NARASINETWORK.COM - John Willem Semuel adalah seniman seni rupa dari Sulawesi Utara yang telah berkiprah dalam dunia seni dan kemasyarakatan. Ia membawa nilai-nilai budaya daerah ke dalam setiap karyanya, salah satunya karya berjudul "Merajut Cinta Menjalin Kasih". Narasinetwork.com melakukan temu wicara daring dengan Bapak John, berikut petikan wawancara kami :
"Kasih yang sesungguhnya tidak mengharapkan imbalan apapun. Ketika kita mampu memberi tanpa pamrih, kita akan merasakan kebahagiaan yang lebih luas dan hubungan yang lebih erat."
"MERAJUT CINTA MENJALIN KASIH" Media : Acrylic on canvas Artist : john semuel
NN : Salam sejahtera, Bapak John. Terima kasih telah bersedia berbagi cerita tentang karya seni dan perjalanan karier Bapak.
Bagaimana latar belakang Bapak dalam dunia seni rupa beserta pengalaman lain yang telah dilalui?
J : Salam juga dan terima kasih atas kesempatan ini. Saya lahir di Gangga pada 30 Desember 1959, kemudian meraih gelar Sarjana Pendidikan Seni Rupa dari FPBS IKIP Negeri Manado pada tahun 1987. Saat ini saya menjabat sebagai Ketua Komunitas Seni TORANG Sulawesi Utara.
Selain seni, saya pernah menjabat sebagai Hukum Tua Desa Tambun periode 2008-2014 dan sebagai penjabat pada tahun 2015. Pengalaman ini memberikan wawasan tentang kehidupan masyarakat dan budaya daerah yang kemudian menjadi bagian dari inspirasi saya dalam berkarya.
NN : Bapak telah memiliki karier seni yang panjang, mulai dari dekade 1980-1990-an. Apa yang menjadi awal mula aktivitas seni Bapak dan bagaimana perkembangannya hingga saat ini?
J : Aktivitas saya dimulai pada dekade 1980-1990-an, ketika saya bersama kelompok pelukis Sulut menyelenggarakan Pameran Lukisan Keliling di seluruh Sulawesi Utara. Tahun 1990 menjadi tahun penting dengan tiga pameran: Pameran Empat Pelukis Sulawesi Utara di Balai Budaya Jakarta, pameran tunggal di Bitung dan Manado, serta pameran sketsa berdua dengan Berty Sulangi di Balai Wartawan Manado.
Pada tahun 1999 saya mengikuti Makasar Art Forum (MAF) di Makasar, kemudian tahun 2000-2004 ikut Pameran Lukisan "Bhineka Warna" bersama seniman nasional di Sonny Art Galery Manado. Periode 2005-2015 saya tidak dapat melukis karena kesibukan tugas kemasyarakatan. Saya kembali aktif pada tahun 2016 dengan mengikuti Pameran Besar Seni Rupa IV Epicentrum di Taman Budaya Manado.
Tahun 2017 saya gelar pameran tunggal "Semilir Angin Utara" di Desa Tambun, ikut pameran di Ambon dan Hotel Aston Manado. Tahun 2018 saya lakukan tiga pameran: berdua dengan Fadjir Sahante di Jakarta dan Desa Wisata Tarabitan, serta pameran "Torang 19" di Hotel Sintesa Peninsula Manado dan Manado Town Square. Tahun 2019 saya ikut pameran "DO ART" di Dinas Kebudayaan Sulut, tahun 2020 mengikuti pameran daring "Arus Timur" di Galeri Nasional Indonesia, dan tahun 2021 ikut pameran "Ee Dodo Ee" serta "Echo From North Sulawesi" di Sulut. Tahun 2024 saya mengikuti Pameran Lukisan pada Likupang Tourism Festival di Kompleks Hotel Paradise Likupang.
NN : Satu karya lukis Bapak yang berjudul "Merajut Cinta Menjalin Kasih". Apa yang menjadi inspirasi utama Bapak dalam menciptakan karya ini?
J : Inspirasi utama berasal dari pengamatan saya terhadap hubungan antarmanusia, terutama dalam keluarga dan komunitas. Saya melihat bagaimana cinta dan kasih dapat menjadi dasar untuk membangun hubungan yang kuat. Pengalaman saya sebagai Hukum Tua Desa Tambun juga turut memberikan pemahaman tentang pentingnya rasa saling memiliki dan berbagi dalam kehidupan bersama.
NN : Judul karya ini sangat menarik, "Merajut Cinta Menjalin Kasih". Mengapa Bapak memilih kata "merajut" dan "menjalin" untuk menggambarkan cinta dan kasih?
J : Kata "merajut" dan "menjalin" dipilih karena kedua kata menggambarkan proses yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan kerja sama. Sama seperti merajut kain atau menjalin tali, cinta dan kasih tidak terbentuk dalam sekejap. Kedua hal dibangun secara bertahap melalui tindakan nyata, saling memberi, dan menghargai satu sama lain. Proses ini juga menunjukkan bahwa hubungan yang dibangun dengan cinta dan kasih akan memiliki kekuatan yang tahan lama.
NN : Karya ini menggunakan media acrylic on canvas. Apakah ada alasan khusus Bapak memilih media ini untuk menyampaikan pesan dari karya "Merajut Cinta Menjalin Kasih"?
J : Saya memilih acrylic karena media ini memungkinkan saya untuk menciptakan lapisan warna yang kaya dan tekstur yang beragam. Sifat acrylic yang cepat kering juga memungkinkan saya untuk bekerja dengan lebih fleksibel dan mengatur komposisi sesuai dengan visi yang saya miliki.
Kanvas sebagai dasar memberikan kekuatan dan daya tahan yang baik, sehingga karya dapat bertahan lama dan tetap mempertahankan keindahan warnanya, hal ini juga menjadi simbol dari kekuatan cinta dan kasih yang tidak mudah pudar.
NN : Berdasarkan deskripsi karya ini, cinta diartikan sebagai perasaan saling memiliki dengan satu kesadaran hidup. Bagaimana Bapak menggambarkan konsep "satu kesadaran hidup" tersebut melalui bentuk dan warna dalam lukisan ini?
J : Dalam karya ini, saya menggunakan bentuk-bentuk yang saling terhubung dan tidak memiliki batasan yang jelas, menggambarkan bagaimana setiap individu dalam hubungan dapat memiliki kesadaran yang sama terhadap tujuan dan nilai bersama.
Untuk warna, saya memilih palet warna yang saling melengkapi, warna hangat untuk menggambarkan kehangatan cinta dan warna dingin untuk menunjukkan kedalaman kasih. Garis-garis yang menghubungkan setiap bagian lukisan juga menjadi representasi dari tali hubungan yang tidak terputus.
NN : Dalam makna karya tersebut juga memberikan pelajaran tentang arti kasih tanpa pamrih.
Bagaimana pesan ini relevan dengan kondisi masyarakat saat ini dan apa yang ingin Bapak sampaikan kepada penikmat seni melalui karya ini?
J : Di masa sekarang, banyak orang yang melihat hubungan berdasarkan apa yang bisa mereka dapatkan, bukan apa yang bisa mereka berikan. Melalui karya ini, saya ingin menyampaikan bahwa kasih yang sesungguhnya tidak mengharapkan imbalan apapun. Pesan utama saya adalah bahwa ketika kita mampu memberi tanpa pamrih, kita akan merasakan kebahagiaan yang lebih luas dan hubungan yang lebih erat dengan orang lain. Hal ini juga menjadi dasar untuk membangun komunitas yang solid dan penuh rasa saling peduli.
NN : Seiring dengan karya ini dan seluruh perjalanan karier Bapak, bagaimana Bapak melihat peran seni rupa dalam menyampaikan pesan-pesan tentang nilai-nilai kehidupan seperti cinta dan kasih kepada masyarakat luas?
J : Seni rupa memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan dengan cara yang visual dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Melalui bentuk dan warna, seni dapat menyentuh perasaan dan pikiran penikmatnya tanpa menggunakan kata-kata yang panjang lebar.
Saya percaya bahwa seni rupa dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya nilai-nilai dasar seperti cinta dan kasih, serta menginspirasi mereka untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, karya seni juga dapat menjadi titik awal untuk melakukan diskusi tentang bagaimana kita dapat membangun dunia yang lebih baik dengan nilai-nilai tersebut.
**
John Willem Semuel lahir di Gangga pada 30 Desember 1959, kemudian menempuh pendidikan hingga meraih gelar Sarjana Pendidikan Seni Rupa dari FPBS IKIP Negeri Manado pada tahun 1987.
Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Komunitas Seni TORANG Sulawesi Utara, sebuah wadah yang ia pimpin untuk mengembangkan seni dan budaya daerah. Selain berkiprah di dunia seni, John juga memiliki pengalaman penting dalam urusan kemasyarakatan; ia menjabat sebagai Hukum Tua Desa Tambun periode 2008 hingga 2014, serta menjabat sebagai Penjabat Hukum Tua Desa Tambun pada tahun 2015. Pengalaman ini tidak hanya memperdalam pemahamannya tentang kehidupan masyarakat, tetapi juga menjadi sumber inspirasi utama dalam setiap karyanya.
Karier profesional John dimulai sejak dekade 1980 hingga 1990-an, ketika ia bersama kelompok pelukis Sulut menyelenggarakan Pameran Lukisan Keliling yang menjangkau berbagai daerah di Sulawesi Utara. Tahun 1990 menjadi tonggak penting dalam kariernya dengan tiga pameran besar: Pameran Empat Pelukis Sulawesi Utara di Balai Budaya Jakarta, pameran tunggal di Kota Bitung dan Manado, serta pameran sketsa berdua bersama Berty Sulangi di Balai Wartawan Manado. Pada tahun 1999, ia berpartisipasi dalam kegiatan Makasar Art Forum (MAF) di Makasar, kemudian dari tahun 2000 hingga 2004 mengikuti Pameran Lukisan "Bhineka Warna" bersama seniman nasional di Sonny Art Galery Manado.
Periode 2005 hingga 2015 menjadi masa di mana ia harus menjeda aktivitas melukis karena kesibukan tugas di bidang pemerintahan dan kemasyarakatan, namun ia kembali aktif pada tahun 2016 dengan mengikuti Pameran Besar Seni Rupa IV Epicentrum di Taman Budaya Manado. Tahun 2017 ia menyelenggarakan pameran tunggal bertajuk "Semilir Angin Utara" di Desa Tambun Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara, sekaligus mengikuti Pameran Besar Seni Rupa V Huele di Ambon dan Pameran Bersama Pelukis Sulut di Hotel Aston Manado.
Tahun 2018 ia melakukan tiga kegiatan pameran penting: pameran berdua bersama Fadjir Sahante bertajuk #2 Minahasa Menembus Batas di Balai Budaya Jakarta, pameran berdua "Semilir Angin Utara 2" di Desa Wisata Tarabitan, serta pameran seni rupa "Torang 19" di Hotel Sintesa Peninsula Manado dan Manado Town Square (Mantos). 2019 ia mengikuti Pameran "DO ART" di Dinas Kebudayaan Propinsi Sulawesi Utara, kemudian pada 2020 berpartisipasi dalam Pameran Daring Komunitas Seni TORANG Sulawesi Utara "Arus Timur" di Galeri Nasional Indonesia. Di 2021, ia kembali mengikuti dua pameran di Sulawesi Utara yaitu Pameran "Ee Dodo Ee" dan Pameran "Echo From North Sulawesi", keduanya diadakan di Dinas Kebudayaan Propinsi Sulawesi Utara. Lalu di 2024 ia terus menunjukkan dedikasinya dengan mengikuti Pameran Lukisan pada Likupang Tourism Festival (LTF) di Kompleks Hotel Paradise Likupang, membuktikan bahwa karya seni dari Sulawesi Utara memiliki nilai dan daya tarik yang patut diperhatikan.
Jakarta - Sulawesi Utara, 10 Januari 2026
NARASINETWORK.COM x Wawancara Tokoh : John Semuel's Weaving Love, Binding Affection' Life Values in Colour and Form