NARASINETWORK.COM - BUKITTINGGI, Menara Jam Gadang berdiri kokoh di pusat Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatra Barat. Bangunan ini memiliki tinggi 26 meter dengan ukuran dasar 13 meter kali 4 meter. Catatan sejarah mencatat pembangunannya selesai secara resmi pada 20 Juni 1926.
"Selama satu abad berdiri di pusat Sumatra Barat, Jam Gadang menjadi bukti bahwa bangunan yang kokoh lahir dari jejak sejarah yang panjang."
Sebagai penanda usia seabad, bangunan ini menjadi saksi perjalanan waktu di kawasan tersebut. Awalnya, menara ini merupakan hadiah dari Ratu Wilhelmina dari Kerajaan Belanda untuk Sekretaris Kota Fort de Kock saat itu, HR Rookmaaker. Rancangan bangunan dibuat oleh arsitek lokal bernama Yazid Rajo Mangkuto, dengan pengawasan teknis dari dinas pekerjaan umum pemerintahan kolonial.
Biaya pembangunan mencapai tiga ribu Gulden, nilai yang dianggap besar pada masa itu. Upacara peletakan batu pertama dilakukan oleh putra bungsu HR Rookmaaker yang berusia empat tahun. Seluruh proses pengerjaan konstruksi diserahkan kepada tenaga kerja lokal di bawah bimbingan arsitek tersebut. Sejak awal pendiriannya, bangunan ini berfungsi sebagai penanda pusat pemerintahan sekaligus acuan arah bagi siapa saja yang datang ke kota ini.
"Lebih dari sekadar ikon wisata, Jam Gadang berfungsi sebagai penanda ruang, pusat pertemuan, dan pengingat masa lalu bagi generasi kini."
Di tengah masyarakat berkembang kisah bahwa dinding menara dibangun menggunakan campuran jutaan butir putih telur, kapur, dan pasir sebagai perekat. Anggapan ini muncul karena permukaan dindingnya tampak halus dan seragam. Hasil penelitian teknis menunjukkan bahwa bangunan sesungguhnya menggunakan struktur beton bertulang. Bahan baku utamanya diperoleh dari pabrik semen pertama di Indarung, Padang, yang telah beroperasi sejak tahun 1910.
Komponen utama penggerak jam didatangkan langsung dari pabrik Vortmann Relinghausen di Recklinghausen, Jerman. Mesin mekanik tersebut diproduksi hanya dalam dua unit di dunia. Satu terpasang di Bukittinggi, sedangkan unit lainnya terpasang pada Menara Big Ben di London, Inggris. Cara kerjanya mengandalkan gaya berat pada bandul, sehingga petugas harus memutarnya secara berkala agar jarum jam tetap bergerak.
Bagian puncak bangunan telah mengalami tiga kali perubahan bentuk mengikuti pergantian kekuasaan. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, atapnya berbentuk kubah bulat bergaya Eropa yang dilengkapi patung ayam sebagai penunjuk arah. Saat pendudukan Jepang, bentuknya diubah menyerupai atap kuil Shinto. Setelah Indonesia merdeka, atapnya diganti menyerupai gonjong khas Rumah Gadang hingga saat ini.
Ciri lain yang menarik perhatian terdapat pada penulisan angka empat pada keempat sisi permukaan jam. Angka tersebut ditulis dalam bentuk empat garis lurus, bukan lambang standar. Penulisan ini dipilih agar tampilannya seimbang dengan angka delapan di sisi berlawanan dan mudah dilihat dari jarak jauh. Kawasan sekitarnya kini disusun menjadi taman terbuka yang sering dikunjungi wisatawan, baik untuk beristirahat maupun mengabadikan momen.
