NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Erick Thohir, mengapresiasi penyelenggaraan Bhinneka Run 2026 yang melibatkan pelari penyandang disabilitas di Plaza Keong Mas, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (4/7/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 3.500 peserta tersebut dilepas bersama Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Taufik Hidayat. Ajang ini mempertandingkan nomor lari 3 kilometer, 5 kilometer, dan 10 kilometer sebagai bagian dari upaya memperluas partisipasi masyarakat dalam olahraga.
Bhinneka Run 2026 menawarkan lintasan yang melewati rumah adat serta berbagai ikon budaya Nusantara di kawasan TMII. Selama perlombaan berlangsung, peserta juga disambut penampilan kesenian tradisional, antara lain tanjidor, angklung, dan tari Tor-Tor.
Menpora Erick Thohir menyampaikan rasa senangnya melihat antusiasme masyarakat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, lari merupakan olahraga yang dapat dilakukan berbagai kalangan sekaligus membantu menjaga kebugaran tubuh.
Ia juga menilai keikutsertaan penyandang disabilitas menjadi bagian penting dari penyelenggaraan olahraga yang memberi kesempatan setara kepada seluruh warga negara.
"Kami sangat mengapresiasi event lari yang memberikan ruang bagi masyarakat penyandang disabilitas untuk ikut berpartisipasi. Ini menunjukkan bahwa olahraga adalah milik semua orang tanpa terkecuali," ujar Erick Thohir.
Pemerintah, lanjutnya, terus berupaya meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana olahraga yang ramah bagi penyandang disabilitas sehingga dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak masyarakat.
Erick Thohir menyebut jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai sekitar 25,9 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 11 persen telah aktif berolahraga. Data itu menjadi dorongan bagi pemerintah untuk memperluas kesempatan berolahraga bagi penyandang disabilitas.
Selain mendorong partisipasi olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga juga menyiapkan langkah agar atlet disabilitas tetap memiliki kesempatan berkontribusi setelah mengakhiri karier sebagai atlet. Salah satu upaya yang dilakukan ialah membuka peluang bagi mereka untuk menjadi tenaga pendidik.
Menurut Erick Thohir, pengalaman yang dimiliki para atlet disabilitas dapat dimanfaatkan untuk membina peserta didik di sekolah, baik di tingkat pusat maupun daerah, sehingga mampu melahirkan atlet-atlet baru yang berprestasi.
