Seminar Internasional IMLF-4 "Teknologi Alat Bantu Bukan Pengganti Guru"

Minggu, 7 Jun 2026 16:23
    Bagikan  
Seminar Internasional IMLF-4 "Teknologi Alat Bantu Bukan Pengganti Guru"
IMLF 4

Seminar IMLF-4 menegaskan kecerdasan buatan hanya alat bantu. Peran guru dalam membina akhlak dan berinteraksi secara manusiawi tidak tergantikan. Lima aspek dirumuskan agar pendidik siap beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

NARASINETWORK.COM - BUKITTINGGI, Ruang pembelajaran di masa mendatang bukanlah kekurangan kecerdasan buatan, melainkan perlu menjaga nilai kemanusiaan. Di tengah kemajuan teknologi yang terus berkembang, dunia pendidikan menghadapi tantangan untuk memastikan bahwa alat bantu digital tidak mengubah arah dasar pembelajaran.

Pembahasan tersebut menjadi bagian dari Seminar Internasional yang diselenggarakan dalam rangka The 4th International Minangkabau Literacy Festival (IMLF-4) atau Festival Literasi Minangkabau ke-4, dengan tema “Opportunities and Challenges for Teachers in the AI Era”. Kegiatan berlangsung di Bukittinggi pada Sabtu (6/6/2026) dan dipandu oleh Dr. Irwandi, akademisi UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi sekaligus penggiat literasi. Berbagai pandangan dari peserta yang hadir dirangkum menjadi lima pokok bahasan.

Jurnalis dan penulis asal Perth, Australia, Mai White, menjelaskan fungsi dasar teknologi. Dalam makalahnya yang berjudul Integrating AI into Learning: Strategies and Challenges, ia menyatakan bahwa kecerdasan buatan pada dasarnya hanyalah alat bantu. Namun, pemanfaatannya memerlukan dukungan aturan yang jelas dari pemerintah agar dapat diakses secara merata. Tanpa pemerataan sarana, penggunaan kecerdasan buatan justru dapat memperlebar kesenjangan antar kelompok masyarakat.

Hal tersebut diperkuat oleh Prof. Lisa Kuitert dari Universitas Amsterdam melalui tinjauan sejarah. Ia membahas perkembangan literasi sejak masa kolonial hingga saat ini dan mengingatkan dampak pola pikir instan akibat kemajuan digital.

“Meskipun telah memasuki era digital, generasi muda tetap perlu membiasakan diri mendatangi perpustakaan, membaca, dan menulis secara langsung,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir dapat dibangun melalui kebiasaan literasi yang rutin.

Keterbatasan teknologi dilihat dari sisi budaya disampaikan oleh Lucilla Trapazono, penulis dan penerjemah asal Swiss. Menurutnya, kecerdasan buatan hanya mampu menerjemahkan teks secara harfiah. Teknologi tidak dapat memahami makna tersirat, perasaan, atau nilai budaya yang terkandung dalam bahasa manusia.

Hal ini sejalan dengan penjelasan Dr. Ganjar Harimansyah dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Ia menjelaskan tugas pendidik dalam melestarikan cara berkomunikasi manusia. Sekecil apa pun informasi yang dikuasai mesin, kemampuan berinteraksi dengan cara yang wajar dan sesuai situasi tetap menjadi hal yang harus dipertahankan dalam proses belajar mengajar.

Pandangan lain disampaikan oleh Rektor UIN Bukittinggi Prof. Silfia Hanani yang menekankan aspek psikologis. Di tengah kekhawatiran banyak profesi dapat digantikan mesin, ia menyampaikan pandangan yang menumbuhkan semangat.

“Pendidik tidak perlu merasa tergantikan oleh kecerdasan buatan. Mesin tidak memiliki perasaan dan tidak dapat membentuk watak peserta didik,” tegasnya.

Pernyataan tersebut didukung oleh Sekretaris Panitia IMLF-4, Armaidi Tanjung. Ia menegaskan bahwa hasil pembahasan harus dapat diterapkan dalam kegiatan nyata.

“Seminar ini bukan sekadar pertemuan ilmiah, melainkan pengingat bagi semua pihak. Lima aspek yang dibahas perlu menjadi acuan agar pendidik dapat beradaptasi tanpa meninggalkan sifat dasar pekerjaannya,” ujar Armaidi.

Kegiatan ini menghasilkan kesepahaman mengenai langkah yang perlu ditempuh dalam menghadapi perkembangan teknologi. Peran pendidik perlu diperkuat melalui lima hal, yaitu dukungan kebijakan pemerintah, peningkatan kemampuan pendidik, pemerataan akses, pelestarian budaya, dan penguatan mental. Secara umum, IMLF-4 menegaskan bahwa meskipun teknologi terus berkembang, inti pendidikan tetap terletak pada hubungan antarmanusia.

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Hari Pelanggan Nasional 2026, Adira Finance Cabang Madiun Perkuat Komitmen Berikan Pelayanan Terbaik
Langkah Nyata RSUD Majalaya & IDI Kabupaten Bandung Temukan Potensi Thalassemia Sejak Dini
NARASINETWORK.COM Jadi Media Partner FESPIN XIII 2026, Perkuat Publikasi Diplomasi Budaya Asia
Mentan Amran Realisasikan Bantuan Alsintan bagi Buruh Tani di Karawang
MTQ Nasional ke-31 di Semarang Bahas Keilmuan Al-Qur’an dan Transformasi Dakwah di Era AI
PMI Manufaktur Indonesia Turun Tipis pada Agustus 2026, Kemenperin Dorong Penguatan Industri dan Ekspor
Gencarkan Penertiban Pajak, Bapenda Kabupaten Bandung Gelar Operasi Gabungan 3 Hari
KDS Dukung Raperda Pornografi, Edukasi dan Pendampingan Anak Harus Diperkuat
Kawal Perubahan APBD 2026, Fraksi Demokrat DPRD Kabupaten Bandung Tegaskan Anggaran Harus Bekerja untuk Rakyat
Tri Suhartanto ke Polresta Bandung, Rekam Jejaknya Penuh Lika-liku
Warga Jongor di Bandung, Turun Tangan Perbaiki Langsung Jalan yang Rusak
Penelusuran Rokok Ilegal di Kabupaten Bandung Mulai Diungkap, Satpol PP Gandeng Bea Cukai
Program Pentahelix Dibentuk, Camat Ciparay Dorong Mitigasi Sejak Dini
Pentahelix Dibentuk, Kapolsek Ciparay Siap Dukung dan Kawal Program Pemerintah
Reses Ala Ketua DPRD Kabupaten Bandung Hj. Reni Rahayu Fauzi Bersama Konstituen
Lampu Jalan Mati di Dekat Kantor PLN Baleendah, Keselamatan Pengendara Dipertaruhkan
Asep Ikhsan di Dikpol Demokrat Jabar: "Wakil Rakyat Tidak Cukup Hanya Hadir di Sidang!"
Perkuat Silaturahmi, Jajaran Fraksi Partai Demokrat Kabupaten Bandung Gelar Lomba Rakyat yang Meriah
BBWS CimanCis Beri Santunan dan Bantuan Pendidikan untuk Keluarga Korban Pohon Tumbang di Cirebon
Reses Faisal Radi: Warga Soroti Bukti Nyata Pembangunan di Cangkuang