Indonesia Siap Hadapi Revalidasi UGGp Kemenpar Tekankan Pentingnya Sinergi

Selasa, 10 Mar 2026 20:20
Kementerian Pariwisata mendorong pengelola geopark dan pemangku kepentingan mempersiapkan revalidasi UNESCO Global Geopark serta validasi Aspiring UGGp tahun 2026. Istimewa

NARASINETWORK.COM - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong pengelola geopark dan pemangku kepentingan untuk mempersiapkan berbagai aspek dalam proses revalidasi Geopark Indonesia oleh UNESCO Global Geopark (UGGp) yang akan dilaksanakan segera.

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan dalam keterangan di Jakarta, Jumat (6/3/2026), bahwa proses revalidasi UGGp dan validasi Aspiring UGGp tahun 2026 merupakan momentum penting bagi Indonesia. Geopark di Indonesia bukan hanya destinasi pariwisata, melainkan ekosistem yang menyatukan berbagai dimensi pembangunan.

"Geopark merupakan ekosistem yang saling terkait dan menjaga keseimbangan antara konservasi, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan pariwisata yang bertanggung jawab," ujar Widiyanti.

Menpar menjelaskan geopark memiliki tiga peran utama bagi pengembangan sektor pariwisata nasional. Pertama, sebagai destinasi wisata berbasis alam dan ilmu pengetahuan. Kedua, sebagai pendorong ekonomi masyarakat lokal. Ketiga, sebagai model pengembangan pariwisata yang mengintegrasikan pelestarian alam dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

"Pengembangan geopark sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pariwisata dalam membangun destinasi yang berkualitas dan berdaya saing global," jelas Widiyanti.

Oleh karena itu, Menpar mendorong pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait untuk mempersiapkan proses revalidasi UGGp dan validasi Aspiring UGGp tahun 2026 dengan sebaik-baiknya. Upaya ini sejalan dengan arah pembangunan pariwisata nasional sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 yang menegaskan pentingnya pengembangan pariwisata berkualitas.

Menurut Widiyanti, status UNESCO Global Geopark bukan sekadar simbol atau pengakuan internasional. Status tersebut mencerminkan komitmen Indonesia dalam mengelola warisan geologi, budaya, dan keanekaragaman hayati, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan geopark.

Proses revalidasi harus dijadikan sebagai evaluasi terhadap kualitas tata kelola, efektivitas program, serta sinergi lintas sektor yang telah dibangun.

"Geopark menjadi pilar penting dalam diversifikasi atraksi pariwisata. Bappenas menargetkan Indonesia memiliki 17 UNESCO Global Geopark pada 2029, dan sektor pariwisata akan menjadi pendorong utama pemanfaatannya," ucap Widiyanti.

Dalam rangka persiapan, Kementerian Pariwisata telah menggelar rapat koordinasi persiapan Revalidasi UGGp dan Validasi Aspiring UGGp secara daring pada Kamis (5/3/2026). Rapat tersebut bertujuan menyatukan visi dan langkah strategis antar pemangku kepentingan, termasuk pembagian peran yang jelas serta penyusunan lini masa kerja yang dapat diukur.

Widiyanti menekankan bahwa seluruh proses persiapan perlu dilaksanakan secara terencana dan kolaboratif dengan komitmen penuh dari seluruh perangkat daerah dan pemangku kepentingan.

Dengan kerja sama yang erat, diharapkan proses revalidasi dan validasi geopark tahun ini dapat berjalan dengan baik, sekaligus mempertahankan status green card bagi geopark yang telah diakui UNESCO serta mendorong geopark dalam tahap pengajuan untuk memperoleh pengakuan global.

"Melalui kerja sama yang solid, kami optimis dapat mempertahankan status green card bagi geopark yang telah terdaftar serta mendorong aspiring geopark Bojonegoro dan Ranah Minang Silokek untuk memperoleh pengakuan sebagai bagian dari UNESCO Global Geoparks tahun ini," pungkas Menteri Widiyanti.

Berita Terkini