Proses penyesuaian tersebut dapat dipahami melalui teori Cross-Cultural Adaptation yang dikemukakan oleh Young Yun Kim. Dalam pandangan Kim (2001), adaptasi lintas budaya bukanlah sesuatu yang dapat selesai dalam waktu singkat. Ketika seseorang memasuki lingkungan budaya baru, ia tidak hanya mempelajari kebiasaan yang berbeda, tetapi juga mengalami perubahan bertahap dalam cara berpikir dan bersikap.
Proses ini bersifat jangka panjang dan jarang berjalan mulus. Ada fase ketika individu mulai merasa terbiasa, lalu kembali merasa asing saat menghadapi situasi sosial yang tidak sesuai dengan pengalaman sebelumnya. Naik-turun semacam ini dipandang Kim sebagai bagian wajar dari proses adaptasi.
Lusia Setyo (2016) menegaskan bahwa kemampuan individu untuk mengubah lingkungan sosial di sekitarnya relatif terbatas. Budaya masyarakat lokal yang telah mapan memiliki peran dominan dalam mengatur pola kehidupan sehari-hari. Dominasi ini secara tidak langsung menciptakan tekanan sosial tertentu, sehingga para pendatang berada pada posisi untuk menyesuaikan diri dengan norma, nilai, dan kebiasaan yang berlaku agar dapat mempertahankan keberlangsungan hidupnya di lingkungan baru (Gudykunst & Kim, 2003).
Salah satu konsep utama dalam teori Cross-Cultural Adaptation adalah Stress–Adaptation–Growth. Konsep ini menjelaskan bahwa pada tahap awal perjumpaan lintas budaya, individu hampir tidak dapat lepas dari tekanan, baik secara mental maupun fisik. Tekanan tersebut dapat muncul dari hal-hal yang tampak sederhana, seperti kebingungan menentukan sikap yang tepat, kekhawatiran melakukan kesalahan dalam berkomunikasi, hingga perasaan tidak sepenuhnya diterima oleh lingkungan sosial.
Namun, tekanan semacam ini tidak diposisikan sebagai sesuatu yang harus dihindari. Sebaliknya, rasa tidak nyaman justru menjadi pemicu yang mendorong individu untuk melakukan penyesuaian diri.
Ketika seseorang mulai berusaha memahami konteks budaya barunya, baik melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain, menyesuaikan pola interaksi, maupun terlibat langsung dalam kehidupan sosial, proses adaptasi sedang berlangsung. Adaptasi yang terjadi secara berulang dan berkelanjutan inilah yang kemudian berkontribusi pada pertumbuhan, tidak hanya dalam aspek emosional, tetapi juga dalam cara individu memaknai perbedaan budaya.
Kim juga menekankan bahwa komunikasi memegang peran penting dalam proses adaptasi. Dalam Becoming Intercultural: An Integrative Theory of Communication and Cross-Cultural Adaptation, ia menjelaskan konsep Host Communication Competence, yaitu kemampuan individu untuk berkomunikasi sesuai dengan budaya tempat ia berada.
Adaptasi tidak hanya berkaitan dengan penguasaan bahasa, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap kebiasaan, cara menyampaikan pendapat, hingga kemampuan membaca situasi sosial. Tanpa keterlibatan aktif dalam komunikasi sehari-hari, penyesuaian diri terhadap budaya baru akan sulit terbentuk secara utuh.
Seiring waktu, proses adaptasi membawa perubahan pada individu yang mengalaminya. Kim menyebut tahap ini sebagai intercultural transformation. Pada tahap ini, identitas seseorang tidak lagi sepenuhnya melekat pada budaya asal, tetapi juga tidak sepenuhnya melebur ke dalam budaya baru. Yang muncul adalah individu yang lebih fleksibel, mampu menempatkan diri di berbagai situasi budaya tanpa kehilangan arah, serta lebih siap menghadapi lingkungan yang beragam.
Fenomena migrasi warga India ke Jepang memperlihatkan dinamika adaptasi budaya tersebut secara nyata. Pada September 2025, perhatian publik tertuju pada rencana pemerintah Jepang untuk mendatangkan sekitar 500.000 imigran dari India dalam lima tahun ke depan. Kebijakan ini berakar pada kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor, mulai dari industri hingga akademik, serta upaya pemerintah Jepang untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah krisis demografis.
Perbedaan budaya antara Jepang dan India cukup mencolok. Gaya komunikasi warga India yang cenderung ekspresif sering kali dipersepsikan kurang sesuai dengan norma sosial Jepang yang menjunjung ketertiban dan kepatuhan terhadap aturan. Sebaliknya, budaya Jepang yang relatif kaku dan sangat berhati-hati dalam interaksi sosial dapat menimbulkan rasa tertekan bagi sebagian pendatang. Perbedaan kebiasaan ini kerap memicu kesalahpahaman dalam kehidupan sehari-hari dan menuntut proses penyesuaian yang tidak instan.
Lambat laun, banyak pendatang mulai menyesuaikan sikap di ruang publik, memahami norma lokal, serta mengatur cara berinteraksi. Proses ini menunjukkan bahwa adaptasi budaya tidak berlangsung sekali lalu selesai, melainkan bergerak pelan melalui pengalaman sehari-hari yang terus berulang. Fenomena ini menegaskan bahwa adaptasi lintas budaya bukan sekadar urusan individu, melainkan proses sosial yang melibatkan interaksi antara pendatang dan masyarakat penerima.
Hidup di tengah perbedaan budaya menunjukkan bahwa adaptasi adalah proses yang terus bergulir tanpa berakhir. Adaptasi bukan tentang siapa yang berubah paling cepat, melainkan bagaimana individu dan lingkungan sosial saling belajar untuk menyesuaikan diri. Dalam konteks migrasi global, adaptasi budaya seharusnya tidak dipahami sebagai beban sepihak bagi pendatang, tetapi sebagai proses bersama yang menuntut keterbukaan, komunikasi, dan kesadaran sosial. Tanpa itu, migrasi hanya akan memindahkan manusia secara fisik, tanpa benar-benar membangun pemahaman di tengah perbedaan.