Opini Ditulis Oleh: Amelia Kusumadewi
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro
NARASINETWORK.COM-Fenomena “Kabur Aja Dulu” muncul sebagai salah satu bentuk respons masyarakat, terutama generasi muda, terhadap kebuntuan yang dirasakan dalam sistem sosial dan pemerintahan. Ungkapan ini ramai digunakan di media sosial bukan karena sedang tren semata, melainkan karena ia terasa relevan dengan pengalaman hidup banyak orang.
“Kabur” dalam konteks ini tidak selalu berarti meninggalkan negara secara literal, tetapi menggambarkan keinginan untuk menjauh dari sistem yang dirasa tidak memberi ruang tumbuh. Frasa ini menjadi cara sederhana untuk menyampaikan rasa frustrasi tanpa harus menyampaikannya dalam bahasa yang konfrontatif. Di balik kesederhanaannya, tersimpan kritik sosial yang cukup tajam. Media sosial kemudian menjadi tempat utama di mana kritik tersebut disampaikan secara kolektif dan terbuka.
Kemunculan “Kabur Aja Dulu” sangat berkaitan dengan kondisi struktural yang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini. Kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak, ketimpangan upah, serta tingginya biaya hidup membuat banyak anak muda merasa usahanya tidak sebanding dengan hasil yang didapat. Di sisi lain, akses terhadap kesempatan sering kali terasa tidak merata dan sarat dengan hambatan birokratis.
Situasi ini memunculkan rasa lelah yang bukan hanya bersifat personal, tetapi juga sosial dan sistemik. Ketika kepercayaan terhadap perbaikan sistem melemah, muncul dorongan untuk mencari alternatif di luar sistem tersebut. Ungkapan “Kabur Aja Dulu” lalu menjadi simbol keinginan untuk keluar sementara dari realitas yang dianggap stagnan. Dengan kata lain, frasa ini lahir dari kekecewaan terhadap sistem, bukan dari kemalasan individu.
Media sosial berperan penting dalam menyebarkan dan menguatkan narasi “Kabur Aja Dulu” sebagai bentuk ekspresi kolektif. Platform digital menyediakan ruang yang relatif aman untuk menyampaikan kritik tanpa harus berhadapan langsung dengan otoritas atau stigma sosial (Nasrullah, 2017). Melalui unggahan singkat, meme, dan diskusi ringan, pengguna dapat menyalurkan keresahan mereka dengan cara yang terasa lebih bebas.
Penyampaian yang simbolik membuat pesan kritik tetap tersampaikan tanpa harus bersifat agresif. Selain itu, respons dari pengguna lain menciptakan rasa kebersamaan dan pengakuan bahwa kegelisahan tersebut dirasakan secara luas. Media sosial akhirnya menjadi ruang artikulasi kekecewaan yang tidak tersalurkan di ruang formal. Dalam konteks ini, “Kabur Aja Dulu” berfungsi sebagai bahasa bersama untuk menyuarakan kebuntuan sistem secara halus namun bermakna.
Uses and Gratifications Theory dalam Membaca “Kabur Aja Dulu”
Untuk memahami mengapa narasi “Kabur Aja Dulu” begitu kuat dan mudah diterima, Uses and Gratifications Theory dapat digunakan sebagai kerangka analisis utama. Teori ini memandang individu sebagai pengguna media yang aktif, bukan sekadar penerima pesan yang pasif. Artinya, seseorang menggunakan media karena memiliki tujuan dan kebutuhan tertentu yang ingin dipenuhi.
Katz, Blumler, dan Gurevitch menjelaskan bahwa media digunakan untuk memenuhi kebutuhan psikologis dan sosial, seperti mencari makna, rasa aman, pengakuan, dan pelepasan tekanan. Dalam konteks ini, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan atau informasi. Ia menjadi alat untuk menyalurkan respon terhadap realitas sosial yang dirasa tidak memihak. Dengan pendekatan ini, “Kabur Aja Dulu” dapat dibaca sebagai hasil dari pilihan sadar pengguna media. Narasi tersebut digunakan karena mampu menjawab kebutuhan emosional dan sosial yang sedang dominan.
Salah satu kebutuhan utama yang terlihat dalam fenomena “Kabur Aja Dulu” adalah kebutuhan pelepasan ketegangan atau tension release. Banyak individu menggunakan media sosial untuk meluapkan rasa jenuh terhadap sistem yang terasa buntu dan melelahkan. Unggahan bertema “kabur” memberi ruang untuk bernapas sejenak dari tekanan hidup yang terus menumpuk.
Media sosial memungkinkan pelepasan emosi tanpa harus berhadapan langsung dengan risiko sosial atau politik (Permana & Mahameruaji, 2019).. Kritik terhadap sistem dapat disampaikan secara simbolik, ringan, dan tidak frontal. Hal ini membuat ekspresi frustrasi terasa lebih aman dan dapat diterima. Dalam kerangka Uses and Gratifications, media berfungsi sebagai sarana regulasi emosi. “Kabur Aja Dulu” menjadi bentuk pelarian sementara yang membantu individu bertahan secara psikologis.
Selain sebagai pelepas ketegangan, narasi “Kabur Aja Dulu” juga berkaitan dengan kebutuhan pembentukan identitas. Dengan menggunakan frasa tersebut, individu memposisikan dirinya sebagai bagian dari kelompok yang sadar akan ketidakadilan sistem. Identitas yang dibangun bukan identitas individual semata, tetapi identitas kolektif sebagai generasi yang merasa terhambat. Media sosial menjadi ruang untuk menyatakan sikap tanpa harus menyampaikannya dalam bentuk pernyataan politik formal.
Dalam hal ini, “Kabur Aja Dulu” berfungsi sebagai penanda posisi sosial dan emosional. Ia menunjukkan sikap kritis, meskipun dikemas dalam bahasa yang santai. Uses and Gratifications Theory menjelaskan
bahwa media sering digunakan untuk memperkuat konsep diri. Identitas sebagai generasi yang kecewa namun sadar menjadi salah satu gratifikasi yang dicari.
Dimensi lain yang tidak kalah penting adalah kebutuhan integrasi sosial. Melalui tagar, komentar, dan konten serupa, pengguna media sosial menemukan orang lain yang merasakan hal yang sama. Rasa kebersamaan ini penting, terutama ketika ketidakpuasan terhadap sistem sulit disuarakan di ruang formal. Media sosial menciptakan komunitas simbolik yang saling menguatkan secara emosional.
Dalam konteks ini, “Kabur Aja Dulu” tidak lagi bersifat individual, tetapi menjadi bahasa bersama. Pengakuan dari orang lain memberikan legitimasi bahwa kekecewaan tersebut masuk akal. Uses and Gratifications Theory melihat fungsi ini sebagai upaya individu untuk menjaga keterhubungan sosial. Dengan demikian, media sosial berperan sebagai ruang konsolidasi emosi dan pengalaman kolektif.
Antara Bertahan, Melarikan Diri, dan Batas Media Sosial
Fenomena “Kabur Aja Dulu” menunjukkan bagaimana media sosial digunakan sebagai strategi bertahan di tengah kebuntuan sistemik. Dalam kerangka Uses and Gratifications, penggunaan media ini dapat dipahami sebagai pilihan rasional untuk memenuhi kebutuhan emosional dan sosial. Media sosial memberi ruang bagi individu untuk mengambil jarak sejenak dari realitas yang menekan tanpa harus benar-benar pergi.
Namun, pelarian ini bersifat sementara dan simbolik. Ia membantu meredakan tekanan, tetapi tidak mengubah kondisi struktural yang melatarbelakanginya. Di titik ini, media sosial berfungsi sebagai penyangga psikologis, bukan solusi. “Kabur Aja Dulu” menjadi cara untuk bertahan, bukan jalan keluar yang sesungguhnya.
Di sisi lain, terdapat risiko ketika narasi “kabur” terus direproduksi tanpa diiringi ruang refleksi yang lebih dalam. Ketika kekecewaan terhadap sistem dinormalisasi hanya sebagai bahan candaan atau meme, ada kemungkinan kritik sosial kehilangan daya dorongnya (Fauzi, 2020). Media sosial dapat membuat ketidakadilan terasa akrab, bahkan biasa.
Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menumbuhkan sikap pasrah dan apatis. Uses and Gratifications membantu menjelaskan bahwa media memenuhi kebutuhan pengguna, tetapi tidak menjamin perubahan sosial. Jika media hanya digunakan untuk meluapkan frustrasi tanpa artikulasi yang lebih terarah, maka kebuntuan justru berisiko dipertahankan. Di sinilah batas media sosial sebagai ruang kritik mulai terlihat.
Meski demikian, “Kabur Aja Dulu” tidak dapat serta-merta dianggap sebagai bentuk menyerah. Ungkapan ini justru menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa sistem yang ada belum sepenuhnya berpihak. Kesadaran tersebut merupakan modal penting dalam membaca kondisi sosial masyarakat. Media sosial menyediakan ruang awal untuk menyuarakan kegelisahan yang sebelumnya terpendam.
Tantangannya adalah bagaimana kegelisahan ini dapat bergerak melampaui ekspresi simbolik. Jika dibaca secara lebih kritis, “Kabur Aja Dulu” adalah sinyal sosial yang menuntut perhatian, bukan pengabaian. Ia menandai generasi yang masih peduli, tetapi lelah karena terus berhadapan dengan sistem yang terasa tidak berubah.
