Inovasi dari Situasi Darurat Bagaimana Pembalut Sekali Pakai Mulai Dikenal Masyarakat

Rabu, 10 Jun 2026 11:19
    Bagikan  
Inovasi dari Situasi Darurat Bagaimana Pembalut Sekali Pakai Mulai Dikenal Masyarakat
Ilustrasi

Pembalut wanita bermula dari bahan perang Perang Dunia I. Sebelumnya, masyarakat menggunakan beragam bahan alami. Produk komersial pertama gagal karena anggapan tabu, lalu berkembang dengan hadirnya Kotex, perekat, dan bahan penyerap modern.

NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Perkembangan pembalut wanita modern tidak terlepas dari situasi darurat pada masa perang. Catatan sejarah mencatat bahwa perawat militer di Prancis saat Perang Dunia I merupakan pelopor penggunaan bahan sekali pakai untuk keperluan menstruasi. Mereka mendapati bahwa perban berbahan serat bubur kayu atau cellucotton memiliki daya serap yang lebih baik dibandingkan kapas biasa. Temuan yang muncul di tengah medan perang ini kemudian menjadi cikal bakal berkembangnya industri pembalut sekali pakai di dunia.

Sebelumnya, penanganan menstruasi di berbagai wilayah bergantung sepenuhnya pada bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar. Di Mesir dan Yunani Kuno, perempuan menggunakan gulungan kain linen, kapas, wol, maupun lumut. Di Tiongkok, digunakan kain lapis yang diisi pasir bersih, yang kemudian dibuang atau dicuci setelah terpakai. Di Uganda, dimanfaatkan anyaman daun papirus, sedangkan Suku Inuit di kawasan kutub memakai kulit kelinci.

Upaya menjadikan barang ini sebagai produk dagang pertama kali dilakukan pada 1888. Perusahaan Johnson & Johnson dari Amerika Serikat meluncurkan produk bernama Lister’s Towels. Namun, pemasaran perdana ini tidak membuahkan hasil. Hambatan utama saat itu adalah anggapan masyarakat yang memandang menstruasi sebagai hal yang tidak pantas dibicarakan, sehingga masyarakat enggan membelinya secara terbuka di toko.

Perubahan mulai terlihat pada tahun 1920-an. Perusahaan Kimberly-Clark melihat manfaat dari bahan yang pernah dipakai saat perang, lalu meluncurkan merek Kotex pada 1921. Produk ini diterima dengan baik dan meraih pangsa pasar yang luas. Kendati demikian, bentuknya saat itu belum dilengkapi perekat. Pengguna harus memakai sabuk khusus agar posisinya tetap terjaga. Sistem pengikat ini dipatenkan oleh penemu asal Amerika Serikat, Mary Beatrice Davidson Kenner.

Pembaruan desain dan bahan terus berlanjut menjelang akhir abad ke-20. Pada 1969, merek Stayfree memperkenalkan pembalut yang dilengkapi lapisan perekat di bagian bawah. Inovasi ini memudahkan pemakaian karena dapat langsung ditempelkan pada pakaian dalam tanpa alat bantu tambahan. Memasuki tahun 1990-an, diterapkan bahan penyerap berbentuk butiran gel yang membuat produk lebih tipis namun mampu menampung cairan dalam jumlah banyak.

Di Indonesia, kehadiran industri ini ditandai dengan berdirinya PT Softex Indonesia pada 1976. Produk yang dihasilkan turut mengubah kebiasaan masyarakat. Nama merek tersebut begitu dikenal hingga lama-kelamaan digunakan secara umum untuk menyebut seluruh jenis pembalut wanita hingga masa kini.

Perkembangan industri ini terus berlanjut seiring permintaan pasar. Data mengenai jumlah pemakaian produk di dalam negeri maupun aturan standar keamanan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan dapat disajikan sebagai bahan pelengkap pembahasan lebih lanjut.

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Hari Pelanggan Nasional 2026, Adira Finance Cabang Madiun Perkuat Komitmen Berikan Pelayanan Terbaik
Langkah Nyata RSUD Majalaya & IDI Kabupaten Bandung Temukan Potensi Thalassemia Sejak Dini
NARASINETWORK.COM Jadi Media Partner FESPIN XIII 2026, Perkuat Publikasi Diplomasi Budaya Asia
Mentan Amran Realisasikan Bantuan Alsintan bagi Buruh Tani di Karawang
MTQ Nasional ke-31 di Semarang Bahas Keilmuan Al-Qur’an dan Transformasi Dakwah di Era AI
PMI Manufaktur Indonesia Turun Tipis pada Agustus 2026, Kemenperin Dorong Penguatan Industri dan Ekspor
Gencarkan Penertiban Pajak, Bapenda Kabupaten Bandung Gelar Operasi Gabungan 3 Hari
KDS Dukung Raperda Pornografi, Edukasi dan Pendampingan Anak Harus Diperkuat
Kawal Perubahan APBD 2026, Fraksi Demokrat DPRD Kabupaten Bandung Tegaskan Anggaran Harus Bekerja untuk Rakyat
Tri Suhartanto ke Polresta Bandung, Rekam Jejaknya Penuh Lika-liku
Warga Jongor di Bandung, Turun Tangan Perbaiki Langsung Jalan yang Rusak
Penelusuran Rokok Ilegal di Kabupaten Bandung Mulai Diungkap, Satpol PP Gandeng Bea Cukai
Program Pentahelix Dibentuk, Camat Ciparay Dorong Mitigasi Sejak Dini
Pentahelix Dibentuk, Kapolsek Ciparay Siap Dukung dan Kawal Program Pemerintah
Reses Ala Ketua DPRD Kabupaten Bandung Hj. Reni Rahayu Fauzi Bersama Konstituen
Lampu Jalan Mati di Dekat Kantor PLN Baleendah, Keselamatan Pengendara Dipertaruhkan
Asep Ikhsan di Dikpol Demokrat Jabar: "Wakil Rakyat Tidak Cukup Hanya Hadir di Sidang!"
Perkuat Silaturahmi, Jajaran Fraksi Partai Demokrat Kabupaten Bandung Gelar Lomba Rakyat yang Meriah
BBWS CimanCis Beri Santunan dan Bantuan Pendidikan untuk Keluarga Korban Pohon Tumbang di Cirebon
Reses Faisal Radi: Warga Soroti Bukti Nyata Pembangunan di Cangkuang