Bulan Sya’ban Peristiwa Penting dan Tradisi yang Membentuk Kehidupan Beragama

Minggu, 1 Feb 2026 22:43
Bulan Sya’ban penting bagi umat Islam Indonesia sebagai masa persiapan Ramadhan dan memiliki tradisi seperti malam Nisfu Sya’ban. Menurut kitab Ma Dza fi Syaban, tiga peristiwa penting terjadi di bulan ini. Istimewa

NARASINETWORK.COM - Bulan Sya’ban adalah salah satu bulan yang masyhur dan penting bagi umat Islam di Indonesia. Selain karena posisinya yang berdekatan dengan bulan Ramadhan dan berfungsi sebagai masa persiapan menyambut ibadah puasa, bulan ini juga diwarnai dengan berbagai tradisi keagamaan yang rutin diperingati, salah satunya adalah peringatan malam Nisfu Sya’ban.

Selain malam Nisfu Sya’ban, ada beberapa peristiwa penting yang terjadi pada bulan Sya’ban. Dalam kitab Ma Dza fi Syaban karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki menyebutkan tiga peristiwa penting yang berimbas pada kehidupan beragama seorang Muslim.

1. Peralihan Kiblat

Peralihan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram terjadi pada bulan Sya’ban.

Menurut Al-Qurthubi dalam penafsirannya terhadap Surah Al-Baqarah ayat 144 di dalam kitab Al-Jāmi’ li Ahkāmil Qur’an, dengan mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti, disebutkan bahwa Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk memindahkan arah kiblat pada malam Selasa di bulan Sya’ban, yang bertepatan dengan malam Nisfu Sya’ban.

Peristiwa perubahan arah kiblat ini merupakan momen yang sangat dinantikan oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan dikisahkan bahwa beliau kerap menengadahkan pandangan ke langit setiap hari, menunggu turunnya wahyu terkait peralihan kiblat tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 144.

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Artinya: “Sungguh Kami melihat wajahmu kerap menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”

2. Penyerahan Rekapitulasi Keseluruhan Amal kepada Allah

Salah satu hal yang menjadikan bulan Sya’ban utama adalah bahwa pada bulan ini semua amal kita diserahkan kepada Allah SWT.

Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki mengutip sebuah hadis riwayat An-Nasa’i yang memuat dialog antara Usamah bin Zaid dan Nabi Muhammad SAW. Usamah bertanya, “Wahai Nabi, aku tidak melihat engkau berpuasa di bulan-bulan lain sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban.” Rasulullah SAW kemudian menjawab bahwa banyak orang lalai pada bulan Sya’ban. Pada bulan itulah seluruh amal perbuatan disampaikan kepada Allah SWT, dan beliau menyukai saat amalnya diserahkan dalam keadaan sedang berpuasa. Penyerahan amal yang dimaksud adalah penyampaian rekapitulasi amal manusia secara menyeluruh.

Meskipun demikian, menurut penjelasan Sayyid Muhammad bin Alawi, terdapat waktu-waktu lain selain bulan Sya’ban yang juga menjadi momentum penyerahan amal kepada Allah, seperti setiap siang dan malam, serta setiap pekan. Selain itu, ada amal-amal tertentu yang langsung disampaikan kepada Allah tanpa menunggu waktu-waktu tersebut, yakni catatan amal shalat lima waktu.

3. Penurunan Ayat tentang Anjuran Shalawat untuk Rasulullah SAW

Pada bulan Sya’ban diturunkan ayat anjuran untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu Surat Al-Ahzab ayat 56.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Ibnu Abi Shai Al-Yamani mengatakan, bulan Sya’ban adalah bulan shalawat. Karena pada bulan itulah ayat tentang anjuran shalawat diturunkan.

Pendapat ini dikuatkan oleh pendapat Imam Syihabuddin Al-Qasthalani dalam Al-Mawahib-nya, serta Ibnu Hajar Al-Asqalani yang mengatakan bahwa ayat itu turun pada bulan Sya’ban tahun ke-2 hijriyah.

Berita Terkini