Ananda Sukarlan Padukan Musik Portugal dan Tanah Airku untuk Film Dokumenter Rainha Boki Raja

Minggu, 14 Jun 2026 10:00
Pemutaran dan diskusi film dokumenter Rainha Boki Raja digelar di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, sebagai bagian dari peringatan lima tahun wafatnya sastrawan Toeti Heraty. Istimewa

NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Pemutaran dan diskusi film dokumenter Rainha Boki Raja, Ratu Ternate Abad Ke-16 berlangsung di Gedung Seminar Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Sabtu (13/6/2026) pukul 14.00–17.00 WIB. Kegiatan tersebut diselenggarakan bertepatan dengan peringatan lima tahun wafatnya sastrawan dan pemikir Indonesia, almarhumah Toeti Heraty.

Acara diawali dengan registrasi peserta pada pukul 13.30 WIB. Setelah pembukaan oleh pembawa acara, kegiatan dilanjutkan dengan foto bersama, sambutan dari Inda C. Noerhadi, doa yang dipimpin Darwin Cyril Noerhadi, dan pemotongan tumpeng.

Memasuki agenda utama, Ni Made Purnamasari membacakan puisi Rainha Boki Raja yang diangkat dari karya Toeti Heraty. Setelah itu, peserta mengikuti pemutaran film dokumenter yang mengisahkan tokoh perempuan Ternate pada abad ke-16 tersebut.

Usai pemutaran, diskusi akan dipandu moderator dengan menghadirkan Gembong Hardian, Linda Christanty, dan Ananda Sukarlan. Ketiga narasumber akan membahas latar sejarah, proses adaptasi karya sastra, serta unsur musik yang digunakan dalam film.

Ananda Sukarlan menjelaskan bahwa penyusunan musik film mengacu pada sumber-sumber musik Portugal yang berkaitan dengan periode sejarah yang menjadi latar cerita.

"Karena kisah Rainha Boki Raja melibatkan Portugal, saya mengambil berbagai motif melodik dari komponis Portugal pada masa itu, Manuel Cardoso (1566–1650), kemudian mengolahnya menjadi berbagai variasi," ujarnya.

Ia juga memasukkan tema lagu Tanah Airku karya Saridjah Niung Bintang Soedibjo atau Ibu Soed ke dalam komposisi film tersebut.

"Saya juga mengambil tema dari lagu Tanah Airku karya Ibu Soed yang kemudian saya olah dengan idiom, sistem tangga nada, serta progresi musik Portugal abad ke-15," katanya.

Menurut Ananda, dokumentasi musik Portugal dari abad ke-16 masih dapat ditelusuri melalui berbagai arsip yang tersedia hingga saat ini. Sebaliknya, dokumentasi musik Nusantara pada masa yang sama hampir tidak ditemukan karena teknologi perekaman suara belum dikenal.

Ananda Sukarlan memiliki hubungan panjang dengan Portugal. Pada tahun 2000, ia menjadi seniman Indonesia pertama yang diundang tampil bersama Portuguese Symphony Orchestra di Lisboa, beberapa bulan setelah hubungan diplomatik Indonesia dan Portugal kembali terjalin.

Selain dikenal sebagai komponis dan pianis, Ananda Sukarlan menerima gelar kesatriaan Cavaliere Ordine della Stella d'Italia dari Presiden Italia Sergio Mattarella pada tahun 2020. Pada tahun 2023, Kerajaan Spanyol menganugerahinya Real Orden de Isabel la Católica.

Keterlibatan sejumlah tokoh seni turut menjadi bagian dari film tersebut. Aktris Christine Hakim, yang berperan dalam produksi ini, menerima Order of the Rising Sun atau Orde Matahari Terbit dari Pemerintah Jepang pada tahun 2015.

Setelah pemaparan narasumber, peserta diberi kesempatan mengajukan pertanyaan dan menyampaikan tanggapan. Kegiatan kemudian ditutup dengan penyampaian pernyataan penutup oleh moderator serta penyerahan cinderamata kepada para pembicara.


Berita Terkini