Di Balik Layanan Perminyakan dan Gas "Cerita Perjuangan Seorang Pekerja Rig Servis"

Minggu, 4 Jan 2026 12:53
    Bagikan  
Di Balik Layanan Perminyakan dan Gas "Cerita Perjuangan Seorang Pekerja Rig Servis"
Dhe Sundayana Perbangsa

Dhe Sundayana Perbangsa (kiri) telah bekerja di bidang rig servis sumur minyak dan gas sejak tahun 2014, dengan proyek pertama di kawasan laut Kepulauan Seribu.

NARASINETWORK.COM - Dunia layanan perminyakan dan gas (oil and gas services) menyimpan berbagai cerita perjuangan di balik setiap sumur yang dioperasikan. Salah satu sosok yang telah merasakan langsung dinamika industri ini adalah Dhe Sundayana Perbangsa, yang mulai terjun ke bidang rig servis sumur minyak dan gas sejak tahun 2014.

Proyek pertama beliau berlangsung di kawasan laut wilayah Kepulauan Seribu, menjadi tonggak awal dalam perjalanan karir yang penuh tantangan. Dalam pembicaraan dengan narasinetwork.com, Dhe mengungkapkan bahwa pengalaman pertama di lokasi terpencil tersebut memberikan pemahaman awal tentang pekerjaan yang akan dijalankan.

Pada umumnya, pekerja rig servis migas bukan merupakan karyawan tetap, melainkan pekerja dengan status kontrak (freelance) yang dapat berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Sistem kerja ini menjadi ciri khas di industri migas, di mana fleksibilitas dan kemampuan menjadi faktor utama untuk tetap bersaing.

Setiap pekerja migas harus memiliki kompetensi dan sertifikasi resmi; minimal tiga sertifikat kompetensi menjadi syarat utama untuk dapat bekerja di bidang ini. Area kerja migas mencakup lokasi darat (onshore) dan laut lepas (offshore), masing-masing dengan karakteristik dan tantangan tersendiri.

Mandi minyak mentah saat mengerjakan sumur minyak adalah hal yang kerap terjadi dan menjadi bagian dari risiko pekerjaan. Meskipun minyak yang menyembur dari dalam lubang sumur memiliki suhu yang cukup tinggi, hal tersebut sudah dianggap biasa bagi mereka yang bekerja di lapangan.

Namun, di samping risiko dari minyak, para pekerja juga harus selalu waspada terhadap bahaya gas yang tidak terlihat dengan mata, hanya dapat dikenali melalui penciuman. Gas inilah yang menjadi ancaman paling berbahaya dalam pekerjaan mereka.

"Selama bekerja selama 12 jam setiap hari, kami harus tetap waspada dan fokus penuh perhatian. Arah angin selalu menjadi hal yang kami pantau secara cermat, karena gas dapat mencapai area kerja dan tercium dalam waktu tiga menit saja, yang dapat membahayakan nyawa seluruh tim," ujar Dhe.

Alat deteksi gas selalu dipasang di bagian dada pakaian kerja mereka, menjadi perlengkapan wajib yang tidak pernah ditinggalkan.

Menurut Dhe, suka dan duka dalam pekerjaan ini merupakan anugerah dari perjuangan hidup untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, lebih-lebih sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kehidupan keluarga. Bagi beliau, suka duka tersebut memiliki keindahan dan sisi puitis yang patut dihargai. Setiap tantangan yang dihadapi dan keberhasilan yang diraih menjadi bagian dari cerita hidup yang kaya makna.

Saat ini, Dhe bekerja di ladang tambang minyak lepas pantai, tepatnya di tengah Laut Jawa dan dekat dengan Pulau Bawean, masuk dalam wilayah Kabupaten Gresik. Di tengah laut lepas, angin selalu bertiup kencang baik siang maupun malam. Apalagi pada bulan akhir tahun hingga dua sampai tiga bulan awal tahun seperti sekarang, badai angin dan hujan sering muncul secara tiba-tiba.

"Angin dan hujan tersebut sangat menusuk hingga ke tulang, terutama bagi pekerja yang menjalankan shift di malam hari. Meskipun demikian, kami harus tetap menjaga semangat dan menghadapinya dengan sikap yang positif," jelasnya.

Risiko yang dihadapi akan berbeda jika bekerja di ladang minyak yang berada di dalam hutan—banyak hal yang perlu diperhatikan mulai dari aksesibilitas hingga kondisi alam sekitar.

Pada minggu ketiga bekerja di laut lepas, kejenuhan biasanya mulai muncul, terutama jika tempat atau perusahaan pemilik ladang tidak menyediakan fasilitas Wi-Fi. Hal tersebut dapat menyebabkan rasa stres yang cukup besar bagi pekerja yang sering terpisah dari keluarga dan lingkungan biasa.

Namun, di antara mereka selalu ada orang yang memiliki cara unik dan lucu untuk menciptakan suasana yang menghibur, seperti berbagi cerita atau mengadakan kegiatan kecil bersama yang dapat menyegarkan pikiran.

"Mengenai fasilitas konsumsi, bukan maksud saya untuk memamerkan, tetapi kualitasnya sebanding dengan restoran bintang lima. Saya ingin sekali lagi menegaskan bahwa hal ini bukan untuk menunjukkan kelebihan atau keunggulan apapun. Meskipun demikian, fasilitas tersebut tidak dapat menghilangkan rasa kejenuhan yang kami rasakan, karena yang paling dibutuhkan adalah kesempatan untuk tetap terhubung dengan orang tersayang," ucap Dhe.

Saat ini ia bekerja dengan kontrak di PT. LEKOM MARAS (yang termasuk dalam grup PT. Prabu Energi Internasional) yang memiliki kantor pusat di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Dukungan dari perusahaan menjadi salah satu faktor yang membantu beliau menjalankan tugas dengan baik setiap hari.

Dhe Sundayana Perbangsa adalah seorang penulis dan penyair yang aktif di dunia sastra serta sering terlibat dalam berbagai komunitas sastra. Pria asal Karawang, Jawa Barat yang kini berdomisili di Bekasi ini memiliki kehadiran yang cukup aktif di media sosial, khususnya Facebook, di mana ia sering berbagi karya dan pemikiran dengan khalayak luas.

Keterlibatannya dalam dunia sastra meliputi partisipasi dalam komunitas seperti Jagat Sastra Milenia (JSM). Karyanya telah diterbitkan dalam berbagai publikasi, termasuk jurnal sastra seperti SASTRAMEDIA.COM serta buku antologi puisi Modus Yang Tulus : Setangkai Puisi.

Selain mengembangkan karya sendiri, Kang Sundayana, demikian ia biasa dipanggil, juga sering berbagi ilmu dan pengalaman dengan anggota komunitas sastra muda, serta terlibat dalam kegiatan literasi yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan tulis di kalangan masyarakat.

 

 

 


Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Gebrakan Besar di Jombang! Makan Bergizi Gratis Digelontorkan, Warga Berbondong-bondong Hadir
Peran Krusial Masyarakat dalam Kelancaran Program Makan Siang Gratis di Jombang
Esensi Ramadan Dari Balik Dapur Sederhana
Anti Ribet dan Stylish Memilih Overall Denim Jeans untuk Anak Aktif
Standar Hidup di Media Sosial Antara Impian dan Tekanan Nyata
Algoritma Baru Media Sosial Fokus pada Kualitas dan Dampak Bukan Hanya Viralitas
Strategi Media Sosial 2026 Fokus pada Video, Otomatisasi, dan Pengalaman Pelanggan
Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis di Mejayan Madiun Sebut Sebagai Investasi SDM Masa Depan
Sosialisasi Program MBG di Madiun, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Ajak Masyarakat Berpartisipasi
Imlek Festival 2026 Semarak Perayaan Imlek dengan Sentuhan Akulturasi Nusantara
Daihatsu National Skill Contest 2026 Wujud Komitmen Daihatsu dalam Pelayanan Terbaik
GAIKINDO Rilis Jadwal Pameran Otomotif 2026 Dari Kendaraan Komersial hingga Gaya Hidup
BBWI Travel Fair 2026 Momentum Kebangkitan Pariwisata Domestik dan Dukungan Produk Lokal
Ekspor Furnitur Indonesia Capai USD1,67 Miliar Pemerintah Diversifikasi Pasar Ekspor
Kemenkes Gandeng Teknologi Genomik untuk Efisiensi Anggaran Kesehatan
Status JKN Nonaktif Sementara Tak Jadi Alasan Penolakan Kemenkes Lindungi Hak Pasien
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Pemerintah Komitmen Tingkatkan Kualitas Pendidikan Tinggi di UI
Indonesia and Australia Collaborate on Climate-Resilient Transport Solutions
Ramadan 1447 H Momentum Refleksi dan Aksi Sosial untuk Kebangsaan
Pemerintah Umumkan 1 Ramadan 1447 H Dimulai pada 19 Februari 2026 Berdasarkan Sidang Isbat