Perkembangan Terkini Penanganan Campak di Indonesia dan Dunia

Jumat, 27 Feb 2026 18:06
Kementerian Kesehatan melaporkan peningkatan kasus campak di Indonesia dan dunia, dengan sejumlah KLB yang tersebar di berbagai daerah. Penguatan surveilans dan respons cepat menjadi prioritas untuk mencegah penyebaran lebih luas. Istimewa

NARASINETWORK.COM - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyampaikan perkembangan terkini mengenai campak di Indonesia dan dunia melalui konferensi pers daring pada Kamis, 26 Februari 2026. Acara ini diadakan karena Kejadian Luar Biasa (KLB) campak masih ditemukan di beberapa daerah.

Pada tahun 2025, tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus di antaranya terkonfirmasi laboratorium dan menyebabkan 69 kematian (CFR 0,1%).

Hingga minggu ke-7 tahun 2026, terdapat 8.224 kasus suspek campak. Dari jumlah itu, 572 kasus terkonfirmasi laboratorium dengan 4 kematian (CFR 0,05%). Periode ini mencatat 21 KLB suspek campak dan 13 KLB campak yang terkonfirmasi laboratorium, tersebar di 17 kabupaten/kota di 11 provinsi.

Pejabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit, dr. Andi Saguni, menekankan bahwa campak sangat menular sehingga memerlukan kewaspadaan dan respons yang cepat.

"Campak sangat mudah menyebar. Peningkatan kasus harus segera direspon dengan surveilans yang kuat dan pelaporan yang tepat waktu," kata dr. Andi.

Dibandingkan tahun 2024, jumlah kasus suspek campak pada tahun 2025 meningkat. Oleh karena itu, penguatan sistem deteksi dini menjadi fokus utama.

"Kami terus memantau campak secara nasional, termasuk melakukan penyelidikan epidemiologi maksimal 24 jam setelah kasus ditemukan. Pelaporan dilakukan secara langsung melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR)," jelasnya.

Peningkatan kasus campak juga dilaporkan di berbagai wilayah, termasuk Asia Tenggara dan Pasifik Barat, yang meningkatkan risiko penularan antar negara.

Indonesia menerima pemberitahuan berdasarkan Peraturan Kesehatan Internasional (IHR) terkait kasus campak pada warga negara Australia yang pernah tinggal di Indonesia. Semua kasus telah pulih, dan koordinasi antar negara terus dilakukan.

Konsultan Penyakit Infeksi dan Tropik Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Mulya Rahma Karyanti, menjelaskan bahwa penyebaran kasus campak berkaitan dengan perbedaan cakupan imunisasi di berbagai daerah.

"Meskipun cakupan imunisasi campak-rubella nasional telah memenuhi target, kasus masih muncul di daerah dengan cakupan imunisasi yang rendah. Daerah-daerah ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami KLB," ujar dr. Mulya.

Kementerian Kesehatan akan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap campak melalui penguatan surveilans, respons cepat terhadap KLB, serta kerja sama dengan pemerintah daerah untuk mencegah penyebaran yang lebih luas.

 


Berita Terkini