Iyut Fitra Penyair yang Memeluk Kata Hingga Napas Terakhir

Minggu, 3 May 2026 18:26
    Bagikan  
Iyut Fitra Penyair yang Memeluk Kata Hingga Napas Terakhir
Iyut Fitra

Iyut Fitra memiliki nama asli Zulfitra, lahir di Payakumbuh, Sumatra Barat, pada 16 Juni 1968 dan wafat pada 27 April 2026. Ia merupakan seorang sastrawan yang aktif menulis puisi, cerpen, serta esai di berbagai media massa nasional dan daerah.

NARASINETWORK.COM - PAYAKUMBUH, Kabar kepergian datang tanpa aba-aba. Meski kondisi kesehatan sudah lama diketahui, rasa kehilangan tetap terasa nyata. Iyut Fitra telah berpulang. Penyair yang karya puisinya memiliki ketajaman tersendiri, tulisan esainya terasa akrab, suaranya dikenal luas di ranah Minang, kini telah tiada.

Iyut Fitra, nama lengkap Zulfitra, lahir di Payakumbuh, Sumatra Barat, 16 Juni 1968. Ia menghembuskan napas terakhir di RS M. Djamil, Padang, Senin (27/4/2026) pukul 15.26 WIB. Rasa sakit yang diderita sudah tak sanggup lagi ditahan.

Pendidikan formal diselesaikan di kota asal hingga tamat dari Sekolah Tinggi Pertanian Payakumbuh. Sejak era 1980-an, nama Iyut mulai dikenal lewat puisi, cerpen, dan esai yang dimuat di berbagai media massa. Sepanjang karier, karya yang diterbitkan antara lain Musim Retak (2006), Dongeng-dongeng Tua (2009), serta Lelaki dan Tangkai Sapu (2017). Buku terakhir ini mendapatkan penghargaan sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada tahun 2018.

Beberapa hari sebelum wafat, Sastri Bakry bersama Zusneli Zubir menjenguk. Saat tangan menyentuh bagian tubuhnya yang membengkak besar, ia berteriak menahan perih. Pemandangan itu membekas dan membuat hati terguncang.

"Teruslah menulis, Yut. Bila tubuh tak sanggup memegang pena, ucapkan saja, nanti ada yang mencatat," pesan saya saat hendak berpamitan. Itu percakapan terakhir kami.

Bagi Sastri, Iyut bukan sekadar tokoh sastra. Ia sosok saudara, sahabat dekat, sekaligus lawan diskusi yang berani menyuarakan isi pikiran. Banyak kenangan terjalin bersama komunitas SatuPena Sumbar. Pandangannya sejak pelaksanaan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) pertama selalu menjadi catatan penting.

Masyarakat mengenal Iyut lewat karya yang berani menyuarakan kebenaran. Namun di balik itu, ada sisi pribadi yang sangat manusiawi. Ia sering menghubungi untuk berbagi cerita atau bertukar pikiran. Hubungan kami tak selalu manis, ada masa kesal atau merasa berbeda pandangan, namun justru itu yang membuat pertemanan terasa nyata.

Sastri ingat peristiwa saat IMLF-1 tahun 2023. Acara dihadiri perwakilan dari 12 negara. Hujan turun sangat deras saat gilirannya tampil di puncak acara, namun ia tak kunjung muncul. Sepuluh penyair lain sudah tampil bergantian selama lima hari pelaksanaan. Saat itu hanya bisa bergumam, "Sastra tak boleh kalah oleh cuaca." Sikapnya mengajarkan bahwa puisi bukan sekadar tulisan, tapi soal kehadiran dan tindakan.

Buku-buku kumpulan puisi Iyut banyak tersedia di Rumah Baca Teras Talenta. Saya juga sering mengantar dan menyalurkan buku-buku tersebut ke berbagai sekolah dan rumah baca, sebagian besar merupakan donasi dari Denny JA. Karya-karyanya menjadi bacaan rutin bagi anak-anak dan pegiat literasi. Ada bait-bait tertentu yang kini terbaca seolah ia sudah merasakan kedatangan akhir hayatnya jauh hari sebelumnya.

Namun, warisan terbesar bukanlah tumpukan buku. Ia meninggalkan semangat untuk berani berkata jujur. Ia mengajarkan bahwa penyair harus menjadi suara nurani, bukan hanya merangkai kata indah semata.

Meski berjiwa pemberani, ada kalanya ia merasa lelah dengan tekanan lingkungan. Beberapa bulan lalu, saat bertemu bersama Refdinal Muzan, ia berpesan dengan suara lemah: "Uni, jan dikaluakan di medsos foto dan pertemuan awak ko. Ambo ndak kuat menerima serangan, karena kondisi sakik ko."

Sejak saat itu, janji itu ditepati. Tidak ada unggahan tentang pertemuan kami, termasuk saat kunjungan di rumah sakit. Kesetiaan pada permintaan orang yang sedang sakit adalah bentuk penghormatan tertinggi.

Sumatera Barat kehilangan salah satu penjaga bahasa. Namun seperti kalimat yang sering ia ucapkan, penyair bisa pergi, tapi puisi akan tetap hidup.

Tugas yang ditinggalkan adalah meneruskan apa yang belum rampung. Menjaga api literasi tetap menyala, mendorong generasi muda berani menulis dengan kejujuran, dan memastikan IMLF tetap menjadi wadah terbuka bagi semua. Tanpa sekat, tanpa permusuhan, dan selalu bergerak maju lewat kerja sama.

Iyut Fitra, yang dikenal masyarakat luas dengan nama pena tersebut, memiliki nama asli Zulfitra. Ia lahir di Payakumbuh, Sumatra Barat, tepatnya pada tanggal 16 Juni 1968. Perjalanan hidupnya di dunia ini berakhir pada Senin, 27 April 2026, setelah sekian lama berjuang melawan penyakit.

Sebagai seorang sastrawan, kiprahnya di dunia tulis-menulis terbilang sangat panjang. Nama Iyut Fitra mulai dikenal dan aktif berkarya sejak era 1980-an. Selama rentang waktu tersebut, ia rutin menyalurkan gagasan dan perasaannya lewat berbagai bentuk karya sastra, mulai dari puisi, cerpen, hingga esai yang dimuat di banyak media massa, baik tingkat nasional maupun daerah.

Di samping kesibukannya di dunia sastra, latar belakang pendidikan formal yang ditempuh juga menarik untuk dicatat. Ia menempuh seluruh jenjang pendidikan di kota kelahirannya dan berhasil menyelesaikan studi tinggi di Sekolah Tinggi Pertanian (STP) Payakumbuh.

Sepanjang karier yang dijalani, Iyut Fitra berhasil melahirkan sejumlah buku kumpulan puisi yang menjadi bukti nyata produktivitasnya. Beberapa karya penting yang diterbitkan antara lain Musim Retak yang hadir di tahun 2006, disusul dengan Dongeng-dongeng Tua pada tahun 2009, serta Lelaki dan Tangkai Sapu yang dirilis tahun 2017.

Karya terakhir ini bahkan mendapat pengakuan tinggi melalui Penghargaan Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2018, menandai pencapaian gemilang dalam perjalanan seninya.

Sastri Bakry menuturkan perasaannya kepada Narasinetwork.com

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Erwan Kusuma Hermawan Didapuk Jadi Ketua KODRAT Kabupaten Bandung, Persiapkan Target Besar
Kekeringan Mulai Menghantam Arjasari, 5.558 Warga Terima Bantuan Air Bersih
BPBD Kabupaten Bandung Sebut Armada dan Operasional Masih Tidak Optimal, 7 Mobil Tangki Air Diajukan ke BNPB
Kuota TPA Sari Mukti Habis, Pengangkutan Sampah di Wilayah 4 Kabupaten Bandung Terhenti, Ancaman Penumpukan
BPBD Kabupaten Bandung Percepat Distribusi Air Bersih, Gandeng PMI hingga PDAM Tangani Dampak Kekeringan
DPD APPSI Kabupaten Bandung Periode 2026-2031 Resmi Dikukuhkan, Berikut Nama-nama Pengurusnya
Dalam Rangka HUT RI, PDAM Tirta Raharja Luncurkan Program Subsidi Untuk Warga Masyarakat, Ini Penjelasannya
'Viralkan, Saya Kasih Hadiah!' Dedi Mulyadi Tantang Warga Bongkar Penjual Tramadol dan Miras Ilegal di Jabar
Riani Pemulung "A Mother from Tegal Turning a Simple Hut into a Place of Learning"
Bakso Abang-Abang Kuliner Sederhana dengan Rasa yang Sulit Dilupakan
Indonesian Stars Agnez Mo and Anggun C. Sasmi Join Reacher Season 4 as Powerful Antagonists
PLKI UPQ Ciawi Bogor Menyusuri Sejarah Percetakan Al-Qur’an Indonesia
Muharam Islamic Literacy Festival 1448 H, Hadirkan Literasi, Layanan Sosial, dan Wisata Edukasi Al-Qur'an
Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas Awali Rangkaian Peringatan HUT Ke-81 RI, Perkuat Persatuan dan Akhlak Bangsa
Kang Andhy Daftar Calon Ketua PWI Jabar 2026, Usung Program Kesejahteraan Wartawan
Kepergian Nasirun Perupa dengan Jejak Panjang di Seni Rupa Indonesia
Transcendental Lyrical Mysticism A New Philosophical Aesthetic in Literature Liauw Pauw Phing
Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas Hadirkan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dan Tokoh Lintas Agama
Wali Kota Padang Lepas Tim Safari Puisi Empat Negara Satupena Sumbar dan Sumbar Talenta
Safari Puisi Empat Negara Resmi Digelar Satupena Sumbar, Sumbar Talenta Perkenalkan Karya Sastra di Malaysia