Review Film Narasinetwork : Melihat Isu Lingkungan Melalui Film Kereta Berdarah

Minggu, 11 Jan 2026 18:27
Kereta Berdarah (2024) adalah film horor Indonesia karya Rizal Mantovani yang membawa pesan kuat terkait lingkungan. Istimewa

NARASINETWORK.COM - Kereta Berdarah adalah film horor Indonesia tahun 2024 yang disutradarai oleh Rizal Mantovani dan dibintangi oleh Hana Malasan, Zara Leola, serta Kiki Narendra. Film ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada 1 Februari 2024, dan membawa lebih dari sekadar sensasi ketakutan bagi penonton. Di balik alur cerita yang penuh ketegangan dan unsur supranatural, film ini menyimpan pesan yang kuat terkait kondisi lingkungan yang semakin tertekan oleh aktivitas manusia di seluruh wilayah negara kita.

"Film ini juga mengajak kita untuk merenungkan pentingnya menghormati alam dan nilai-nilai lokal yang telah lama terkait dengan upaya pelestarian lingkungan. Banyak masyarakat di Indonesia memiliki tradisi dan kepercayaan yang mengajarkan untuk hidup berdampingan dengan alam, serta untuk menggunakan sumber daya alam dengan bijak. Nilai-nilai tersebut seharusnya menjadi bagian dari pertimbangan dalam setiap proses pembangunan, bukan dianggap sebagai hal yang kuno atau tidak relevan dengan perkembangan zaman."

Latar Belakang Konflik : Eksploitasi Alam demi Tujuan Pembangunan

Dalam narasi film, kereta wisata bernama Sangkara dibangun dengan tujuan utama untuk mengakses sebuah resort baru yang berlokasi di daerah terpencil. Proyek ini dirancang untuk menarik investor dari dalam dan luar negeri, sekaligus mengembangkan infrastruktur transportasi di kawasan yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun, proses pembangunan tersebut tidak memperhatikan kondisi sekitarnya, kawasan hutan yang menjadi jalur kereta dianggap hanya sebagai lahan kosong yang bisa dimanfaatkan, tanpa mempertimbangkan nilai yang terkandung di dalamnya.

Hutan yang ditembus jalur kereta dipercaya sebagai tempat tinggal bagi makhluk halus yang telah menjaga keseimbangan kawasan tersebut selama berabad-abad. Selain itu, kawasan ini juga berfungsi sebagai lokasi untuk berbagai ritual masyarakat desa sekitar, serta sebagai penjaga sumber mata air yang menyediakan kebutuhan air bagi wilayah sekitarnya. Penulis skenario Erwanto Alphadullah menyatakan bahwa adegan pembukaan film yang menggambarkan proses penebangan pepohonan dan kerusakan lahan merupakan refleksi langsung dari realitas eksploitasi lahan yang sering terjadi di berbagai daerah Indonesia. Sutradara Rizal Mantovani juga menjelaskan bahwa konsep film ini sengaja menggabungkan elemen horor dengan isu sosial aktual, khususnya perubahan iklim yang terjadi secara cepat dan eksploitasi alam yang tidak terkendali – hal yang kemudian menjadi dasar kemarahan sosok Ratu Jin yang diperankan oleh Ruth Marini sebagai penjaga hutan.

Simbolisme dalam Elemen Film yang Berhubungan dengan Lingkungan

Kereta api Sangkara sendiri menjadi simbol yang jelas dari keserakahan manusia yang mengutamakan kepentingan ekonomi di atas segalanya. Pembangunan kereta tidak mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem lokal, maupun terhadap kehidupan masyarakat yang telah lama menjadikan kawasan tersebut sebagai bagian dari budaya dan kehidupan sehari-hari mereka.

Pembagian gerbong kereta menjadi empat kategori, dua gerbong ekonomi di bagian paling belakang, gerbong eksekutif dengan fasilitas yang lebih nyaman, gerbong restoran yang memisahkan kedua bagian tersebut, dan gerbong terdepan yang diisi oleh tokoh-tokoh VIP seperti bupati yang diperankan oleh Kiki Narendra serta para investor dari perusahaan pembuat kereta tidak hanya menggambarkan stratifikasi sosial dalam masyarakat. Lebih dari itu, pembagian ini menunjukkan bagaimana keputusan pembangunan seringkali diambil oleh kelompok berkuasa yang hanya melihat potensi keuntungan, tanpa memperhatikan bagaimana proyek tersebut akan mempengaruhi lingkungan dan kehidupan orang banyak.

Kemarahan makhluk halus yang muncul dalam bentuk berbagai kejadian misterius merupakan representasi dari protes alam terhadap kerusakan yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia. Kejadian seperti terlepasnya gerbong setiap kali kereta melewati terowongan menjadi bentuk peringatan bahwa alam memiliki cara sendiri untuk menegakkan keseimbangan yang telah terganggu. Masyarakat desa sekitar yang tidak memiliki kekuatan untuk menolak kebijakan pembangunan menjadi contoh nyata dari bagaimana kelompok yang paling dekat dengan alam, dan yang paling banyak mendapatkan manfaat dari kelestariannya, seringkali menjadi korban pertama dari dampak negatif aktivitas pembangunan yang tidak bertanggung jawab. Mereka kehilangan akses ke kawasan yang dianggap sakral, serta sumber daya alam yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama berabad-abad.

Pesan Lingkungan yang Disampaikan melalui Narasi Film

Melalui Kereta Berdarah, penonton diajak untuk melihat bahwa kerusakan alam tidak hanya berdampak pada ekosistem dan keberadaan tumbuhan serta hewan di dalamnya. Lebih dari itu, kerusakan tersebut dapat mengganggu hubungan yang telah ada antara manusia dan alam selama bertahun-tahun. Sikap acuh tak acuh dari pihak pemerintah yang hanya ingin menarik investasi, serta dari masyarakat yang seringkali tidak menyadari pentingnya menjaga lingkungan sekitar, akan membawa konsekuensi yang serius meskipun dalam kenyataan tidak selalu muncul dalam bentuk yang menyeramkan seperti yang digambarkan dalam film.

Film ini juga mengajak kita untuk merenungkan pentingnya menghormati alam dan nilai-nilai lokal yang telah lama terkait dengan upaya pelestarian lingkungan. Banyak masyarakat di Indonesia memiliki tradisi dan kepercayaan yang mengajarkan untuk hidup berdampingan dengan alam, serta untuk menggunakan sumber daya alam dengan bijak. Nilai-nilai tersebut seharusnya menjadi bagian dari pertimbangan dalam setiap proses pembangunan, bukan dianggap sebagai hal yang kuno atau tidak relevan dengan perkembangan zaman.

Di era di mana pembangunan berlangsung dengan cepat dan tuntutan akan kemajuan ekonomi semakin tinggi, perlunya menemukan titik temu antara kemajuan dan kelestarian alam menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Setiap proyek pembangunan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan, serta mencari cara untuk melakukan pembangunan yang berkelanjutan – pembangunan yang tidak hanya menguntungkan saat ini, tetapi juga menjamin kelangsungan hidup bagi generasi mendatang.

Perjalanan yang ditempuh oleh karakter utama Purnama dan Kembang dalam kereta Sangkara menjadi metafora dari perjalanan manusia dalam hubungan dengan alam. Mereka harus menghadapi konsekuensi dari tindakan yang tidak bertanggung jawab, dan berjuang untuk menemukan cara untuk keluar dari situasi yang semakin memburuk. Demikian juga dengan kita sebagai bagian dari masyarakat, kita harus menyadari bahwa setiap tindakan kita terhadap lingkungan akan memiliki dampak, dan kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan alam agar tetap bisa memberikan manfaat bagi semua makhluk hidup di bumi ini.

**

Kereta Berdarah adalah film Indonesia yang disutradarai oleh Rizal Mantovani dengan produksi di bawah naungan MVP Pictures dan diproduseri oleh Raam Punjabi. Skenario film ini ditulis oleh Erwanto Alphadullah, sementara sinematografi dipegang oleh Roy Lolang, ICS, dan penyunting dilakukan oleh Ganda Hartadi. Penata musik yang menggarap bagian audio adalah Nara Anindyaguna. Film ini menghadirkan pemeran utama antara lain Hana Malasan, Zara Leola, Kiki Narendra, Putri Ayudya, dan Yama Carlos. Tayang perdana di Indonesia pada 1 Februari 2024 dengan durasi 103 menit, karya ini disajikan dalam bahasa Indonesia.

Berita Terkini