NARASINETWORK.COM - JAKARTA, Pertemuan dengan Sultan Hidayatullah Sjah atau Sultan Hidayat M. Sjah, S.I.P., M.A.P., yang dinobatkan sebagai Sultan Ternate ke-49, berlangsung di Galeri Nasional Jakarta pada Sabtu (13/6/2026). Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat peran Kesultanan Ternate pada masa kini, terutama dalam menjaga adat istiadat dan warisan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat Maluku Utara.
Kesultanan Ternate merupakan salah satu institusi adat yang memiliki pengaruh panjang dalam sejarah kawasan timur Indonesia. Keberadaannya tidak hanya tercatat dalam perjalanan politik dan perdagangan rempah, tetapi juga pada perkembangan bahasa, kesenian, tata upacara, serta nilai-nilai sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.
"Perjalanan panjang Kesultanan Ternate menunjukkan bahwa adat dan budaya dapat tetap hadir di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya."
Seni dan budaya Ternate tumbuh melalui proses sejarah yang panjang. Berbagai unsur budaya yang dikenal saat ini lahir dari hubungan antarmasyarakat, interaksi antarkerajaan, serta perjumpaan dengan bangsa-bangsa yang datang melalui jalur perdagangan internasional.
Dalam menjalankan perannya sebagai pemimpin adat, Sultan Hidayatullah Sjah memperoleh pengukuhan melalui prosesi Sinunako Sesikhalifat yang dilaksanakan di Kedaton Kesultanan Ternate. Prosesi tersebut menjadi bagian dari tata adat kesultanan dan menandai berlanjutnya sistem kepemimpinan yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Pengukuhan itu dilakukan oleh perangkat adat yang tergabung dalam Bala Kusu se Kano-Kano. Melalui mekanisme tersebut, struktur adat Kesultanan Ternate tetap berjalan sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan kesultanan.
Selain menjalankan fungsi adat, Sultan Hidayatullah Sjah juga terlibat dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Salah satu di antaranya adalah pemberian gelar adat kepada sejumlah tokoh nasional. Kegiatan tersebut menjadi sarana pengenalan sejarah Kesultanan Ternate sekaligus memperluas ruang interaksi budaya dengan berbagai kalangan.
Sejarah Maluku Utara juga tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Moloku Kie Raha yang terdiri atas Kesultanan Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan. Hubungan empat kesultanan tersebut membentuk banyak aspek kehidupan masyarakat, mulai dari adat istiadat, sistem pemerintahan tradisional, hingga berbagai bentuk kesenian.
Sejak awal masa pemerintahannya, Sultan Hidayatullah Sjah aktif menghadiri pertemuan adat dan kegiatan budaya bersama para pemimpin kesultanan lainnya. Hubungan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ikatan sejarah yang telah terjalin sejak masa lampau.
Persoalan masyarakat adat juga menjadi salah satu bidang yang mendapat ruang dalam aktivitas kesultanan. Dengan latar belakang pendidikan di bidang pemerintahan serta pengalaman sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Sultan Hidayatullah Sjah turut menyampaikan berbagai isu yang berkaitan dengan hak masyarakat adat dan aset kesultanan melalui forum resmi.
Pembahasan tersebut mencakup pengelolaan wilayah adat, kedudukan lembaga tradisional, serta berbagai persoalan yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat adat di Maluku Utara.
Pada bidang kebudayaan, Kesultanan Ternate menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Ternate dalam sejumlah kegiatan daerah. Salah satunya adalah penyelenggaraan Hari Jadi Ternate atau HAJAT yang melibatkan unsur pemerintah, kesultanan, dan masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, berbagai tradisi daerah diperkenalkan kepada masyarakat luas melalui upacara adat, pertunjukan seni, penggunaan bahasa daerah, serta pengenalan sejarah lokal kepada pelajar.
Budaya Maluku Utara berkembang melalui pertemuan berbagai tradisi yang berlangsung selama berabad-abad. Sebagai wilayah yang berada di jalur perdagangan rempah, kawasan ini menjadi tempat bertemunya masyarakat lokal dengan pedagang dari Arab, Tiongkok, Melayu, Portugis, Spanyol, dan Belanda.
Pengaruh pertemuan tersebut masih dapat ditemukan pada arsitektur kedaton, kosakata bahasa, seni pertunjukan, tata upacara, dan tradisi keagamaan yang berkembang di wilayah Maluku Utara.
Dalam sejumlah kesempatan, Sultan Hidayatullah Sjah menyampaikan pentingnya pendokumentasian benda bersejarah dan tradisi lisan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya. Dokumentasi tersebut dinilai penting untuk menjaga ketersediaan sumber informasi mengenai sejarah dan adat Ternate bagi generasi berikutnya.
Keberadaan Kesultanan Ternate saat ini tidak hanya berkaitan dengan peninggalan masa lalu. Institusi adat tersebut juga tetap menjalankan berbagai fungsi sosial dan budaya yang berkaitan dengan pemeliharaan tradisi, hubungan antarkerajaan, serta pelestarian warisan budaya Maluku Utara.