NARASINETWORK.COM - BANDUNG
Fenomena “teror pocong” menjadi isu nasional yang viral di Indonesia sepanjang tahun 2026. Isu ini menyebar luas melalui WhatsApp, TikTok, Facebook, hingga Instagram dengan narasi pocong palsu yang berkeliaran malam hari, mengetuk rumah warga, membawa senjata tajam, hingga disebut sebagai modus kriminal dan begal.
Namun berdasarkan penelusuran aparat kepolisian dan media yang terpublikasi Per hari Senin (25/05/2026) mayoritas kasus dipastikan hoaks, editan digital, atau rumor yang dibesar-besarkan media sosial. Berikut rangkuman yang berhasil kami himpun dari berbagai daerah di Indonesia:
DAFTAR KASUS TEROR POCONG DI INDONESIA
1. Tangerang, Banten
Kasus ini menjadi salah satu yang paling viral. Beredar video dan foto sosok pocong mengetuk rumah warga di Cipondoh, Sepatan, Rajeg, hingga Teluknaga.
Narasi yang beredar pocong membawa golok, mengetuk pintu rumah, modus begal malam hari, warga diminta ronda.
Polisi memastikan seluruh video dan foto tersebut adalah hoaks serta hasil editan digital.
Kapolsek Cipondoh Yudha Prakoso menegaskan “Kabar teror pocong di Cipondoh adalah hoax.
2. Jabodetabek
Isu berkembang dari Tangerang lalu menyebar ke:
Jakarta Barat, Kalideres, Depok, Bekasi.
Narasi yang sama muncul: pocong keliling malam, membawa senjata,
membobol rumah warga. Polisi menyatakan tidak ada laporan kriminal nyata terkait modus tersebut.
3. Depok, Jawa Barat
Di kawasan Sawangan dan Gang Nangka sempat viral foto pocong berdiri di depan rumah warga.
Beberapa warga bahkan mengaku:
kesurupan, mendengar suara misterius, ada permintaan “melepas tali pocong”.
Setelah penyelidikan, polisi memastikan foto tersebut editan digital dan tidak ditemukan kejadian nyata.
4. Kebumen, Jawa Tengah
Media sosial di Kebumen dipenuhi video pocong yang disebut masuk kampung warga pada malam hari.
Polres Kebumen melakukan penelusuran dan menyatakan:
tidak ada kejadian nyata, sebagian video merupakan rekayasa AI, warga diminta tidak panik.
Fenomena ini disebut aparat sebagai bentuk penyebaran keresahan publik berbasis hoaks digital.
5. Kulon Progo, DI Yogyakarta
Wilayah Panjatan dan Galur sempat ramai isu:
pocong bersenjata tajam, mendatangi rumah warga, modus pencurian.
Kasat Reskrim Polres Kulon Progo memastikan belum ada laporan, tidak ditemukan kejadian, seluruh informasi masih berupa rumor WhatsApp.
6. Jembrana, Bali
Beredar pesan berantai mengenai “begal pocong”, pelaku kriminal berkostum pocong, menyerang warga malam hari.
Polres Jembrana memastikan isu tersebut hoaks dan tidak ada bukti kejadian di lapangan.
7. Jawa Timur (Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan)
Ini menjadi penyebaran terbesar di media sosial.
Pesan berantai berbahasa Jawa menyebut pocong palsu berkeliaran, mengetuk rumah, mencuri anak, membawa senjata tajam, warga diminta tidak membuka pintu malam hari.
Meski sangat viral, sebagian besar hanya berupa pesan anonim tanpa laporan polisi resmi.
8. Magelang, Jawa Tengah
Narasi “pocong bersajam” diklaim menyebar ke: Kaliangkrik, Kajoran, Sambak.
Namun hingga kini belum ada bukti valid ataupun laporan resmi kepolisian yang mengonfirmasi kejadian nyata.
FAKTA PENTING DARI FENOMENA INI
Mayoritas Berasal dari Media Sosial
Penyebaran paling besar terjadi melalui:grup WhatsApp keluarga, TikTok, Facebook, Instagram, repost video pendek.
Banyak konten menggunakan editan AI, efek horor, video lama, rekayasa visual.
Hampir seluruh Polres di berbagai daerah memberikan pernyataan serupa:
belum ada laporan resmi, tidak ditemukan pelaku, video manipulasi digital,
masyarakat diminta tidak panik.
MENGAPA “POCONG” MUDAH VIRAL DI INDONESIA?
Fenomena ini dinilai cepat menyebar karena pocong adalah simbol horor lokal paling dikenal, masyarakat masih mudah percaya narasi mistis, algoritma media sosial mempercepat kepanikan, budaya “forward tanpa verifikasi”.
Diskusi warganet juga menyebut fenomena ini sebagai:
“kepanikan massal digital”, “ujian literasi media”, bahkan ada yang menduga sekadar tren prank nasional.
Jadi belum ada bukti kuat jaringan kriminal nasional menggunakan modus pocong, mayoritas kasus merupakan hoaks atau konten editan, beberapa kemungkinan hanyalah prank atau upaya viral, kepolisian di banyak daerah meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi tanpa verifikasi.
Fenomena ini justru memperlihatkan bagaimana hoaks digital dapat memicu ketakutan massal hanya dalam hitungan jam di berbagai daerah Indonesia.
**
