NARASINETWORK.COM - Sumala adalah film horor supranatural thriller Indonesia tahun 2024 yang diproduksi oleh Hitmaker Studios dan disutradarai oleh Rizal Mantovani. Dibintangi oleh Luna Maya, Darius Sinathrya, dan Makayla Rose, cerita film ini berdasarkan legenda yang diklaim sebagai kisah nyata dari desa terpencil Kabupaten Semarang pada tahun 1940-an.
Sebelum diangkat ke layar lebar, kisah ini telah dinarasikan oleh Bang Betz Illustration melalui kanal YouTube dan utas X miliknya. Film dirilis di Indonesia pada tanggal 26 September 2024 dan di Malaysia pada tanggal 7 November 2024, dengan durasi total 113 menit. Selain berperan sebagai hiburan dalam kategori genre horor, film ini menyampaikan berbagai pesan yang mendasar dan menyentuh berbagai aspek realitas sosial yang masih terjadi di masyarakat kita hingga saat ini.
"Kesempurnaan bukanlah standar yang harus kita tuntut dari setiap manusia. Setiap ciptaan memiliki makna dan tempatnya sendiri, hanya jika kita mau melihat dengan hati yang terbuka."
Dalam konteks pernikahan tradisional dan budaya yang berkembang di banyak daerah Indonesia, perempuan seringkali ditempatkan pada posisi persimpangan ketika harus memenuhi harapan bersama untuk menghadirkan keturunan.
Tekanan datang dari berbagai pihak yang memiliki hubungan dengan pasangan tersebut, mulai dari pasangan sendiri, keluarga besar dari kedua pihak, hingga lingkungan masyarakat sekitar yang umumnya menganggap keberadaan anak sebagai syarat utama untuk kelangsungan sebuah ikatan pernikahan. Seperti yang terjadi pada karakter utama Sulastri dalam film, ia merasakan beban yang luar biasa setelah menjalani hidup berumah tangga selama 11 tahun tanpa memiliki buah hati.
Tekanan tersebut tidak hanya berhenti pada tuntutan semata-mata untuk hamil dan memiliki anak. Di samping itu, tekanan juga dibarengi dengan harapan yang seringkali tinggi akan kesempurnaan bentuk fisik jabang bayi yang akan lahir ke dunia.
Masyarakat kerap menetapkan standar tertentu tentang bagaimana seorang anak seharusnya lahir, seolah-olah bentuk fisik yang dianggap "sempurna" menjadi ukuran utama dari keberhasilan seorang perempuan dalam menjalankan peran sebagai ibu.
Kondisi ini menjadikan perempuan sebagai pihak yang paling terpengaruh dan menerima beban penuh ketika harapan tersebut tidak dapat tercapai sesuai dengan apa yang diinginkan oleh semua pihak.
Ketika seorang perempuan melahirkan anak dengan kondisi ketidaksempurnaan fisik atau memiliki kelainan bawaan, ia seringkali menjadi sasaran utama kesalahan dari lingkungan sekitarnya. Seperti yang terlihat jelas pada karakter Kumala dalam film, kelahirannya dengan kondisi cacat membuat ibunya, Sulastri, dianggap oleh masyarakat desa sebagai orang yang tidak mampu memberikan keturunan yang layak dan sesuai dengan harapan.
Padahal, kondisi fisik anak yang lahir ke dunia bukanlah hal yang dapat dikendalikan sepenuhnya oleh siapa pun, termasuk sang ibu yang telah menjalani proses kehamilan dengan penuh usaha dan harapan.
Di sisi lain, jika seorang perempuan sama sekali tidak bisa mengalami kehamilan dan memiliki anak setelah menjalani waktu yang cukup lama dalam pernikahannya, ia akan menerima perlakuan yang tidak adil dan terkadang sangat menyakitkan hati. Perlakuan semacam itu datang seperti batu yang dilemparkan dari segala penjuru kehidupan mereka.
Kritik yang tajam dan tuduhan yang tidak berdasar datang dari mana saja, seolah-olah ketidakmampuan untuk memiliki anak adalah kesalahan yang sepenuhnya terletak pada diri perempuan tersebut sendiri.
Hal ini menunjukkan bagaimana perempuan seringkali diperlakukan sebagai pihak yang bertanggung jawab mutlak atas kelangsungan garis keturunan keluarga, tanpa memperhatikan faktor-faktor lain yang mungkin menjadi penyebab dari ketidakmampuan tersebut, seperti faktor kesehatan pada pasangan pria, kondisi lingkungan, atau faktor medis lainnya yang tidak dapat dikontrol dengan mudah.
Film Sumala juga dengan kuat mengangkat masalah tentang kurangnya empati dan penerimaan yang luas terhadap penyandang disabilitas di dalam masyarakat. Selama masa hidupnya di desa tersebut, karakter Kumala harus menghadapi berbagai bentuk cemoohan dan perlakuan yang kejam dari orang-orang di sekitarnya.
Kondisi fisiknya yang cacat tidak hanya dilihat sebagai kondisi alami yang terjadi pada dirinya, melainkan juga menjadi bahan lelucon dan ejekan bagi banyak orang. Bahkan, ia dianggap sebagai pembawa sial bagi keluarga serta seluruh desa tempat ia tinggal.
Banyak orang tidak menyadari bahwa setiap individu, tanpa memandang kondisi fisik atau kemampuan yang dimilikinya, memiliki martabat dan nilai yang sama di hadapan hukum dan Tuhan yang menciptakan semua makhluk. Kita seringkali terbiasa menilai orang lain hanya berdasarkan kekurangan yang terlihat secara kasat mata, tanpa pernah berpikir bahwa roda kehidupan tidak akan selalu berpihak pada siapa pun.
Siapa pun di antara kita bisa saja menghadapi kondisi yang tidak diinginkan atau mengalami perubahan dalam diri kita di masa depan. Kesempurnaan yang kita idam-idamkan dan jadikan sebagai standar penilaian bukanlah milik manusia yang terbatas, melainkan hanya milik Sang Hyang Utama, Esa yang satu dan tunggal. Setiap bentuk ciptaan yang ada di alam semesta adalah bagian dari rancangan yang luas dan mendalam, dan tidak ada satupun makhluk yang dapat dianggap sempurna selain Dia yang telah menciptakan segala sesuatu.
Selain pesan-pesan sosial yang kuat yang diangkat dalam berbagai bagian cerita, film ini juga secara jelas menunjukkan konsekuensi dari tindakan yang dilakukan tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Perjanjian yang dibuat Sulastri dengan kekuatan gaib untuk mendapatkan anak yang diidam-idamkannya, serta tindakan Soedjiman yang secara semena-mena membunuh Sumala dan kemudian menyalahkan Kumala atas peristiwa tersebut, membawa malapetaka yang sangat besar bagi seluruh desa dan semua orang yang tinggal di dalamnya. Teror yang dilakukan oleh sosok Sumala setelah kematiannya menjadi simbol yang kuat tentang bagaimana kesalahan yang tidak diperbaiki dan perlakuan yang tidak adil terhadap orang lain akan kembali menghantui pelakunya serta orang-orang di sekitarnya.
Hal ini mengingatkan kita bahwa setiap tindakan yang kita lakukan memiliki dampak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sikap yang tidak bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain akan membawa akibat yang tidak diinginkan dan bisa saja merusak kehidupan banyak orang.
Kita perlu belajar untuk selalu bertindak dengan hati nurani yang jernih dan menghargai setiap individu apa adanya, tanpa harus membuat tuntutan atau harapan yang tidak masuk akal serta melakukan tindakan yang dapat menyakiti orang lain.
**
Film Sumala merupakan produksi Indonesia yang disutradarai oleh Rizal Mantovani, dengan Rocky Soraya sebagai produser dan skenario yang dibuat oleh Riheam Junianti. Cerita film ini berdasarkan karya Sumala oleh Bang Betz Illustration. Dibintangi oleh Luna Maya, Darius Sinathrya, dan Makayla Rose, film ini diproduksi oleh Hitmaker Studios. Dirilis di Indonesia pada tanggal 26 September 2024 dan di Malaysia pada tanggal 7 November 2024, durasi film mencapai 113 menit. Film berbahasa Indonesia dan menghadirkan kisah yang mengangkat berbagai isu sosial dalam genre horor supranatural.
