Dukung Peringatan HPN 2026 Narasinetwork.com Hadiri Kemah Budaya PWI ke Kawasan Adat Baduy

Senin, 19 Jan 2026 05:07
Sebagai bagian dari Kemah Budaya PWI tahun 2026, Perwakilan Narasinetwork.com (Kedua dari kiri) mengunjungi Museum Multatuli di Kabupaten Lebak, Banten. Istimewa

NARASINETWORK.COM - Narasinetwork.com merupakan salah satu dari 41 peserta yang mengikuti Kemah Budaya yang digelar oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dalam rangka menyambut Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2026.

Acara berlangsung selama dua hari, yakni tanggal 16 hingga 17 Januari 2026, dengan lokasi di kawasan adat Baduy, Kabupaten Lebak. Mengusung tema “Belajar Mencintai dari Baduy”, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk mendekati kehidupan masyarakat Baduy secara langsung.

Salah satu jadwal dalam rangkaian Kemah Budaya ini adalah kunjungan ke Museum Multatuli di Kabupaten Lebak. Tempat ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Lebak, dengan penghargaan atas nama Multatuli diberikan oleh berbagai pihak baik pemerintah maupun masyarakat lokal yang tercermin dari penggunaan namanya pada jalan, alun-alun, apotik, hingga lembaga swadaya masyarakat.

Tepat di Kabupaten Lebak, Kecamatan Rangkasbitung, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang masih berfungsi hingga saat ini yaitu Museum Multatuli. Museum ini merupakan museum umum yang menempati bekas gedung Wedana Rangkasbitung, yang telah digunakan sejak tahun 1923.

Multatuli memiliki nama asli Eduard Douwes Dekker, yang menjabat sebagai Asisten Residen dari pihak Belanda pada tahun 1856. Beliau merupakan tokoh Belanda yang berperan penting dalam membentuk dan mengubah kebijakan kolonial Belanda di Hindia Belanda pada abad ke-19.

Eduard Douwes Dekker menentang sistem pemerintahan kolonial Belanda karena kebijakannya menyebabkan penderitaan bagi rakyat pribumi, sehingga ia memiliki keinginan untuk melepaskan mereka dari kekejaman yang terjadi.

Kisah tersebut dituangkan dalam karyanya berjudul Max Havelaar, yang kemudian membuat masyarakat Eropa menyadari bahwa kekayaan yang mereka nikmati berasal dari penderitaan di wilayah kolonial di belahan dunia lain. Kesadaran ini selanjutnya melahirkan motivasi untuk kebijakan politik etis, dimana pemerintah kolonial Belanda berusaha membayar hutang kepada rakyat kolonial.

Pembayaran hutang tersebut dilakukan dengan memberikan pendidikan kepada sebagian kalangan pribumi, umumnya mereka yang setia kepada pemerintah kolonial. Novel Max Havelaar diterbitkan pada tahun 1860 dan kini disimpan di Museum Multatuli bangunan yang dahulu berfungsi sebagai rumah dan kantor kedudukan weda.

Sebelum digunakan sebagai museum, bangunan bekas Wedana Rangkasbitung yang dibangun pada tahun 1923 memiliki berbagai fungsi sepanjang masa. Pada tahun 1943, gedung ini pernah ditempati sebagai Markas Wilayah Hansip (Pertahanan Sipil) yang dibentuk pemerintah Hindia Belanda untuk menghadapi serangan pasukan Jepang. Setelah kemerdekaan Indonesia, gedung ini kemudian ditempati oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Lebak pada tahun 1999, dan selanjutnya oleh Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Lebak pada tahun 2016.

Museum Multatuli merupakan museum anti-kolonial pertama di Indonesia. Museum ini tidak hanya menceritakan kisah pribadi Eduard Douwes Dekker, tetapi juga sebagai bentuk perjuangan dalam menyuarakan ketimpangan dan ketidakadilan akibat kolonialisme pada masa pemerintahan Belanda. Museum ini menyimpan berbagai peninggalan sejarah yang unik, dengan banyak jejak masa kolonialisme yang tertanam dalam ingatan masyarakat Lebak tentang masa lalu kolonial di Indonesia.

Museum Multatuli terletak di kawasan Kabupaten Lebak dengan luas tanah seluas 1.934 m². Saat ini bangunan ini memiliki status resmi sebagai cagar budaya. Pemugaran pertama terhadap bangunan dilakukan dan selesai pada tahun 1930. Pada tahun 2016, gedung ini direnovasi kembali untuk dijadikan Museum Multatuli dan secara resmi diangkat sebagai cagar budaya pada tanggal 11 Februari 2018 oleh Bupati Lebak Hj Iti Octavia Jayabaya.

Kunjungan ke Museum Multatuli menjadi bagian penting dari Kemah Budaya dengan tema “Belajar Mencintai dari Baduy”, karena memberikan pemahaman yang lebih luas tentang sejarah dan perjuangan daerah Lebak. Selain mendalami budaya masyarakat adat Baduy yang menjunjung tinggi nilai-nilai alam, peserta juga mendapatkan gambaran tentang perjuangan melawan ketidakadilan pada masa kolonial.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa belajar mencintai daerah tidak hanya melalui pemahaman budaya masa kini, tetapi juga melalui penghargaan terhadap sejarah dan perjuangan yang telah dilalui oleh daerah tersebut. Melalui kunjungan ini, para peserta wartawan diharapkan dapat menyebarkan informasi tentang pentingnya melestarikan warisan budaya dan sejarah bagi generasi mendatang.

 

 

 

Berita Terkini