Emisi Gas Rumah Kaca Dampak pada Ekosistem Laut dan Lonjakan Kerugian Ekonomi Global

Jumat, 23 Jan 2026 16:19
Emisi gas rumah kaca menyebabkan kerusakan laut yang dipicu krisis iklim, membuat kerugian ekonomi global naik hampir dua kali lipat. Istimewa

NARASINETWORK.COM - Emisi gas rumah kaca (GRK) menyebabkan kerugian ekonomi skala global, dengan bagian utama berasal dari kerusakan laut yang dipicu perubahan iklim. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah kerugian yang diakibatkan oleh faktor ini telah meningkat hingga hampir dua kali lipat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Peningkatan ini sejalan dengan kenaikan konsentrasi GRK di atmosfer, yang memicu pemanasan global dan perubahan pola iklim yang berdampak langsung pada ekosistem laut serta sektor ekonomi terkait.

Pemanasan global yang disebabkan emisi GRK memicu kenaikan suhu permukaan laut, pembengkakan termal air laut, dan asidifikasi laut. Kenaikan suhu mengganggu keseimbangan ekosistem akuatik; terumbu karang mengalami pemutihan secara luas, sementara populasi ikan dan organisme laut lainnya bergeser ke wilayah yang lebih dingin atau mengalami penurunan jumlah akibat perubahan kondisi lingkungan.

Pembengkakan termal berkontribusi pada kenaikan permukaan laut, yang menyebabkan abrasi pesisir, intrusi air laut ke daratan, dan kerusakan infrastruktur di daerah pesisir. Asidifikasi laut terjadi ketika laut menyerap sebagian besar karbon dioksida yang dikeluarkan ke atmosfer; kondisi ini mengganggu kemampuan organisme laut seperti kerang, tiram, dan plankton untuk membentuk cangkang atau struktur tubuh, yang kemudian mempengaruhi rantai makanan laut.

Kerusakan laut yang dipicu krisis iklim memberi dampak pada berbagai sektor ekonomi global. Sektor perikanan dan akuakultur menjadi salah satu yang paling terpengaruh secara langsung. Penurunan jumlah ikan dan kerusakan habitat akuatik menyebabkan penurunan hasil tangkapan dan produksi budidaya air, yang mengurangi pendapatan bagi nelayan, petani akuakultur, serta perusahaan pengolahan dan perdagangan produk laut. Di beberapa daerah, penurunan produksi perikanan menyebabkan kekurangan pasokan pangan dari laut, yang berdampak pada keamanan pangan dan meningkatkan biaya pangan di pasar lokal maupun global.

Sektor pariwisata pesisir juga mengalami kerugian ekonomi. Kerusakan terumbu karang, erosi pantai, dan munculnya kondisi cuaca ekstrem seperti badai yang lebih kuat mengurangi daya tarik destinasi pariwisata pesisir. Jumlah wisatawan yang berkunjung menurun, menyebabkan penurunan pendapatan bagi pengusaha akomodasi, restoran, dan usaha kecil terkait industri pariwisata. Kerusakan pada infrastruktur pariwisata seperti jalan raya, dermaga, dan fasilitas rekreasi juga mengharuskan pengeluaran biaya perbaikan yang besar.

Infrastruktur pesisir seperti pelabuhan, pembangkit listrik pantai, dan sistem air bersih mengalami kerusakan akibat kenaikan permukaan laut dan abrasi pesisir. Biaya perbaikan dan pemeliharaan infrastruktur ini meningkat, sementara gangguan operasional pelabuhan dan fasilitas lainnya mengganggu aktivitas perdagangan dan transportasi barang, yang berdampak pada perekonomian nasional maupun global. Selain itu, kerusakan pada sistem air bersih akibat intrusi air laut menyebabkan penurunan kualitas air minum, yang mengharuskan pengeluaran biaya tambahan untuk pengolahan air dan perbaikan sistem pasokan air.

Pada awal tahun 2010-an, kerugian ekonomi global akibat kerusakan laut yang dipicu krisis iklim diperkirakan mencapai puluhan milyar dolar AS per tahun. Seiring dengan meningkatnya emisi GRK dan intensitas dampak iklim, jumlah kerugian tersebut meningkat hingga hampir dua kali lipat pada akhir dekade yang sama. Data saat ini menunjukkan bahwa kerugian ekonomi tahunan dari faktor ini telah melampaui angka seratus milyar dolar AS.

Peningkatan kerugian tidak merata di seluruh dunia; negara-negara kepulauan dan negara dengan garis pantai panjang mengalami dampak yang lebih besar dibandingkan negara daratan. Daerah berkembang yang memiliki ketergantungan tinggi pada sektor perikanan dan pariwisata pesisir juga lebih rentan terhadap kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh faktor ini. Di sisi lain, negara maju yang memiliki infrastruktur pesisir dengan nilai tinggi juga menghadapi beban biaya besar untuk perbaikan dan adaptasi.

Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia, Indonesia menetapkan kebijakan restorasi ekosistem laut yang mencakup penanaman kembali terumbu karang dan rehabilitasi hutan bakau. Pemerintah juga mengeluarkan peraturan tentang zona larangan penangkapan ikan di wilayah tertentu untuk memulihkan populasi ikan. Selain itu, program pengembangan energi terbarukan pantai seperti pembangkit listrik tenaga pasang surut dan tenaga angin laut telah diluncurkan untuk mengurangi emisi GRK sekaligus mendukung perekonomian daerah pesisir.

Untuk menangani peningkatan kerugian ekonomi akibat kerusakan laut yang dipicu krisis iklim, diperlukan upaya global untuk mengurangi emisi GRK. Langkah ini meliputi penerapan kebijakan yang membatasi emisi dari sektor energi, transportasi, industri, dan pertanian. Selain itu, perlu dilakukan investasi pada teknologi bersih yang dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi.

Upaya adaptasi juga menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak kerusakan laut. Langkah ini meliputi pembangunan infrastruktur pesisir tangguh terhadap perubahan iklim, restorasi ekosistem laut seperti terumbu karang dan hutan bakau, serta penerapan praktik pengelolaan perikanan berkelanjutan. Peningkatan pemantauan dan pemantapan data terkait kondisi laut serta dampak iklim juga diperlukan untuk mengembangkan kebijakan dan rencana aksi yang tepat.

Kerjasama internasional memiliki peran penting dalam menangani masalah ini. Negara-negara dapat bekerja sama untuk berbagi pengetahuan, teknologi, dan sumber daya dalam rangka mengurangi emisi GRK dan mengatasi dampak kerusakan laut. Selain itu, perlu dibentuk mekanisme keuangan global yang dapat memberikan dukungan kepada negara berkembang untuk melakukan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Berita Terkini