaan Seminar Kebudayaan. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian International Minangkabau Literacy Festival ke-4 atau IMLF-4, yang berlangsung pada Jumat (5/6/2026) di ruang pertemuan UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Bukittinggi.

Seminar menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau Bukittinggi Fery Chofa, SH, LL.M, Prithviraj Bhaskarrao Taur dari India, Pimpinan Perguruan Diniyah Puteri Padang Panjang Prof. Dr. Fauziah Fauzan, M.Pd., serta Laura Di Corcia yang merupakan penyair dan pemerhati sastra dari Swiss. Turut hadir Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis, Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat Jumaidi, Kepala Dinas Kebudayaan Syaiful Bahri, dan Ketua Panitia IMLF-4 Sastri Bakry.

Mahyeldi menjelaskan bahwa bahasa Minangkabau menjadi cerminan dari tata cara hidup dan tradisi setempat. Bahasa ini memuat berbagai ungkapan, pepatah, dan istilah yang mewakili pandangan hidup masyarakat. Penggunaannya dalam keseharian menjadi wujud penghormatan terhadap warisan nenek moyang dan aturan adat yang berlaku.

“Kini bahasa Minangkabau menghadapi tekanan serius. Tanpa langkah nyata, bahasa ini dikhawatirkan akan hilang dalam kurun waktu dua puluh tahun mendatang, berdasarkan kajian yang dilakukan oleh para peneliti. Kondisi ini terlihat dari banyaknya anak muda yang mulai jarang menggunakan bahasa daerah di lingkungan keluarga. Kemajuan teknologi juga membuat generasi muda semakin jauh dari asal-usul budaya, sehingga pengetahuan terhadap warisan sastra dan nasihat leluhur mulai berkurang,” ujar Mahyeldi.

Ia menegaskan bahwa menjaga kelestarian bahasa Minangkabau menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah Provinsi tidak dapat melaksanakannya seorang diri tanpa dukungan dari seluruh lapisan masyarakat. Lingkungan keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam membiasakan penggunaan bahasa ini sejak dini.

Budaya Minangkabau memiliki ciri khas yang membedakannya dengan budaya lain. Prinsip hidup yang dipegang teguh berbunyi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, yang berarti aturan adat disusun berlandaskan ajaran agama Islam. Prinsip ini menjadi dasar pembentukan tata kehidupan masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, budaya Minangkabau pun terkena dampak dari perubahan di dunia. Nilai-nilai tradisional mulai berkurang pengaruhnya seiring dengan masuknya cara berpikir, bahasa, dan gaya hidup dari luar negeri.

Di antara pengaruh yang terasa belakangan ini adalah masuknya budaya populer dari Korea, yang dianggap menjadi salah satu faktor yang mengurangi minat masyarakat terhadap budaya daerah.

Tujuan diadakannya seminar ini adalah untuk membahas kondisi budaya Minangkabau saat ini, terutama terkait penggunaan bahasa dan perilaku masyarakat yang mulai berubah akibat pengaruh zaman.

Dalam kesempatan yang sama, dilaksanakan pula penyerahan 100 judul buku yang disumbangkan oleh peserta dari luar negeri, penulis asal Sumatera Barat, dan penulis dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian acara dalam perhelatan IMLF-4.

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

“Sepak Bola Indonesia Menuju Era Baru Antara Kebangkitan Tim Nasional, Pembenahan Liga, dan Ujian Konsistensi"
Dewi Sri Dari Kisah Padi, Tradisi Agraris, hingga Ragam Seni Nusantara
"Jika Aku Terlahir sebagai Bayi yang Terbuang, Apakah Aku Tetap Berhak Merayakan Hari Anak Nasional 2026?"
P3DN Jadi Penggerak Pertumbuhan Industri Nasional dan Penguatan Ekonomi Indonesia
Pendapatan Negara Naik 21,4 Persen APBN Semester I 2026 Jaga Stabilitas Fiskal
Bapenda Kabupaten Bandung Hadir di Hari Anak Nasional, Warga Bisa Urus Pajak Kendaraan Sekaligus Nikmati Acara
Depo POMINDO Pertama di Purwakarta Resmi Beroperasi, Digagas Pengusaha Asal Kuningan
Persakabo Steps Up Preparations for the 5th National Amputee Football Championship
Wawancara Tokoh : Nuyang Jaimee "Sastra Menyuarakan Perlindungan Perempuan dan Anak"
Goa Garunggang Bogor Tawarkan Wisata Alam Unik dengan Formasi Bebatuan dan Labirin Alami
Ketua APPMBGI Jawa Barat Hadiri Audiensi dan Jajaki Kolaborasi dengan PT Migas Utama Jabar
Wawancara Tokoh : Budi Santoso "PSAI Bogor to Host 5th National Amputee Football Competition"
Anna Ruswan Latuconsina Gelar Diskusi Buku “Arung Jeram Pernikahan” Bahas Perlindungan Perempuan
PSAI Kabupaten Bogor Gelar Latihan Mandiri untuk Persiapan Kompetisi Nasional Sepak Bola Amputasi Edisi V
“Narasinetwork.com Hadirkan Edisi Kompilasi Empat Dongeng Anak ‘Pulau Imaji’”
TVRI Perluas Akses Penyiaran Lewat Uji Coba 5G Broadcast Tanpa Kuota Internet
Pengelolaan Informasi Digital Kemdiktisaintek Raih Penghargaan pada Ajang IDEAS 2026
Kemendikdasmen Gelar Bintang Sobat SMP 2026 Dorong Murid Jadi Penggerak Budaya Digital Positif
Wamenhaj Dorong Ormas Islam Kelola Bimbingan Haji dan Umrah untuk Perkuat Perlindungan Jemaah
Prabowo Resmikan Mandatori Biodiesel B50 Pemerintah Targetkan Hentikan Impor Solar pada 2026