DEEP Indonesia: Usulan Pilkada oleh DPRD Langkah Mundur Demokrasi dan Buka Karpet Merah Oligarki Daerah

Senin, 12 Jan 2026 21:05
    Bagikan  
DEEP Indonesia: Usulan Pilkada oleh DPRD Langkah Mundur Demokrasi dan Buka Karpet Merah Oligarki Daerah
Istimewa

Desain ilustrasi analisis DEEP terkait sentimen Pilkada tidak langsung

NARASINETWORK.COM - BANDUNG

-Wacana pengembalian mekanisme pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menuai kritik keras dari Democracy and Election Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia. 


Lembaga ini menilai, usulan tersebut bukan sekadar solusi teknis atas tingginya biaya politik, melainkan ancaman serius terhadap kedaulatan rakyat dan masa depan demokrasi di Indonesia.


Direktur DEEP Indonesia, Neni Nur Hayati, menegaskan bahwa pilkada langsung merupakan instrumen utama demokrasi pascareformasi yang memberi ruang bagi rakyat untuk memilih pemimpinnya secara langsung. "Mengalihkan kembali mekanisme pemilihan ke DPRD dinilai sama dengan mencabut mandat rakyat secara paksa," katanya, dalam keterangannya yang diterima Senin (12/1/2025). 



Menurut DEEP Indonesia, pemilihan kepala daerah melalui DPRD berpotensi menjauhkan rakyat dari proses pengambilan keputusan politik. Kepala daerah yang terpilih tidak lagi bertanggung jawab langsung kepada publik, melainkan kepada koalisi partai atau pimpinan fraksi di parlemen daerah.


“Kami melihat ini sebagai bentuk elite capture, di mana kekuasaan daerah dikuasai oleh segelintir elite politik, bukan oleh kehendak rakyat,” tegas Neni.


Argumen utama pendukung pilkada tidak langsung adalah tingginya biaya politik dalam pilkada langsung. Namun, DEEP Indonesia menilai argumen tersebut keliru. Biaya politik tidak akan hilang, melainkan berpindah dari ruang terbuka ke ruang gelap yang lebih sulit diawasi publik.


Dalam skema pemilihan oleh DPRD, kandidat justru berpotensi mengeluarkan biaya lebih besar untuk melobi anggota dewan. Praktik transaksional dinilai akan semakin masif karena keputusan berada di tangan segelintir orang, bukan jutaan pemilih.


DEEP Indonesia menegaskan bahwa mahalnya biaya politik bukan disebabkan oleh pilkada langsung, melainkan oleh lemahnya transparansi dan akuntabilitas dana kampanye. Berdasarkan temuan pemantauan Pemilu dan Pilkada Serentak 2024, banyak kandidat tidak melaporkan dana kampanye secara jujur dan lengkap.


Laporan Awal Dana Kampanye (LADK), Laporan Penerimaan Sumbangan Dana Kampanye (LPSDK), dan Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Dana Kampanye (LPPDK) kerap minim, meskipun kandidat melakukan kampanye masif dengan baliho dan spanduk di berbagai daerah.


“Jika biaya politik mahal dijadikan alasan, maka solusinya adalah membuka laporan dana kampanye secara transparan, bukan menghapus hak pilih rakyat,” ujar Neni.


DEEP Indonesia juga mengingatkan risiko jangka panjang dari pilkada tidak langsung, terutama dalam konteks legitimasi kepemimpinan daerah. 


Kepala daerah hasil pilihan DPRD dinilai berpotensi kehilangan legitimasi moral di mata masyarakat, terutama saat menghadapi krisis seperti bencana alam atau konflik sosial. Tanpa dukungan langsung dari rakyat, kepala daerah berisiko lebih tunduk pada kepentingan partai dibanding kebutuhan masyarakat.


Berdasarkan pemantauan Deep Intelligence Research (DIR) pada periode 27 Desember 2025 hingga 3 Januari 2025 pukul 20.00 WIB, terdapat 281 pemberitaan media terkait isu Pilkada Tidak Langsung dan Pilkada Dipilih DPRD. Sentimen pemberitaan didominasi oleh 52 persen netral, 47 persen negatif, dan hanya 1 persen positif.


Sementara itu, percakapan publik di media sosial seperti X, Facebook, Instagram, YouTube, dan TikTok menunjukkan dominasi sentimen netral dan negatif. 


Hal ini mengindikasikan bahwa wacana pilkada oleh DPRD tidak mendapat dukungan luas dari masyarakat, meskipun didorong oleh elite partai politik.

Atas dasar kajian kualitatif dan kuantitatif tersebut, DEEP Indonesia menyampaikan beberapa sikap tegas:

Menghentikan eksperimen demokrasi yang mundur dan praktik mahar politik partai pengusung.

Mendorong transparansi dan akuntabilitas publik, termasuk membuka hasil kajian internal partai kepada masyarakat.

Menjaga integritas pilkada langsung sebagai sarana penyaluran aspirasi rakyat.

Mendengarkan suara rakyat, karena mandat kekuasaan berasal dari publik, bukan sekadar kemampuan komunikasi elite politik.


“Pilkada oleh DPRD adalah pengkhianatan terhadap cita-cita reformasi. Demokrasi tidak boleh dikorbankan atas nama efisiensi semu yang justru memperkuat oligarki di daerah,” tegas Neni, mengutip peringatan Lord Acton bahwa kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan absolut korup secara absolut.


**

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Hari Seni Sedunia Memuliakan Ekspresi dan Budaya Global
Digitalisasi Khazanah Islam Menjaga Karya Ulama Tetap Hidup
Dirut BUMD Bandung Daya Sentosa Dijebloskan ke Tahanan, Skema Bisnis Berujung Dugaan Korupsi Ratusan Milyar
Program MBG Adalah Fondasi Membangun Generasi Sehat dan Cerdas di Srengat Blitar
Rini Intama Menyuarakan Sejarah Lewat Kata dan Kain 'Molase dan Dinayra'
Catatan Perjalanan dari Tepi Selat Lombok
Menelusuri Eksotisme Laut Asia Tenggara Bersama Silolona Sojourns
Sketsa Gaya 'Pilihan Busana Anggun untuk Usia 70 Tahun ke Atas' Vol.1
Tren Alas Kaki Pointy Paduan Kenyamanan Flat Shoes dan Estetika Penari
Pergeseran Pandangan Masyarakat Terhadap Batasan Usia Belajar Balet
Wajah Stasiun Jakarta Kota Ruang Ekspresi Musisi Jalanan yang Tertata dan Legal
Perluas Penerima Manfaat, Sosialisasi Program MBG di Gelar di Desa Plandirejo Blitar
Program MBG di Kepatihan Tulungagung Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat
Harga Tahu Tempe Tetap Stabil Penyesuaian Hanya pada Volume
Pelantikan Dubes Andi Rahadian untuk Kesultanan Oman Merangkap Republik Yaman
Industri Kendaraan Niaga Menjadi Penopang Utama Sistem Logistik Nasional
Transformasi Birokrasi Kemenperin Optimalkan Layanan Lewat Digitalisasi
Kementerian Agama Terapkan WFH Setiap Jumat sebagai Bagian Modernisasi Budaya Kerja
Mengenal Koleksi Kundika Perunggu Dinasti Goryeo di Museum Nasional Korea
Sosialisasi MBG di Desa Bulupasar Kediri, Heru Tjahjono Ingatkan Pentingnya Nutrisi dan Pengasuhan Anak