NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Ungkapan Vatvat Evav enfadit lajaran, fo enkuat e ni nangan ma e ni liran mengandung makna yang tetap terjaga meski diterapkan jauh dari tanah asal. Bagi perempuan Kei yang tinggal dan beraktivitas di wilayah perkotaan, nilai yang terkandung tidak lagi bermakna secara harfiah sebagai keterampilan menunggangi kuda, melainkan berubah menjadi pedoman menjalani kehidupan yang dinamis dan penuh tantangan.
Di tengah lingkungan yang serba cepat dan beragam pengaruh, semangat tersebut terwujud sebagai cara memegang kendali atas diri sendiri, memperkokoh posisi, dan berani menyampaikan pendapat.
“Bagi perempuan Kei, semangat berkuda tidak hanya tentang punggung hewan, melainkan tentang kemandirian jiwa. Dahulu ia belajar menyeimbangkan badan di atas lari kuda; kini ia belajar menyeimbangkan nilai tradisi dan tantangan zaman.
Kota menawarkan banyak jalan, namun Larvul Ngabal mengajarkan memilih jalan yang mulia. Ia membuktikan bahwa menjadi modern tidak berarti meninggalkan akar, dan menjadi tradisional tidak berarti menolak kemajuan. Seperti Nen Dit Sakmas yang memperjuangkan hak di masanya, ia kini berjuang dengan cara baru: menjaga harga diri, berkontribusi bagi sesama, dan menunjukkan bahwa ketangguhan perempuan Kei tumbuh subur di mana pun ia berpijak.”
Nilai utama yang menjadi landasan adalah hukum adat Larvul Ngabal, yang sejak lama menempatkan perempuan pada kedudukan terhormat. Ketentuan nomor 3, 4, dan 5 yang dikenal sebagai Nevan Saan, Nevan Sira, dan Nevan Belan dirumuskan untuk melindungi martabat, kehormatan, dan keselamatan perempuan. Prinsip ini tetap menjadi pegangan kuat meski berada di lingkungan yang aturannya berbeda. Di kota, warisan itu tidak dipandang sebagai aturan kaku, melainkan sebagai panduan membentuk sikap dan perilaku dalam setiap situasi.
Makna kemandirian tercermin dalam keberanian menentukan arah hidup sendiri. Di perkotaan, perempuan Kei dihadapkan pada beragam pilihan pendidikan, pekerjaan, dan peran sosial yang tidak selalu sama dengan kebiasaan di kampung halaman. Mereka belajar mengatur langkah, menimbang keputusan, dan bergerak sesuai nilai yang diyakini, tanpa melepaskan jati diri. Hal ini menunjukkan bahwa kendali atas hidup dapat diterapkan di mana pun berpijak.
“Kuda melambangkan tenaga, tetapi pengendali yang menentukan arah. Begitu juga kehidupan: lingkungan boleh berubah, namun nilai diri tetap dipilih dan dipertahankan. Perempuan Kei di kota menjalani makna ini setiap hari: mengubah tantangan menjadi pelajaran, perbedaan menjadi kekayaan, dan jarak menjadi kesempatan memperkenalkan budaya.
Larvul Ngabal mengingatkan: perempuan dilahirkan untuk dijunjung, bukan dibatasi; untuk berbicara, bukan dibungkam; untuk melangkah maju, bukan tertinggal. Maka ketika ia berdiri tegak di tengah keramaian, ia sesungguhnya sedang ‘berkuda’ menggerakkan hidup dengan kekuatan batin yang diturunkan dari generasi ke generasi.”
Sementara itu, kekuatan posisi tampak dalam upaya menempatkan diri secara setara di tengah masyarakat majemuk. Perempuan Kei di kota dituntut beradaptasi tanpa kehilangan ciri khasnya. Nilai perlindungan dalam adat mengajarkan untuk menjaga kehormatan diri sekaligus membuktikan kemampuan di berbagai bidang. Dengan begitu, keberadaan mereka diakui dan dihargai oleh lingkungan sekitar, layaknya posisi mulia yang diwariskan leluhur.
Keberanian bersuara juga mendapat makna baru. Jika di tanah asal suara perempuan didukung oleh kesepakatan adat, di kota mereka harus berlatih menyampaikan pendapat, membela hak, dan berbagi pandangan di tengah lingkungan yang sering kali kurang memahami budaya asal. Semangat Nevan Saan, Nevan Sira, Nevan Belan menjadi landasan: berbicara dengan sopan namun tegas, menyuarakan kebenaran, dan menjunjung keadilan.
Proses hidup di perkotaan menguji keteguhan batin layaknya belajar mengendalikan kuda. Diperlukan konsentrasi untuk memilah pengaruh yang datang, ketegasan memegang prinsip, dan keberanian menghadapi perbedaan. Jarak dari keluarga, perbedaan cara pandang, serta persaingan menjadi sarana menempa watak agar tetap teguh dan tidak mudah goyah. Nilai yang semula dikenal lewat cerita dan ajaran berubah menjadi sikap nyata: berani berdiri teguh meski di tengah arus perubahan.
Menghidupkan warisan di tengah modernitas bukan berarti terjebak pada cara lama, melainkan meneruskan semangat leluhur dengan cara yang sesuai zaman. Seperti tokoh Nen Dit Sakmas yang memperjuangkan hak di masanya, perempuan Kei di kota kini memperluas makna peran tersebut. Keberanian menuntut ilmu, membangun jejaring, dan berkarya menjadi bukti bahwa identitas budaya tidak luntur meski berpindah tempat. Mereka membuktikan bahwa warisan leluhur tetap menjadi bekal untuk memegang peran, mengambil keputusan, dan berkontribusi bagi lingkungan sekitar.
Dengan demikian, hukum adat Larvul Ngabal tetap hidup sebagai pegangan batin. Semangat yang dahulu disimbolkan di atas punggung kuda kini tampak dalam kemandirian berpikir, kekuatan sikap, dan keberanian bertindak. Perempuan Kei di perkotaan menjadi penghubung antara akar budaya dan dunia yang terus bergerak, membuktikan bahwa martabat dan ketangguhan dapat tumbuh subur di mana pun berada.
