Musik sebagai Medium Pemikiran Menafsirkan Pergulatan Batin dalam Komposisi Yekeshish

Rabu, 10 Jun 2026 10:50
    Bagikan  
Musik sebagai Medium Pemikiran Menafsirkan Pergulatan Batin dalam Komposisi Yekeshish
Istimewa

Yekeshish karya Hossein Alizadeh, Ali Jafari Pouyan, dan Behnood Yakhchali (2019) adalah musik instrumental tanpa teks yang menggambarkan perjalanan pencarian makna hidup. Melalui percampuran bunyi tradisi Persia dan Barat.

NARASINETWORK.COM - JAKARTA,Musik sering dianggap sebagai bahasa universal yang mampu menjangkau ranah pemikiran dan perasaan yang sulit diungkapkan melalui kata-kata. Hal tersebut tergambar jelas dalam karya instrumental berjudul Yekeshish, yang berarti Seorang Pendeta. Diciptakan pada tahun 2019, komposisi ini mewakili pencapaian dalam ranah musik kontemporer Timur Tengah. Karya ini dihasilkan melalui kerja sama tiga musisi, yaitu Hossein Alizadeh sebagai penggubah dan pemain alat musik tradisional, Ali Jafari Pouyan sebagai pemain biola, serta Behnood Yakhchali yang bertugas merancang aransemen. Berdurasi tujuh menit tiga puluh detik, rekaman ini menyajikan paduan unsur budaya tanpa bergantung pada teks atau narasi tertulis.

"Yekeshish menunjukkan bahwa pencarian spiritual memiliki koridor universal yang melintasi sekat formal institusi keagamaan, di mana setiap bunyi menggantikan fungsi bahasa komunikatif untuk menyuarakan pergulatan personal manusia." 

Secara konseptual, komposisi ini berusaha melepaskan diri dari batasan sektarian. Ia mengambil figur tokoh agama Kristen sebagai pusat gagasan, meskipun lahir dalam lingkungan budaya masyarakat Iran. Pilihan ini mengandung makna bahwa pencarian makna hidup dan hubungan dengan Tuhan memiliki ruang yang sama bagi setiap individu, tanpa terikat oleh aturan dan struktur lembaga agama tertentu. Tidak adanya lirik atau penjelasan verbal memungkinkan bunyi menjadi sarana penyampaian gagasan. Setiap nada berperan menyuarakan pergulatan batin yang dialami manusia, yang bersifat pribadi namun juga dapat dipahami secara umum.

Struktur musikal dibangun atas pertemuan dua unsur budaya yang berbeda. Alat musik petik tradisional Persia seperti tar dan setar yang dimainkan Alizadeh menjadi representasi cara berpikir dan seni setempat. Bunyinya yang tenang dan teratur kemudian berinteraksi dengan alunan biola yang dibawakan Pouyan. Instrumen asal Eropa tersebut membawa corak perasaan yang menyentuh, sehingga tercipta percakapan bunyi yang terarah dan terukur. Pertemuan ini bukan sekadar percampuran, melainkan bentuk perbandingan dan penyatuan dua cara pandang yang saling melengkapi.

Dari sisi susunan karya, Yakhchali menyusun perjalanan bunyi dalam beberapa tahapan yang saling terhubung. Bagian awal ditandai dengan suasana yang hening dan sederhana. Tidak ada irama yang kuat, sehingga pendengar diarahkan untuk memusatkan perhatian pada perubahan volume dan tinggi nada. Tahap ini menggambarkan kondisi diri manusia saat mulai menyendiri dan merenung.

Memasuki bagian tengah, permainan musik mulai menguat. Petikan senar tradisional dan alunan biola saling menjawab dengan nada yang semakin tinggi dan cepat. Bagian ini menggambarkan proses bertanya, munculnya keraguan, serta pencarian jawaban atas keberadaan diri. Ketegangan yang dibangun melalui perubahan nada dan tempo melambangkan proses berpikir yang harus dilalui sebelum mencapai pemahaman baru.

Puncak dari rangkaian tersebut terlihat pada bagian akhir, di mana seluruh instrumen bersatu dalam satu irama yang seimbang. Ketegangan yang muncul sebelumnya perlahan menghilang, digantikan oleh suasana yang tenang dan stabil. Perubahan yang berlangsung bertahap ini menunjukkan perencanaan yang matang dalam menyusun alur emosi karya tersebut.

Secara keseluruhan, Yekeshish membuktikan bahwa musik dapat berfungsi sebagai wadah penyampaian gagasan filsafat tanpa harus bersifat menghibur semata. Para penggubahnya menahan diri dari keinginan memamerkan kemampuan teknik secara berlebihan. Sebaliknya, mereka memfokuskan pada penyampaian gagasan. Karya ini menjadi contoh bahwa kolaborasi lintas latar belakang budaya mampu menciptakan ruang renungan yang jelas dan terstruktur melalui media rekaman modern.

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Peringati Hari Anak, Begini Pesan Ketua KPID Jawabarat
Komunitas Salihara Gelar SIPFest 2026 Bertema "asiaria", Hadirkan Seniman Asia dan Diaspora Asia
Kompetisi Nasional Sepak Bola Amputasi Indonesia Edisi V Digelar di Bogor Seleksi Tim Nasional Dimulai
“Sepak Bola Indonesia Menuju Era Baru Antara Kebangkitan Tim Nasional, Pembenahan Liga, dan Ujian Konsistensi"
Dewi Sri Dari Kisah Padi, Tradisi Agraris, hingga Ragam Seni Nusantara
"Jika Aku Terlahir sebagai Bayi yang Terbuang, Apakah Aku Tetap Berhak Merayakan Hari Anak Nasional 2026?"
P3DN Jadi Penggerak Pertumbuhan Industri Nasional dan Penguatan Ekonomi Indonesia
Pendapatan Negara Naik 21,4 Persen APBN Semester I 2026 Jaga Stabilitas Fiskal
Bapenda Kabupaten Bandung Hadir di Hari Anak Nasional, Warga Bisa Urus Pajak Kendaraan Sekaligus Nikmati Acara
Depo POMINDO Pertama di Purwakarta Resmi Beroperasi, Digagas Pengusaha Asal Kuningan
Persakabo Steps Up Preparations for the 5th National Amputee Football Championship
Wawancara Tokoh : Nuyang Jaimee "Sastra Menyuarakan Perlindungan Perempuan dan Anak"
Goa Garunggang Bogor Tawarkan Wisata Alam Unik dengan Formasi Bebatuan dan Labirin Alami
Ketua APPMBGI Jawa Barat Hadiri Audiensi dan Jajaki Kolaborasi dengan PT Migas Utama Jabar
Wawancara Tokoh : Budi Santoso "PSAI Bogor to Host 5th National Amputee Football Competition"
Anna Ruswan Latuconsina Gelar Diskusi Buku “Arung Jeram Pernikahan” Bahas Perlindungan Perempuan
PSAI Kabupaten Bogor Gelar Latihan Mandiri untuk Persiapan Kompetisi Nasional Sepak Bola Amputasi Edisi V
“Narasinetwork.com Hadirkan Edisi Kompilasi Empat Dongeng Anak ‘Pulau Imaji’”
TVRI Perluas Akses Penyiaran Lewat Uji Coba 5G Broadcast Tanpa Kuota Internet
Pengelolaan Informasi Digital Kemdiktisaintek Raih Penghargaan pada Ajang IDEAS 2026