Two Pianists, Two Countries United for Humanity Musik Menyatukan Indonesia-Ukraina di Tengah Perang

Minggu, 7 Dec 2025 00:44
Para musisi dengan Sultan Sepuh Aloeda II dari Cirebon R.H.RAHARDJO DJALI Ak,MASc, CMA,CFA & istri Ananda Sukarlan

NARASINETWORK.COM - Pada tahun keempat invasi Rusia ke Ukraina sejak Februari 2022, perang tidak hanya merenggut nyawa dan merusak kota, melainkan juga mengancam identitas budaya Ukraina. Museum ambruk, manuskrip kuno terbakar, dan tradisi lisan terputus oleh gelombang pengungsian. Namun, di saat senjata berbicara keras, seni dan budaya muncul sebagai suara lembut yang menyatukan bangsa, menyalakan api kemanusiaan, dan mengingatkan dunia akan kesatuan kemanusiaan.

Jumat lalu (5/12/2025) Jakarta menyaksikan wujud dari hubungan ini melalui konser berjudul “Two Pianists, Two Countries, United for Humanity” di Deheng House, Kemang. Acara ini juga merayakan rangkaian Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) yang telah digelar di 10 kota Indonesia. Masih tersisa babak semifinal di Jakarta pada Minggu, 7 Desember 2025, sebelum Grand Finale selama dua hari, 13 dan 14 Desember 2025, di Institut Français d’Indonésie, Jakarta.

Konser "Two Pianists, Two Countries, United for Humanity" di Jakarta (5 Des 2025) oleh Ananda Sukarlan (Indonesia) dan Taras Filenko (Ukraina) menyatukan kedua negara melalui musik di tengah perang Ukraina. Acara juga merayakan Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+), dengan penampilan pemenang KPN+ dan Ananda Sukarlan Award (ASA) 2025. Hasil penjualan tiket disumbangkan untuk korban perang Ukraina dan pendidikan musik anak kurang mampu.

Dua pianis utama memegang peran sentral: Dr. Taras Filenko, pianis dan etnomusikolog Ukraina yang membawa napas tanah kelahirannya yang terluka, serta Ananda Sukarlan yang disebut Sydney Morning Herald sebagai “one of the world's leading pianists, at the forefront of championing new piano music” sekaligus pendiri KPN+.

Dengan kehangatan, Ananda mengajak dua vokalis pemenang KPN+ dan pemenang Ananda Sukarlan Award 2025 untuk tampil bersama, menjadikan konser bukan sekadar pertunjukan melainkan pernyataan cinta lintas bangsa, di balik denting piano dan keindahan puisi, tetap ada harapan untuk perdamaian. Dari Kyiv yang terbakar hingga Jakarta yang sibuk, musik membuktikan bahwa jarak bisa dipersingkat, luka bisa diobati, dan hati yang terpisah bisa bersatu dalam nada yang sama.

Konser dibuka oleh pemenang KPN+ region Surabaya 2025, mezzo-soprano Cindy Honanta dan bariton Jason Suryaatmaja, juara pertama Kategori Vokal (Tembang Puitik). Mereka menyanyikan 4 tembang puitik Ananda Sukarlan.

Jason membawakan lagu berdasarkan puisi Tengsoe Tjahjono (yang baru menerima Anugerah Sabda Budaya Universitas Brawijaya pada 3 Desember) dan Dedy Tri Riyadi, sedangkan Cindy menyanyikan lagu berdasarkan puisi penyair perempuan Ewith Bahar (“Seonggok Bangkai”, tentang kematian masa pandemi Covid-19) dan Erna Winarsih Wiyono (Luna).

"Luna" Ketika Kata Jadi Nada di Tangan Ananda Sukarlan. Luna ditulis oleh Erna Winarsih Wiyono, satu penulis dan editor bagian dari tim media dari narasinetwork.com

Ananda Sukarlan, seorang pianis dan komposer yang namanya telah berkibar di kancah internasional, kembali menunjukkan kejeniusannya dalam menggabungkan kata dan nada. Dikenal atas prestasinya yang mendunia, Ananda tidak hanya dianugerahi penghargaan tertinggi dari Kerajaan Spanyol, "Real Orden de Isabel la Católica," tetapi juga gelar kesatriaan "Cavaliere Ordine della Stella d’Italia" oleh Presiden Italia Sergio Mattarella pada tahun 2020. Selain itu, ia tercatat sebagai seniman Indonesia pertama yang diundang ke Portugal setelah pemulihan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Portugal pada tahun 2000, serta menerima Prix Nadia Boulanger dari Orleans, Perancis.

Ananda Sukarlan juga termasuk dalam 32 tokoh inspiratif dalam buku "Heroes Amongst Us," karya Dr. Amit Nagpal, dan dinobatkan sebagai salah satu dari 100 "Asia’s Most Influential" di bidang seni oleh Majalah Tatler Asia pada tahun 2020. Alumni SMA Kolese Kanisius Jakarta (1986) ini menyelesaikan pendidikan musiknya di Koninklijk Conservatorium, Den Haag, Belanda, dengan predikat Summa CumLaude.

Dalam sebuah percakapan dengan perwakilan narasinetwork.com yaitu Erna W. Wiyono, terungkap bahwa inspirasi musik Ananda seringkali datang secara spontan. Salah satunya adalah adaptasi puisi "Luna" karya Erna W. Wiyono menjadi komposisi musik yang memukau. Ananda menjelaskan bahwa puisi tersebut membangkitkan kenangan tentang mantan pacarnya yang bernama Luna, yang dalam bahasa Spanyol berarti Bulan.

"Saya selalu berpikir musik dan seni itu dokumen yang mencatat sejarah, termasuk sejarah pribadi," ujar Ananda Sukarlan. 

Proses pembuatan musiknya terbilang cepat, karena puisi "Luna" langsung membentuk melodi di benaknya. "Di komposisi, ini ibarat 'nyemil', bukan 'makan berat'," tambahnya, menggambarkan betapa lancarnya proses kreatif tersebut.

Selanjutnya tampil pemenang Ananda Sukarlan Award (ASA) 2025, pianis Michael Anthony Kwok yang terlahir buta dan autis. Ia membawakan Rapsodia Nusantara no. 44, mahakarya terbaru Ananda yang ditulis khusus sebagai hadiah baginya, yang menggabungkan motif “Potong Bebek Angsa” dengan Sonata Beethoven “Waldstein”.

Ananda sendiri memainkan dua karyanya: Oh Holy Night, Oh Speedy Night (Variasi dari lagu Natal “O Holy Night” Adolphe Adam) dan Rapsodia Nusantara no. 39 untuk tangan kiri saja, berdasarkan lagu rakyat NTT Oras Loro Malirin. Ia tampil dengan busana tenun desain Rosdhani yang dibuat khusus, dengan warna dasar bendera Ukraina (biru dan kuning).

Sementara itu, Taras Filenko memainkan karya komponis Ukraina seperti Mykola Lysenko, Myroslav Skoryk, dan Fedir Akimenko. Sebagai penutup, keduanya bermain duet 4 tangan pada karya Ananda “Make The Bells Jingle Again”, melambangkan persahabatan dua negara dan merayakan suasana Natal.

Di antara penonton terdapat tokoh media seperti Bambang Harymurti dan Tamalia Alisjahbana, serta Sultan Sepuh Aloeda II dari Cirebon, R.H.Rahardjo Djali Ak,MASc, CMA,CFA, dan desainer Rosdhanimurti yang mendesain busana Ananda.

Cindy Honanta – yang dipuji The Straits Times (Singapura) sebagai “sublime” dan “sumptuously voiced” – membuat debut opera pada usia 23 tahun sebagai Bianca dalam The Rape of Lucretia (Benjamin Britten) dan telah memainkan peran seperti Divinity dalam The Butterfly Lovers (Richard Mills), Teresa dalam La Sonnambula (Vincenzo Bellini), serta Caregiver dalam pemutaran perdana dunia Losing Lily (Chen Zhangyi). Ia meraih gelar Sarjana Musik dengan Predikat Tertinggi dari Konservatorium Musik Yong Siew Toh (Singapura) di bawah bimbingan Alan Bennett dan saat ini belajar dengan Andrew Wilkinson.

Jason Suryaatmaja adalah bariton asal Kediri yang menempuh studi Sarjana Musik Vokal Klasik di Hochschule für Musik und Theater Hamburg, Jerman, bersama Prof. Mark Tucker. Ia meraih gelar Sarjana dari Yong Siew Toh Conservatory of Music (Singapura) pada 2025 di bawah bimbingan Prof. Alan Bennett, juara 1 Bandung Solo Vocal Competition (2025), juara 1 dan 2 Kompetisi Vokal Konserto YST dalam 2 tahun berturut-turut, serta anggota Asia Pacific Youth Choir (2023, 2024).

Hasil penjualan tiket konser disumbangkan kepada Yayasan Olena Zelenska untuk rehabilitasi korban perang dan Yayasan Musik Sastra Indonesia yang memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak kurang mampu.

Acara ini disponsori oleh Rotary Club cabang Menteng, Ananda telah diangkat sebagai Honorary Member Rotary Club International pada 2023 dan juga memperingati Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada 3 Desember 2025 lalu.

Berita Terkini