NARASINETWORK.COM - Sebanyak 41 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Kemah Budaya yang menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Peserta berasal dari berbagai wilayah strategis di Nusantara, mulai dari Jakarta, Bekasi, Serang, Yogyakarta, Lampung, Palembang, Bengkulu, Surabaya, Samarinda.
Kegiatan Kemah Budaya HPN 2026 dinilai sebagai langkah baru dalam sejarah pelaksanaan peringatan HPN sejak pertama kali digelar pada tahun 1982. Sejak lebih dari empat dekade silam, peringatan HPN telah menjadi momen penting bagi seluruh insan pers di Indonesia untuk merenungkan peran dan kontribusi pers dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tahun ini, penyelenggaraan Kemah Budaya membawa dimensi baru yang tidak hanya memperluas makna perayaan HPN secara konvensional, tetapi juga membuka ruang pembelajaran langsung tentang kebudayaan lokal dan nilai-nilai kehidupan yang masih terjaga dengan baik di tengah kemajuan zaman.
Pemilihan lokasi untuk Kemah Budaya jatuh pada perkampungan Suku Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Tempat ini memiliki daya tarik khusus karena menjadi rumah bagi masyarakat adat yang hingga kini konsisten menjaga tradisi leluhur, kelestarian alam, serta tatanan sosial budaya yang khas.
Keberadaan masyarakat Baduy yang hidup berdampingan dengan alam dan memegang teguh ajaran tradisional menjadi contoh nyata tentang bagaimana mereka dapat mempertahankan identitas budaya di tengah arus modernisasi yang melanda berbagai daerah di Indonesia.
Informasi terkait Kemah Budaya HPN 2026 disampaikan secara resmi oleh Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Ahmad Munir, yang akrab disapa Cak Munir, didampingi Sekretaris Jenderal PWI Pusat Zulmansyah Sakedang, Ketua Departemen Seni, Musik, Film dan Budaya Ramon Damora, serta Koordinator Kemah Budaya Kunni Masrohati.
Acara pelantikan dan pelepas peserta berlangsung di Aula PWI Pusat, Kebonsirih, Jakarta, pada hari Kamis (15/1/2026), di mana seluruh peserta mendapatkan penjelasan rinci tentang tujuan kegiatan, agenda yang akan dilaksanakan, serta hal-hal yang perlu diperhatikan selama berada di wilayah masyarakat Baduy.
“Di Baduy, teman-teman bisa belajar bagaimana menjaga alam dan menjalani kehidupan secara tradisional tanpa teknologi modern. Tidak ada internet, listrik, maupun peralatan modern lainnya yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Ini tempat yang sangat tepat untuk melakukan pengembangan kapasitas di tengah situasi yang serba terbatas,” ujar Cak Munir dalam sambutannya. Ia menekankan bahwa lingkungan yang berbeda dari kehidupan sehari-hari peserta diharapkan dapat memberikan pandangan baru tentang makna kehidupan yang lebih sederhana namun penuh makna.
Menurut Cak Munir, lingkungan hidup masyarakat Baduy bukan hanya menjadi tantangan bagi peserta untuk keluar dari zona nyaman yang telah mereka kenal, tetapi juga berfungsi sebagai ruang renungan yang mendalam. Melalui interaksi langsung dengan masyarakat Baduy, peserta diharapkan dapat menyerap nilai-nilai kearifan lokal yang masih terjaga dengan baik hingga kini, mulai dari cara mereka menjaga hubungan sosial antar anggota komunitas, bagaimana mereka memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana, hingga bagaimana mereka menjalankan sistem nilai yang berlandaskan pada ajaran leluhur.
Selain itu, Cak Munir juga menegaskan pentingnya bagi peserta Kemah Budaya untuk memahami dan menghormati kehidupan masyarakat Baduy yang telah teguh memegang ajaran leluhur selama berabad-abad. “Menarik untuk dipelajari bagaimana masyarakat Baduy menjaga komunitasnya tetap bertahan di tengah kemajuan zaman yang begitu cepat. Nilai-nilai ini sangat sesuai bagi wartawan dan sastrawan dalam membaca realitas sosial yang ada di berbagai daerah di Indonesia,” jelasnya.
Sebagai bentuk perhatian terhadap keberlangsungan budaya adat, Cak Munir juga memberikan pesan khusus kepada seluruh peserta untuk melakukan kajian materi terkait kehidupan masyarakat Baduy sebelum berangkat ke lokasi. Ia juga menekankan pentingnya mematuhi seluruh aturan adat yang berlaku di wilayah Baduy, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.
“Pahami peta dan situasi di lokasi tujuan dengan baik. Yang paling penting, hormati semua larangan, pantangan, dan aturan adat yang telah ditetapkan oleh masyarakat Baduy. Hal ini bukan hanya sebagai bentuk penghormatan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya kita untuk menjaga kelestarian budaya yang telah ada sejak lama,” pesannya yang penuh makna.
Sementara itu, Koordinator Kemah Budaya HPN 2026, Kunni Masrohati, menjelaskan bahwa PWI Pusat akan menggelar kegiatan Kemah Budaya pada tanggal 16 hingga 17 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian utama dari peringatan HPN yang tahun ini dipusatkan di Provinsi Banten, dengan berbagai acara pendukung yang dirancang untuk memperkuat peran pers dan kebudayaan dalam pembangunan nasional.
“Kemah Budaya pada tahun ini diperhatikan bagi wartawan dan sastrawan perempuan sebagai bentuk dukungan terhadap peran perempuan dalam dunia pers dan kebudayaan. Namun demikian, wartawan dan sastrawan dari segala latar belakang memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi, dengan porsi yang seimbang antara kedua kelompok tersebut, dan jumlah peserta terbanyak adalah perempuan,” ujar Kunni yang juga dikenal sebagai wartawan senior dan sastrawan berpengalaman.
Ia menambahkan bahwa total 41 peserta yang akan mengikuti Kemah Budaya HPN 2026 terdiri dari kombinasi wartawan dan sastrawan dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain Jakarta, Lampung, Palembang, Surabaya, hingga Samarinda. Keberagaman daerah asal peserta diharapkan dapat memperkaya pertukaran pengalaman dan pandangan selama kegiatan berlangsung, serta menghasilkan karya-karya yang mencerminkan berbagai sudut pandang tentang kehidupan masyarakat Baduy.
“Karya tulis yang dihasilkan oleh peserta harus dikirimkan ke email panitia paling lambat pada tanggal 21 Januari 2026 pukul 18.00 WIB. Seluruh karya yang diterima akan melalui proses penyunting yang teliti dan kemudian dibukukan secara resmi. Buku kumpulan karya peserta Kemah Budaya HPN 2026 akan diluncurkan pada acara puncak peringatan HPN di Provinsi Banten pada tanggal 8 Februari 2026, sebagai bagian dari upaya untuk memperkenalkan hasil karya peserta kepada khalayak luas,” jelas Kunni.
Proses penyusunan buku kumpulan karya ini diharapkan tidak hanya menjadi wadah untuk menyimpan hasil karya peserta, tetapi juga sebagai bentuk dokumentasi tentang pengalaman belajar bersama masyarakat Baduy, serta sebagai sumber referensi bagi mereka yang ingin mempelajari lebih jauh tentang budaya dan kehidupan masyarakat adat di Indonesia.
Kemah Budaya HPN 2026 diharapkan mampu melahirkan karya jurnalistik dan sastra yang berakar pada pengalaman langsung di lapangan, sehingga memiliki nilai otentik dan mendalam. Karya-karya tersebut diharapkan tidak hanya mampu menggambarkan kehidupan masyarakat Baduy dengan objektif dan penuh penghormatan, tetapi juga mampu menyampaikan pesan-pesan penting tentang nilai-nilai kearifan lokal yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini.
Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkaya khazanah literasi dan kebudayaan Indonesia dengan karya-karya baru yang terinspirasi dari kehidupan masyarakat adat. Melalui karya-karya yang dihasilkan, diharapkan masyarakat luas dapat lebih memahami dan menghargai keberagaman budaya yang ada di Indonesia, serta menjadi bagian dari upaya untuk melestarikan budaya lokal yang semakin tertekan oleh arus globalisasi.
Kemah Budaya HPN 2026 tidak hanya menjadi bagian dari peringatan hari khusus bagi insan pers, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam membangun jembatan pemahaman antara dunia pers, sastra, dan masyarakat adat, serta berkontribusi pada upaya memperkuat identitas budaya bangsa Indonesia di kancah nasional maupun internasional.