Tantangan Global Tak Mengganggu Pemerintah Dorong Pertumbuhan Ekonomi 2026

Kamis, 5 Mar 2026 12:11
Pemerintah tetap optimis dengan pertumbuhan ekonomi 5,39% Q4-2025 dan target 5,4% tahun 2026. Akselerasi program prioritas (pertanian, manufaktur, ekonomi digital, energi), stimulus menjelang Idulfitri, reformasi struktural, dan kerja sama internasional. Istimewa

NARASINETWORK.COM - Pemerintah Indonesia menegaskan optimisme terhadap ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian global yang meningkat. Kondisi ini didukung fundamental ekonomi yang kuat, dengan pertumbuhan sebesar 5,39% (yoy) pada Kuartal IV-2025, menjadi salah satu tertinggi di antara negara anggota G20. Aktivitas sektor riil dan konsumsi menunjukkan performa baik, tercermin dari PMI manufaktur pada level ekspansif 53,8 pada Februari 2026, Indeks Keyakinan Konsumen sebesar 127 pada Januari 2026, serta pertumbuhan penjualan riil sebesar 7,9% (yoy).

Ekonomi Indonesia juga tumbuh dengan kualitas baik. Angka kemiskinan turun menjadi 8,25%, pengangguran menjadi 4,74%, dan rasio Gini membaik ke 0,363 – seluruhnya berada pada level terendah beberapa tahun terakhir. Realisasi investasi sepanjang 2025 berhasil menyerap 2,71 juta tenaga kerja baru.

“Pertumbuhan kuartal pertama tahun ini diharapkan lebih tinggi dari kuartal keempat tahun lalu. Hal ini didukung berbagai program stimulus pemerintah dan inisiatif lain yang mendorong makro ekonomi, terutama dari sisi konsumsi. Belanja pemerintah juga akan terus didorong,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara CNN Indonesia Economic Forum 2026 di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Menko Airlangga menjelaskan, eskalasi konflik global termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah berpotensi memengaruhi stabilitas energi dunia, khususnya jika terjadi gangguan pada jalur distribusi minyak global. Meskipun demikian, kondisi fiskal Indonesia dinilai terkendali dengan asumsi harga minyak dalam APBN sebesar USD70 per barel, sementara harga minyak dunia berada pada level relatif aman. Pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) melakukan langkah antisipatif melalui diversifikasi sumber pasokan energi, termasuk kerja sama pengadaan minyak dengan Amerika Serikat untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 sebesar 5,4% difokuskan pada sektor prioritas: pertanian, manufaktur, ekonomi digital, dan ketahanan energi. Berbagai program prioritas nasional termasuk Program Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih, komersialisasi Danantara, peningkatan Investasi Asing Langsung (FDI), serta pembangunan tiga juta rumah. Program-program ini diharapkan mendorong permintaan domestik, memperluas penciptaan lapangan kerja di wilayah perkotaan dan perdesaan, serta meningkatkan produktivitas melalui program link and match tenaga kerja.

Selain penguatan konsumsi domestik, pemerintah terus mempercepat reformasi struktural melalui deregulasi, penyederhanaan perizinan berbasis Online Single Submission (OSS), serta pembentukan satuan tugas debottlenecking untuk mengatasi hambatan investasi. Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan program hilirisasi nasional juga didorong untuk meningkatkan nilai tambah industri dan penciptaan lapangan kerja. Di sektor keuangan, pemerintah memperkuat pasar melalui peningkatan transparansi pasar modal dan perluasan partisipasi investor institusional domestik. Peluncuran bullion bank menjadi langkah strategis dalam menyediakan alternatif instrumen investasi yang aman di tengah volatilitas global.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan jangka pendek, pemerintah menyiapkan berbagai stimulus menjelang Idulfitri. Antara lain diskon transportasi, bantuan pangan kepada 35,04 juta keluarga penerima manfaat, serta penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR). Pemberian stimulus ini diharapkan akselerasi belanja masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I-2026 hingga mencapai 5,5% (yoy).

Pemerintah juga memperluas kerja sama ekonomi internasional melalui berbagai perjanjian perdagangan dan investasi, termasuk penyelesaian perundingan kemitraan ekonomi dengan Uni Eropa, Kanada, serta kawasan Eurasia. Indonesia juga akan memperoleh aksesi ke Organisasi untuk Pembangunan Ekonomi dan Pembangunan (OECD) beberapa tahun mendatang. Selain itu, Indonesia telah menandatangani kesepakatan Agreement on Reciprocal Tariff dengan Amerika Serikat yang menghasilkan struktur tarif perdagangan lebih kompetitif bagi produk Indonesia.

Dalam sesi diskusi panel, Menko Airlangga menegaskan bahwa capaian pertumbuhan ekonomi 5% merupakan hasil sinergi antara sektor konsumsi, investasi, ekspor, serta intervensi kebijakan pemerintah melalui program perlindungan sosial dan stimulus fiskal untuk menjaga daya beli masyarakat. Ke depan, pemerintah akan memperkuat pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan rasio perpajakan, digitalisasi sistem perpajakan, serta investasi pada pembangunan sumber daya manusia termasuk Program Makan Bergizi Gratis.

“Salah satu fokus implementasi yang perlu diawasi adalah program Coretax. Jika program ini berjalan baik, penerimaan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) saja diperkirakan dapat meningkat 2-3%. Oleh karena itu, pemerintah tetap optimis bahwa dengan perbaikan penerimaan negara, perekonomian akan menjadi lebih solid,” pungkas Menko Airlangga.

Turut hadir dalam acara tersebut antara lain CEO CT Corp Chairul Tanjung, Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Mukhamad Misbakhun, Menteri Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Maman Abdurrahman, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Badan Usaha Milik Negara Kemenko Perekonomian Ferry Irawan, serta Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto.

 


Berita Terkini