NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Perkembangan pembalut wanita modern tidak terlepas dari situasi darurat pada masa perang. Catatan sejarah mencatat bahwa perawat militer di Prancis saat Perang Dunia I merupakan pelopor penggunaan bahan sekali pakai untuk keperluan menstruasi. Mereka mendapati bahwa perban berbahan serat bubur kayu atau cellucotton memiliki daya serap yang lebih baik dibandingkan kapas biasa. Temuan yang muncul di tengah medan perang ini kemudian menjadi cikal bakal berkembangnya industri pembalut sekali pakai di dunia.
Sebelumnya, penanganan menstruasi di berbagai wilayah bergantung sepenuhnya pada bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar. Di Mesir dan Yunani Kuno, perempuan menggunakan gulungan kain linen, kapas, wol, maupun lumut. Di Tiongkok, digunakan kain lapis yang diisi pasir bersih, yang kemudian dibuang atau dicuci setelah terpakai. Di Uganda, dimanfaatkan anyaman daun papirus, sedangkan Suku Inuit di kawasan kutub memakai kulit kelinci.
Upaya menjadikan barang ini sebagai produk dagang pertama kali dilakukan pada 1888. Perusahaan Johnson & Johnson dari Amerika Serikat meluncurkan produk bernama Lister’s Towels. Namun, pemasaran perdana ini tidak membuahkan hasil. Hambatan utama saat itu adalah anggapan masyarakat yang memandang menstruasi sebagai hal yang tidak pantas dibicarakan, sehingga masyarakat enggan membelinya secara terbuka di toko.
Perubahan mulai terlihat pada tahun 1920-an. Perusahaan Kimberly-Clark melihat manfaat dari bahan yang pernah dipakai saat perang, lalu meluncurkan merek Kotex pada 1921. Produk ini diterima dengan baik dan meraih pangsa pasar yang luas. Kendati demikian, bentuknya saat itu belum dilengkapi perekat. Pengguna harus memakai sabuk khusus agar posisinya tetap terjaga. Sistem pengikat ini dipatenkan oleh penemu asal Amerika Serikat, Mary Beatrice Davidson Kenner.
Pembaruan desain dan bahan terus berlanjut menjelang akhir abad ke-20. Pada 1969, merek Stayfree memperkenalkan pembalut yang dilengkapi lapisan perekat di bagian bawah. Inovasi ini memudahkan pemakaian karena dapat langsung ditempelkan pada pakaian dalam tanpa alat bantu tambahan. Memasuki tahun 1990-an, diterapkan bahan penyerap berbentuk butiran gel yang membuat produk lebih tipis namun mampu menampung cairan dalam jumlah banyak.
Di Indonesia, kehadiran industri ini ditandai dengan berdirinya PT Softex Indonesia pada 1976. Produk yang dihasilkan turut mengubah kebiasaan masyarakat. Nama merek tersebut begitu dikenal hingga lama-kelamaan digunakan secara umum untuk menyebut seluruh jenis pembalut wanita hingga masa kini.
Perkembangan industri ini terus berlanjut seiring permintaan pasar. Data mengenai jumlah pemakaian produk di dalam negeri maupun aturan standar keamanan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan dapat disajikan sebagai bahan pelengkap pembahasan lebih lanjut.
