Teknologi Digital dan Lingkungan Hidup Pemerintah Dorong Inovasi di Sektor Engineering

Kamis, 5 Mar 2026 12:31
Pemerintah mendukung perkembangan sektor engineering untuk masa depan yang cerdas dan hijau. Indonesia perlu penambahan insinyur, khususnya untuk industri semikonduktor dan digital. Istimewa

NARASINETWORK.COM - Untuk memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) Tahun 2030, dunia membutuhkan investasi tahunan sekitar USD4-USD7 triliun, dengan sebagian besar harus berbasis teknologi cerdas dan ramah lingkungan. Digitalisasi dan konsep lingkungan hidup telah menyatu sebagai bagian tak terpisahkan dalam perkembangan global.

Indonesia menjadi laboratorium aktif untuk inovasi berbasis digitalisasi dan lingkungan hidup, didukung valuasi ekonomi digital yang diproyeksikan mencapai USD124 miliar pada 2025 dan menjadi terbesar di wilayah ASEAN. Pada tahun yang sama, penetrasi koneksi seluler mencapai 116%, dengan dukungan 230 juta pengguna internet dan 180 juta identitas media sosial.

“Indonesia berada pada peringkat ke-51 dalam World Digital Competitiveness Rankings 2025. Meskipun posisi ini turun dari peringkat ke-43 pada 2024, pemerintah tetap memandang data ini dengan optimis. Perluasan kapasitas sektor engineering menjadi penting untuk mendapatkan kembali dan melampaui posisi sebelumnya,” jelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam sambutannya pada acara World Engineering Day 2026. Acara tersebut diadakan oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan didukung oleh The World Federation of Engineering Organizations (WFEO) serta UNESCO di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Indonesia memiliki target pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJMN) 2025-2045. Pada 2030, negara ini menargetkan berada di peringkat 45 besar Global Innovation Index. Data dari Cyber Security Index 2024 menunjukkan Indonesia telah mapan di Tier 1 – kategori “role model”.

“Tugas insinyur dan pembuat kebijakan adalah menyebarluaskan keberhasilan dari wilayah Tier 1 ke seluruh negeri, memastikan pertumbuhan digital yang seimbang. Para insinyur harus melampaui inovasi semata, namun juga menggunakan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) dan Big Data untuk mengatasi kelangkaan air, mengoptimalkan jaringan energi, serta membangun kota-kota yang tangguh,” ujar Menko Airlangga.

Menko Airlangga mengungkapkan bahwa Indonesia masih mengalami kekurangan jumlah insinyur dan sarjana teknik, terutama karena pemerintah sedang mendorong pengembangan industri semikonduktor.

“Diperlukan penambahan sekitar 45% dari jumlah insinyur yang ada saat ini. Untuk industri semikonduktor, diperlukan sekitar 15 ribu insinyur khusus. Sementara untuk industri digital, diperlukan penambahan sekitar 150 ribu insinyur dalam kurun waktu enam tahun ke depan,” ungkap Menko Airlangga.

Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan telah mendorong program pelatihan vokasi untuk retraining dan reskilling. “Sebelumnya di London, telah ditandatangani kesepakatan antara Danantara dan ARM Limited untuk menyediakan pelatihan bagi 15 ribu insinyur dalam ekosistem ARM. Langkah ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan insinyur pada industri yang didorong pemerintah,” tutur Menko Airlangga.

Indonesia menjadi negara pertama di kawasan ASEAN yang berhasil menyelesaikan UNESCO AI Readiness Assessment. Hal ini menunjukkan bahwa negara ini bukan hanya konsumen teknologi AI, melainkan juga secara sistematis mempersiapkan kerangka hukum, etika, dan sosial untuk menjadi pusat inovasi generasi berikutnya.

Industri yang cepat mengadopsi AI memperoleh pendapatan tiga kali lebih tinggi daripada industri yang lambat beradaptasi, dengan peningkatan produktivitas dari 8,5% menjadi 27%. Secara global, AI diproyeksikan berkontribusi sebesar USD15,7 triliun bagi perekonomian pada 2030. Khusus untuk Indonesia, AI Generatif berpotensi menambah kontribusi sebesar USD243,5 miliar.

“Indonesia adalah pasar potensial besar di masa depan dan dunia sedang berinvestasi di negara ini. Meskipun menjadi pasar utama untuk teknologi AI, harus dipastikan bahwa Indonesia bukan hanya konsumen teknologi canggih, tetapi juga sebagai pencipta dan pemiliknya,” ucap Menko Airlangga.

Tidak ada negara yang dapat membangun planet yang sehat sendirian. Dalam perayaan World Engineering Day 2026 ditegaskan bahwa misi engineering bukan hanya tentang inovasi, melainkan juga tanggung jawab dalam membentuk dunia yang lebih cerdas, lebih hijau, dan sesuai dengan kebutuhan generasi mendatang.

“Saya mengajak PII untuk berpartisipasi aktif dalam menyukseskan misi ini. Langkah yang dapat dilakukan antara lain memobilisasi para insinyur dan sarjana teknik, memperkuat standar profesional, mempercepat proses sertifikasi, mempromosikan praktik engineering yang beretika, serta mendukung pengembangan industri semikonduktor, AI, dan teknologi hijau di seluruh Indonesia,” pungkas Menko Airlangga.

Turut hadir dalam acara yang mengangkat tema “Smart Engineering for Sustainable Future through Innovation and Digitalization” antara lain Ketua Umum PII Ilham Akbar Habibie, President of WFEO Seng Chuan Tan, Director of Jakarta UNESCO Office Maki Katsuno Hayashikawa, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Denny Abdi, serta Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM Hermansyah Siregar.

 


Berita Terkini